Printer Laser Monokrom Fuji Xerox Incar SMB

Small and Medium Business (SMB) jadi incaran Fuji Xerox sejak empat seri printer DocuPrint monokrom (hitam-putih) diluncurkan. Keempat seri tersebut adalah DocuPrint P355 db/d, M355 df, P255 dw, dan M255 z.

Dipilihnya SMB dengan pertimbangan khusus. Mengutip data dari BPS, 99% bisnis di Indonesia tergolong usaha kecil dan menengah. Untuk itu, Fuji Xerox, sebagaimana diungkapkan oleh Vincent Sim, General Manager Fuji Xerox ASEAN, melalui printer monokrom auto-duplex ingin membantu SMB dengan menekan cost akibat penggunaan kertas berlebihan.

Auto-duplex adalah salah satu fitur yang diunggulkan  Fuji Xerox pada produk-produk printer terbarunya. Fitur ini memungkinkan pengguna mencetak pada kedua sisi kertas tanpa perlu membalik secara manual.

Di pasar printer laser Indonesia saat ini Fuji Xerox menempati peringkat kedua dengan market share 20%. “Kami yakin bisa tumbuh sampai 25% tahun ini,” tutur Sim. Berikut kutipan wawancara Tika Widyaningtyas,  reporter SWA Online dengan Sim dan Teddy Susanto (Teddy), Sales Manager Fuji Xerox Printers Indonesia usai acara Introducing The New Black di Jakarta.

Teddy Susanto, Sales Manager Fuji Xerox Printers Indonesia dan Vincent Sim, General Manager Fuji Xerox Printer Channel ASEAN

Apa yang melatar belakangi Fuji Xerox meluncurkan kelima seri printer ini?

Sim: Pertama, monokrom dipakai oleh hampir 96% konsumen printer di Indonesia. Selain itu printer kami punya fitur auto-duplex yang bisa membalik kertas secara otomatis. Ini akan sangat menghemat kertas dan tentu menekan cost yang dikeluarkan pelaku SMB sebagai pengguna. Anda tahu harga satu rim kertas sekarang berapa? Sekitar Rp 35.000. Tahun lalu masih Rp 20.000. Artinya apa? Harga kertas sudah naik hampir 100% dalam waktu satu tahun. Padahal walau bagaimanapun kertas tetap dibutuhkan dalam proses bisnis mereka.

Teddy: Fuji Xerox melakukan survei internal ke 100 pelaku SMB di Indonesia. Kami menanyakan fitur apa yang mereka inginkan dari sebuah printer. Yang paling banyak, 31% menghendaki auto-duplex printing supaya tidak ribet membalikkan kertas. Setelah itu 26% menginginkan wireless connectivity, jadi tidak kebanyakan kabel. Kemudian 17% pelaku SMB ingin fitur auto-duplex copying atau scanning. Sekitar 9% pelaku SMB lain menginginkan fitur mobile printing, dan 9% touch screen. Yang 8% lainnya macam-macam. Nah, kami menjawab keinginan mereka dengan produk terbaru kami: DocuPrint P355 db dan d, M355 df, P255 dw, dan M255 z.

Apa saja keunggulannya?

Sim: Tiga hal yang kami unggulkan: cost minimation, productivity optimization, dan environmental sustainability. Jangan dilihat harga awalnya, memang lebih tinggi dari printer inkjet. Tapi cpp (cost per page, harga per halaman) jauh sekali. Dengan printer-printer ini, cpp untuk monokrom hanya Rp 255, mendekati harga fotokopian namun hasilnya lebih bagus. Dari segi lingkungan, kami punya cartridge toner yang ukurannya lebih compact sehingga bisa meminimalisasi penggunaan plastik sebagai komponennya. Namun walaupun kecil, dia bisa cetak 2200 halaman atau 10.000 halaman tergantung jenisnya. Fusing temperature-nya juga 20°C lebih rendah, emisi karbon dari proses manufaktur berkurang 35%, dan 25% dari proses mencetak.

Teddy: Banyak sekali keunggulannya. DocuPrint P255 dw dan M255 z sudah dilengkapi port USB 2.0 untuk cetak langsung dari flash drive, kecepatan cetaknya 30 ppm (page per minute), built-in duplex, dan wireless. Jadi kalau di kantor ada wifi, tidak perlu kabel panjang untuk menghubungkan beberapa komputer dengan printer. Fitur ini juga ada di DocuPrint P355 d maupun db, dan M355 df. Nah kalau yang dua terakhir ini sudah menggunakan teknologi laser sehingga kecepatannya bisa mencapai 35 ppm. Produk kami sudah menggunakan Auditron Function dan Centre Ware Internet Service. Dengan Auditron Function kita bisa mengatur komputer mana saja yang bisa mencetak, bahkan dokumen seperti apa saja yang boleh dicetak, apakah berwarna atau hitam-putih saja. Centre Ware Internet Service ini akan bermanfaat untuk yang punya teknisi atau staff IT mobile. Lewat koneksi internet, staff IT bisa tahu status printer seperti toner low, atau paper jam walaupun sedang tidak di kantor.

Apa saja tantangan yang dihadapi dalam memasarkan produk-produk tersebut?

Teddy: Tantangan utamanya lebih kepada edukasi masyarakat di mana orang Indonesia masih melihat printer itu selalu inkjet. Masih banyak UKM yang belum beralih ke printer laser karena ketidaktahuan. Mereka taunya printer ya ink, sementara mereka sadar ada masalah dengan ink seperti cepat mengering. Akhirnya setelah tahu problem itu baru mereka beralih. Jadi kena dulu baru mereka beralih. Harga printer laser memang lebih mahal dari inkjet, dan masyarakat indonesia lebih melihat short term. Nah bagaimana kita mencoba mengedukasi mereka. Belum lagi masalah refill. Refill memang murah di awal, tapi mereka tidak sadar bahayanya terhadap kesehatan, lingkungan, dan sebagainya.

Sim: Kalau Anda perhatikan mesin fotokopi, itu pasti pakai teknologi laser. Kenapa? Karena laser tidak cepat kering walau sudah lama tidak dipakai. Proses mencetaknya juga sangat cepat bila dibanding inkjet. Inilah tantangan kami, menyebarkan ke masyarakat keunggulan laser dibanding inkjet. Kemudian masalah refill. Bubuk toner didesain agar mencair di atas kertas. Di dalam cartridge ini ada partikel kecil yang tumbuh untuk memicu itu. Kalau di-refill, partikel tersebut tidak tumbuh. Akibatnya bubuk toner tidak mencair. Ini berbahaya untuk printer dan konsumen sendiri, terlebih kalau dihirup dapat menimbulkan masalah kesehatan. Solusinya, kami menjaga harga toner asli lebih kompetitif. Dengan ukuran yang lebih compact, dapat meminimalisasi penggunaan plastik. Anda tahu, plastik terbuat dari minyak. Harga minyak terus menerus naik. Nah, kami menjaga agar hal tersebut tidak dialami langsung oleh konsumen produk kami.

Bagaimana strategi promosinya?

Teddy:  Strateginya adalah kami menjalankan seminar roadshow yang menyasar ke kalangan UKM, kemudian ikut pameran-pameran komputer di berbagai daerah maupun kota besar. Seminar lebih tergantung kepada segmen industrinya. Misal kita seminar kepada industri F&B (food and baverage), maka yang kita sampaikan adalah kebutuhan mereka apa, seperti mencetak menu, mencetak materi promosi mereka lagi ada “Promo of the month, discount 30%”. Kmudian kalau seminarnya untuk notaris maka kita akan kasih solusi, oh notaris itu butuh cetakan bundel atau booklet ukuran A3 dilipat jadi A4, bagaimana kami menawarkan booklet printing. Biasanya kami melakukan ini rutin 2 bulan sekali di tiap kota. (EVA)

 

 

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)