Popularitas Batik Populo Bai Soemarlono

Bai Soemarlono, founder & owner Batik Populo
Bai Soemarlono, founder & owner Batik Populo

Populo sebenarnya sudah eksis sejak 1994. Didirikan oleh Bai Soemarlono, produk fashion impor dari Uni Eropa ini memang khusus dipasarkan ke Indonesia. Kebetulan, Bai tinggal di Jerman. Sebelum berbisnis fashion, ia pernah menjadi asisten manajer di perusahaan konsultan desain dan pemasaran di sebuah hotel di Indonesia. Sehingga, mudah baginya mengelola bisnis yang telah lama dikenali pasarnya.

Enam belas tahun kemudian, di tengah gemerlap dunia batik di Tanah Air, Bai meluncurkan Batik Populo. Alasannya, ia sudah bosan melihat berbagai fashion show seperti di Paris dan London. “Setelah kami lihat semua show, kami ingin sesuatu yang baru dan otentik. Kami pikir apa, lalu kami pikir batik,” katanya.

Memang, Bai menyadari, batik sudah banyak dibuat di Indonesia. Namun, ia tetap percaya, masih ada peluang mengembangkan batik dengan karakter tersendiri. Maka, lahirlah siluet batik yang berbeda. “Kami ambil satu motif dan kami buat monokrom. Tahun 2012 itu kami promosikan batik kami tersebut. Orang jadi kenal Batik Populo dengan ciri khas itu, meskipun sekarang sudah mulai rancu karena sudah banyak yang mengikuti,” tuturnya. 

Bai mengungkapkan, “Keunikan dan daya tarik Populo Batik adalah menawarkan batik modern, dari siluet, motif, dan warnanya.” Untuk warna, pihaknya mengunakan pewarna alami dan cat. Warna alami yang digunakan antara lan biru indigo dan kuning nangka. Untuk warna lain, pihaknya menggunakan bahan kimia yang ramah lingkungan. “Kami ingin sustainable fashion sehingga memikirkan lingkungan juga. Jadi, tukang batik yang kami pilih pun memikirkan bagaimana pembuangan limbah, juga suasana kerja yang terbuka dan bersih,” katanya. 

Bai mengaku belum bisa membuat produk batik sndiri. Ia menggandeng mitra, perusahaan batik di Yogyakarta, yang mampu dan mau membuat produk sesuai dengan keinginannya. Perusahaan ini memiliki 30-50 pembatik. “Kami kerjasama dengan yang mau buatkan cat motif kami. Ada juga batik tulis dengan desain kami. Banyak pembatik lain yang tidak mau karena merasa menjual batik biasa pun sudah laku,” kata Bai yang pernah kuliah di jurusan pemasaran salah satu universitas di Sydney, Australia ini.

Untuk mengelola bisnisnya, Bai memiliki tim yang solid di Indonesia. Saat ini, ia tinggal di Berlin Jerman dan juga Jakarta. “Saya tinggal di Jerman karena lebih mudah untuk akses fashion internasional. Kami juga banyak tahu agensi-agensi showroom yang bisa menjual pakaian kami. Berlin juga sangat strategis ke kota-kota pusat fashion dunia seperti Paris, London, dan Milan,” ungkapnya. Ia juga mengaku tidak ada kendala khusus dalam memasarkan batiknya di luar negeri. “ Alhamdulillah, mulus-mulus saja karena banyak teman yang kerja di dunia fashion di Jerman,” Bai menjelaskan.

Untuk menembus pasar ekspor, Bai lebih banyak menggunakan jaringan yang sudah dibinanya sejak 1994 di industri fashion di luar negeri. “Selain itu, saya juga tinggal di Berlin, Jerman. Jadi, banyak kenal orang industri fashion di luar negeri,” katanya menegaskan. Saat ini, 30% produknya dijual ke luar negeri. “Konsumen di Uni Eropa kebanyakan pesan lewat online, karena kami belum ada store sendiri di sana. Produknya adalah baju siap pakai,” ungkapnya.


Saat ini, target pasar Populo adalah pelanggan berusia 25 tahun ke atas. “Pokoknya, yang mau batik terlihat lain dan berjiwa muda,” ujar Bai. Harga yang dibanderol untuk produknya, Rp 1 juta sampai di atas Rp 20 juta. “Kami sudah ada di bisnis ini selama 25 tahun dan yang suka produk kami sudah lintasgenerasi. Klien kami umur 16 sampai 50 tahunan. Jadi, bisa dilihat bahwa bisnis kami sustain,” katanya tandas.

Penjualan dan promosi dilakukan dengan berbagai cara. Pertama, berpromosi melalui media sosial seperti Instagram dan Facebook, serta menggunakan online shop (e-commerce). Kedua, rajin mengikuti berbagai event, seperti fashion show di dalam dan luar negeri, serta mengunakan endorser selebritas. Ketiga, menjualnya secara langsung (direct selling) dan di gerai fashion.

Ke depan, Bai ingin terus membesarkan bisnisnya. Sekarang, pihaknya terus membenahi urusan produksi, seperti jahitan harus lebih bagus, kualitas bahan juga harus bagus, mengikuti zaman atau selalu update dengan apa yang terharu di dunia fashion. “Batik kami kan handmade bukan printing, sehingga pembuatan terbatas. Produk kami sudah ada di 10 toko terbagus dunia (kami) sudah sangat senang,” ungkapnya.

Bai juga ingin batik dari Indonesia semakin dikenal. Di luar negeri, sebenarnya sudah lumayan dikenal tetapi baru sebatas di kalangan orang fashion tertentu. “Saya ingin batik ini makin dikenal oleh pengamat fashion di dunia dan menjadi sesuatu yang mereka mau pakai serta mereka hargai seperti mereka memakai pakaian-pakaian eksklusif yang bermerek internasional,” katanya berharap.

Bai pun melihat bisnis fashion sedang turun karena ekonomi global juga sedang turun. “Jadi, (kebutuhan) primer orang tidak ke baju, tapi ke makan. Banyak orang berpikir beli baju itu prioritas kesekian. Jadi, pasar middle agak tergerus. Sementara pasar high end masih jalan karena daya beli orang kaya tetap ada,” ungkap Bai tentang alasannya menggarap batik premium. (*)

Nisrina Salma dan Dede Suryadi

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)