Pemasaran Hybrid Lambungkan Kopi Kenangan

Edward Tirtanata dan James Prananto

Edward Tirtanata dan James Prananto pada Agustus 2017 mendirikan Kopi Kenangan sebagai kedai kopi berkonsep grab and go. Kopi Kenangan diklaim sebagai perusahaan kopi nonwaralaba dengan laju pertumbuhan tercepat di Indonesia. Penjualannya pada Oktober 2018 sekitar 200 ribu cup dari 16 gerai. Harganya, Rp 18 ribu-22 ribu per cup. Merujuk total penjualan dan harga terendah sebesar Rp 18 ribu, maka omset total Kopi Kenangan di Oktober lalu senilai Rp 4 miliar.

Kami menargetkan penjualan di kuartal II/2019 mencapai 1 juta cup per bulan. Growth-nya itu nggak cuma dari cabang yang baru buka, tapi juga dari cabang yang sudah beroperasi untuk ditingkatkan penjualannya dengan strategi penjualan offline dan online,” tutur Edward, Co-Founder Kopi Kenangan. Konsumen bisa membeli Kopi Kenangan melalui aplikasi Go-Jek (Go-Food) dan Grab (Grab Food). “Kopi Kenangan sudah top five di Go-Food. Nah dengan konsep hybrid ini, kami lebih diuntungkan karena nggak perlu berburu lokasi premium untuk menjangkau pembeli,” tambahnya.

Tak hanya penjualan, jumlah gerainya juga melonjak lantaran Edward dan James memutuskan strategi ekspansi yang super agresif dalam memperbanyak gerai. Jumlahnya pada November 2018 sebanyak 20 unit. Rencananya, gerainya ditargetkan bertambah 10 unit atau menjadi 30 unit di akhir tahun ini. “Kemudian, di Maret 2019 jumlahnya ditargetkan naik menjadi 53 outlet,” ujar Edward. James menambahkan, keseluruhan cabang gerai saat ini dikelola sendiri dan mempekerjakan 150 orang. “Kami berprinsip bisnis ini tidak akan diwaralabakan. Kami mau operate sendiri sehingga kualitasnya terjaga,” James menegaskan.

Rata-rata jumlah gerai yang dibuka berkisar 3-5 setiap bulan. Dua sahabat itu tidak kesulitan menjaga standar operasional dan kualitas menu. Menurut Edward, hal itu karena timnya memiliki standard operational procedure dan konsep gerai yang mudah direduplikasi. Laju penambahan gerai pun berjalan mulus. Hal itu disokong oleh aliran dana segar dari perusahaan modal ventura. Alpha JWC Ventures, misalnya, memberikan pendanaan tahap awal (seed funding) sebesar US$ 8 juta (sekitar Rp 120 miliar) pada Oktober tahun ini. Dana segar ini rencananya akan digunakan untuk membuka toko baru, mengembangkan produk baru, serta membuat aplikasi mobile Kopi Kenangan.

Bagi Edward, Kopi Kenangan merupakan bisnis kuliner yang kedua dalam portofolio bisnisnya. Sebelumnya, di tahun 2015 dia mendirikan kedai teh premium Louis & Carol. “Kami mengekspor tehnya ke Dubai. Kedai teh premium nggak bisa ekspansi dengan cepat. Akhirnya, saya ketemu James, kami lalu berpikir untuk membikin kedai kopi. Kan belakangan ini kedai kopi lagi ramai, tapi kami melihat masih sedikit kedai kopi berkonsep take away di mal, seperti konsepnya Chatime,” ungkapnya.

Konsep ini mendapat sambutan hangat dari konsumen. Sebab, jumlah gelas kopi yang dibawa konsumen (take away) berkisar 800-1.000 cup/hari di gerai Kopi Kenangan yang pertama dibuka, yang menempati area seluas 100 m2 di gedung perkantoran Mayapada Tower, Jakarta. Hal itu kian memotivasi Edward dan James untuk membuka gerai di dua pusat perbelanjaan Jakarta yang jaraknya berdekatan, yakni di Setiabudi One dan Kota Kasablanka.. “Meski posisinya berada di satu jalan yang sama, antar-outlet itu nggak saling kanibal, malah omsetnya naik. Maka, dari situ kami merasa optimistis brand ini bisa dikembangkan,” tutur Edward.

Kopi Kenangan” dipilih sebagai nama merek karena mengandung muatan lokal dan sebagai strategi diferensiasi agar berbeda dibandingkan kedai kopi lokal yang nama mereknya berbau asing. “Kenangan ini kan nggak cuma buat orang tua, tapi juga buat anak-anak muda dan anak-anak. Nantinya kami mau menambahkan menu minuman buat anak-anak yang non-coffee,” kata Edward.

Keseluruhan bahan baku --kopi, gula aren, susu-- berasal dari dalam negeri. James mencontohkan, susu didatangkan dari peternak sapi di Malang yang kualitasnya terkenal dan memasok ke produsen susu Greenfield (diekspor oleh Greenfield Indonesia). Gula arennya dipasok langsung dari petani. Untuk pemasaran, ”Biaya pemasaran hampir spend zero on marketing budget karena pemasaran di platform digital. Yang terjadi adalah customer kami memviralkan Kopi Kenangan yang diunggah di media sosial, itu free marketing,” ungkapnya.

Pemasaran getok tular (word of mouth marketing) di media sosial sangat ampuh meningkatkan citra merek Kopi Kenangan yang menyajikan 20 varian minuman. Edward dan James menginginkan Kopi Kenangan pada 2022 melaksanakan penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia. “Kami targetkan jumlah outlet di tahun 2021 mencapai 600 unit untuk persiapan IPO pada 2022,” kata Edward. (*)

Arie Liliyah & Vicky Rachman

Riset: Elsi Anismar

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)