Penjualan Trisula Capai Rp 553,3 Miliar, Pasar Ekspor Sokong 78%

Kendati iklim bisnis kurang bergairah di tahun 2014, namun PT Trisula International Tbk (TRIS) selama sembilan bulan pertama tahun ini berhasil meningkatkan penjualan bersih 12% dari Rp495,3 miliar menjadi Rp553,3 miliar dibandingkan penjualan bersih selama sembilan bulan tahun 2013 sebesar Rp 495,3 miliar. Pasar ekspor masih mendominasi 78% dari total penjualan perseroan.

Trisula

"Kontribusi penjualan pasar dalam negeri sekitar 22%, sedangkan ekspor mencapair 78 persen dari total penjualan kuartal III-2014 senilai Rp 430,8 miliar," kata Corporate Secretary PT Trisula International Tbk, Marcus Brotoatmodjo, usai paparan publik (5/12). Dengan demikian penjualan ritel kontribusinya 22% senilai Rp 122,5 miliar, atau naik 16% dibandingkan tahun 2013. Dari pertumbuhan penjualan bersih, segmen eceran domestik mengalami organic growth sebesar 25%, sedangkan pasar penjualan ekspor mengalami peningkatan sebesar 6%.

Kendati penjualan bersih naik, namun laba komprehensif Trisula terhadap entitas induk mengalami penurunan dari Rp 21 miliar menjadi Rp 16 miliar. Penurunan itu dipicu oleh beberapa faktor, seperti kurang bergairahnya pasar global yang di bawah ekspektasi; kenaikan upah karywan yang cukup tinggi di wilayah Bandung yakni sekitar 25%; kondisi politik dalam negeri yang kurang kondusif sehubungan dengan pemilihan legislatif dan pemilihan presiden yang berkepanjangan juga menekan laba perseroan.

Tidak hanya itu penyebabnya. “Faktor lain karena terjadi selisih penghasilan akibat valuta asing di mana pada tahun 2013 perseroan mengalami keuntungan valuta asing sekitar Rp 5 miliar, tapi tahun 2014 di periode yang sama sebaliknya mengalami kerugian akibat valuta asing sekitar Rp 2 miliar,” jelas Marcus lagi. Juga, kenaikan biaya operasional sebagai dampak dari kenaikan upah karyawan itu sendiri. Selain itu disebabkan oleh investasi yang berlanjut dengan penambahan titik titik penjualan di pasar domestik yang masih belum mencapai target penjualan yang diharapkan.

Walaupun tahun ini kondisi dunia bisnis kurang bersahabat, tapi tahun 2015 manajemen Trisula optimistis. Itulah sebabnya, Marcus memperkirakan penjualan hingga akhir 2014 akan berada di kisaran 94 persen dari target sebelumnya sekitar Rp 750 miliar. Jumlah itu mengalami pertumbuhan 12% dibandingkan pencapaian tahun lalu.

Agar target itu tercapai, beberapa langkah sudah diayunkan Trisula. Salah satunya strategi meningkatkan jumlah POS (point of selling) yang ada di kisaran 290-an akan di upayakan mencapai 300 di akhir tahun 2014 yaitu meningkat dari jumlah 276 di akhir 2013. Selain itu, meluncurkan penjualan melalui on line shopping untuk merek-merek yang dimiliki Trisula. Llau, merenovasi beberapa toko dengan menampilkan konsep baru untuk merek fashion JOBB.

Inovasi juga menjadi perhatian utama Trisula dalam meningkatkan performa penjualan. “Caranya, meningkatkan brand awareness dari produk-produk Trisula yang didukung aktivitas marketing communication di media sosial,” Marcus melanjutkan ucapannya.

Pengembangan teknologi juga dilakukan Trisula melalui “Seam Sealing” karena respons pasar internasional bagus.

Selain itu, perluasan pasar ekspor terus digalakkan. “Kami buka pasar baru di Selandia Baru dan angka penjualannya tumbuh pesat tahun 2014,” jelas Marcus lagi.

Kerja keras yang dilakukan Trisula membuahkan hasil. Sejumlah penghargaan diterima sebagai bentuk pengakuan atas tata kelola perusahaan yang baik antara lain Golden Bear Award for Excellence dan bertambahnya merek baru Hallmark yang akan mulai dipasarkan pada awal tahun 2015. Trisula mengawali debut bisnis perdagangan ritel pakaian jadi sejak tahun 1994. Lisensi merek pertama yang dipasarkan Trisula adalah JOBB, kini bertambah menjadi lima, yaitu Jack Nicklaus, UniAsia, ManClub, serta G2000. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)