Red Hat Gencar Garap Pasar Korporat Indonesia

Di Indonesia belum banyak perusahaan solusi software yang bermain di pasar open source. Tak heran bila VMWare dengan mudah berlaga merajai open source korporat. Mulai tahun ini VMWare akan mendapat pesaing baru, Red Hat.

Ke kanan: Tajid Yakub dan Damien Wong Ke kanan: Tajid Yakub dan Damien Wong

Red Hat bukan baru kemarin berlaga di arena solusi software open source. Perusahaan yang bermarkas di North Caroline ini didirikan sejak 19 tahun lalu. Tahun 1999 Red Hat sudah melantai di bursa Amerika. National Security Agency Amerika bahkan sudah jadi klien Red Hat. Di Indonesia sendiri VMWare lebih akrab di komputer korporat, terutama sektor telko dan perbankan.

Red Hat bukan tak punya konsumen di Indonesia. Sebut saja PT Plaza Indonesia Tbk. yang akhirnya beralih dari VMWare menjadi Red Hat. "Awalnya kami berencana untuk memakai keduanya, dual ware. Namun ternyata performa Red Hat Enterprise Virtualization (RHEV) paling bagus untuk KVM (Kernel-based Virtual Machine), tidak butuh banyak memory dan CPU Power juga, jadi kami pakai RHEV saja. Apalagi infrastruktur IT kami tidak serumit perbankan," Tajid Yakub, Infrastructure Manager PT Plaza Indonesia Tbk. menguraikan.

"Indonesia tumbuh sangat cepat. Setiap forum Asia Pasifik selalu mengungkit Indonesia dengan GDP yang meningkat tajam. Ini peluang bagus bagi kami terutama untuk masuk ke korporat," kata Damien Wong,  General Manager Red Hat ASEAN . Di Indonesia, Red Hat masuk melalui rekanan dengan PT Jabetto Maraya. Penetrasinya sudah merambah ke industri telco termasuk Telkomsel khususnya untuk RHEL, Red Hat Enterprise Linux.

Rencananya 4 September nanti Red Hat akan mengadakan forum bisnis di Jakarta. Forum tersebut nampaknya akan menjadi sarana Red Hat memulai kerja agresifnya memasuki pasar open source Indonesia. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)