Penjualan Keramik Ditargetkan Capai Rp 36 Triliun

Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) membidik penjualan keramik di tahun ini menjadi Rp 36 tiliun. Target itu lebih tinggi dibandingkan penjualan di tahun 2013 yang mencapai Rp 32 triliun. ASAKI berharap pertumbuhan pertumbuhan industri keramik didukung oleh program stimulus dan proteksi dari pemerintah agar daya saing industri keramik nasional semakin meningkat untuk menyongsong MEA 2015.

Elisa Sinaga, Ketua Umum ASAKI, mengatakan target penjualan di tahun ini tergolong moderat, meski permintaan keramik akan didorong oleh pertumbuhan dari sektor properti dan konstruksi. “Kami targetkan penjualan keramik di tahun ini bisa mencapai Rp 36 triliun, setidaknya penjualan bisa naik walau produksi keramik nasional sedang mengaalami over supply dibandingkan permintaan,” kata Ketua Umum ASAKI, Elisa Sinaga kepada SWA Online, Selasa (3/2/2015).

Elisa menambahkan saat ini produksi keramik kelebihan pasokan. Produksi keramik nasional diproduksi oleh 70 produsen keramik yang tercatat di ASAKI. “Kita kelebihan produksi karena dalam dua tahun terakhir ini pabrik-pabrik baru mulai beroperasi. Pada saat itu, produsen melakukan investasi untuk memenuhi permintaan keramik dari industri properti yang kala itu tumbuh pesat,” jelasnya.

Sejumlah Produk Keramik. (Foto : Hendra Syaukani/SWA). Sejumlah Produk Keramik. (Foto : Hendra Syaukani/SWA).

Lalu, properti mengalami penurunan dan pada saat yang bersamaan permintaan keramik juga seperti demikian.Elisa merincikan kapasitas produksi keramik domestik sebanyak 550 juta meter per segi dalam setahun. Sedangkan, kebutuhan pasar domestik mencapai 490 juta-500 juta meter persegi per tahun.

Melubernya impor keramik dinilai Elisa menambah pasokan. Elisa menjelaskan volume keramik impor mencapai 15% dari total kebutuhan nasional. “Akibatnya, pasokan keramik berlimpah di pasaran dan bahkan sejumlah produsen harus menumpuknya di gudang,” tuturnya.

Proteksi

Untuk itu, ASAKI mengusulkan Kementerian Perindustrian membatasi atau mengawasi keramik impor. Saat ini, pintu masuk keramik impor melalui 70 pelabuhan yang tersebar di sejumlah daerah. Elisa menginginkan pemerintah membatasi pintu masuk untuk keramik impor di masa mendatang. Tujuannya agar kualitas keramik impor sesuai SNI dan mengendalikan pasar.

Elisa mengatakan pihaknya belum menentukan titik pelabuhan yang akan menjadi pintu masuk bagi keramik impor. Bongkar muat keramik impor seringnya dilakukan di Jakarta dan Surabaya. Mayoritas pasar keramik terdapat di Pulau Jawa. Makanya tak heran, importir keramik menjadikan pelabuhan di kedua kota tersebut sebagai lokasi bongkar muat. “Kami belum mengusulkan lokasi dari pelabuhan khusus impor keramik.Usulan kami harus dikaji terlebih dahulu oleh Kementerian Perindustrian,” ucap Elisa seraya menyebutkan ASAKI sudah bertemu dengan Menteri Perindustrian, Saleh Husin pada Senin kemarin.

Elisa berpendapat pengawasan standar keramik impor juga harus diiringi oleh subsidi energi. ASAKI mengusulkan pemangkasan biaya energi (gas dan listrik) agar biaya operasional produsen keramik menjadi lebih efisien.

Langkah efisiensi dinyakini ASAKI akan meningkatkan daya saing keramik domestik untuk bersaing dengan produsen sejenis di era Pasar Tunggal ASEAN. Biaya energi mencapai 40% dari total biaya produksi. Harga gas untuk sektor manufaktur di dalam negeri lebih tinggi dibandingkan Singapura dan Malaysia. “Kami membutuhkan stimulus untuk meningkatkan daya saing industri keramik nasional,” pungkasnya. (***)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)