Pertumbuhan Ekonomi Melambat, Permintaan CPO Lesu

Pertumbuhan ekonomi China dan India yang terus melambat pada tahun 2014 memengaruhi ekspor CPO ke dua negara tersebut. Selain itu, stok CPO di Indonesia dan Malaysia yang melimpah, penurunan harga minyak nabati lainnya,dan kebijakan dalam negeri sampai kebijakan-kebijakan negara tujuan ekspor ikut berperan dalam penurunan harga CPO di pasar global.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia

“Tren penurunan harga CPO pasar global diperkirakan terus berlanjut. Pada Dua pekan pertama Agustus ini harga CPO global kembali menurun, harga hanya bergerak di kisaran US$ 755 – 810 per metrik ton. GAPKI memperkirakan harga CPO hingga akhir Agustus akan cenderung bergerak turun di kisaran harga US$715 -US$ 750 per metrik ton,” ucap Fadhil Hasan, Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI).

Ekspor CPO ke China mengalami penurunan yang cukup signifkan yaitu sebesar 51 ribu ton (27%), dari 189 ribu ton menjadi 138 ribu ton. Padahal china merupakan negara tujuan ekspor CPO terbesar Indonesia. Penurunan ekspor ini terjadi selain karena pertumbuhan ekonomi yang melambat, juga karena sulitnya para pengusaha yang mencari pinjaman pada bulan lalu.

Seperti laporan Bank of China baru-baru ini, kredit bermasalah telah meningkat 17% dibandingkan tahun lalu. Meningkatnya kredit bermasalah telah menurunkan tingkat kepercayaan bank dalam mengucurkan pinjaman. Selain itu juga harga kedelai di pasar global yang juga turun, ikut andil dalam hal ini dimana diketahui kedelai adalah sumber minyak nabati utama sementara CPO hanyalah sebagai substitusi saja.

Penurunan ekspor yang cukup tajam juga tercatat ke Bangladesh yaitu 55% disusul Pakistan juga membukukan penurunan mencapai 14%. Dari sisi harga, harga rata-rata CPO di Rotterdam pada Juli 2014 bergerak di kisaran US$ 817 – US$ 872 per metrik dengan harga rata-rata US$ 843 per metrik ton. Harga rata-rata ini turun sekitar 1,5% dibandingkan dengan harga rata-rata bulan Juni US$ 856 per metrik ton. Harga rata-rata CPO di pasar global (Cif Rotterdam) tercatat terus tergerus mulai sejak April lalu berturut-turut sampai pada Juli 2014. (April turun 5%, Mei turun 1,7%, Juni turun 4,4% dan Juli ini turun 1,5%).

Di sisi lain, volume ekspor CPO dan turunannya pada Juli 2014 tercatat meningkat sekitar 55 ribu ton atau 3% dibandingkan dengan bulan lalu, dari 1,79 juta ton pada Juni menjadi 1,84 Juta ton pada Juli 2014. Kinerja ekspor CPO ini diluar ekspektasi mengingat pada akhir bulan Juli ada perayaan hari raya Idul Fitri, dimana pada tahun-tahun sebelumnya permintaan selalu naik secara signifikan demikian juga harga.

Tahun ini nasib CPO di pasar global tidak semujur tahun-tahun sebelumnya. Melimpahnya stok minyak nabati lain (soybeen, rapeseed dan bunga matahari) diikuti dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi negara pengimpor utama yaitu China dan India, ditambah lagi dengan harga minyak solar yang datar saja pada bulan Juli tidak mendorong substitusi solar oleh biodiesel sehingga produsen CPO harus menghadapi kenyataan pahit dimana permintaan pasar global melemah dan harga juga lesu.

Pada Juli ini, kenaikan ekspor CPO dan turunannya asal Indonesia ke negara tujuan ekspor yang merupakan pasar baru yang cukup berpotensial meskipun secara kuantitas belum banyak adalah negara-negara Afrika. Pada Juli ini, volume ekspor ke negara-negara Afrika tercatat meningkat 71% dibandingkan bulan lalu yaitu dari 102 ribu ton menjadi 175 ribu ton.

Kenaikan volume ekspor ini juga disusul oleh Amerika Serikat yang meningkatkan permintaan hampir 11 ribu ton (41%) dari 26,5 ribu ton menjadi 37,3 ribu ton pada Juli 2014. Hal yang sama juga diikuti oleh negara Uni Eropa yang membukukan kenaikan sekitar 11% dari 381 ribu ton pada Juni lalu menjadi 408 ribu ton pada Juli. India juga mencatatkan kenaikan meskipun tidak signifikan. Volume ekspor ke India pada Juli ini meningkat sekitar 3% dari 397 ribu ton di Juni menjadi 408 ribu ton di Juli 2014.

“Sementara itu, Harga Patokan Ekspor Agustus 2014 ditentukan oleh Kementerian Perdagangan sebesar US$ 794 dan Bea Keluar 10,5% dengan referensi harga rata-rata tertimban, CPO Rotterdam, Kuala Lumpur dan Jakarta, sebesar US$ 865,5. Dengan melihat tren penurunan sepanjang akhir Juli hingga dua pekan pertama Agustus, GAPKI memperkirakan Bea Keluar untuk September akan turun menjadi 9%,” tutup Fadhil.(EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)