Rumput Laut Indonesia Rambah Eropa

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan nilai tambah 30% untuk ekspor rumput laut pada 2014. Tahun 2013, nilai ekspor rumput laut mencapai US$209,5 juta dengan volume182 ribu ton. Nilai ekspor tahun 2013 itu mengalami kenaikan 17,8% dari tahun 2012. Sedangkan, untuk nilai ekspor produk perikanan Indonesia sendiri untuk tahun 2013 mencapai US$4,18 miliar.

KKP

Target KKP tersebut beriringan dengan kegiatan Foreign Buyer Mission (FBM) KKP - The Swiss Import Promotion Programme (SIPPO) yang dilaksanakan pada tanggal 27 -30 Mei 2014. Kegiatan temu pembeli ini bertujuan meningkatkan pemasaran produk olahan produk rumput laut, karaginan dan agar, khususnya ke Eropa.

SIPPO bertindak sebagai fasilitator yang mempertemukan eksportir Indonesia dengan importir mereka. Kegiatan ini merupakan kegiatan lanjutan dari kegiatan serupa yang dilakukan tahun 2013.

Buyer yang hadir berjumlah 12 orang, dari 10 perusahaan importir karaginan dan agar di negara-negara Eropa. Mereka akan dipertemukan dengan 11 perusahaan Indonesia yang bergerak di bidang rumput laut. Buyer akan mengunjungi lokasi budidaya rumput laut untuk menyakinkan buyer bahwa industri pengolahan rumpt laut di Inodnesia didukung dengan pasokan bahan baku yang kuat.

“Ini peluang besar untuk mengembangkan sumber daya laut yang sangat strategis, karena Indonesia punya potensi besar. Tahun ini ada 10 perusahaan yang datang dan akan bertemu dengan 11 perusahaan dari 37 perusahaan yang ada di Indonesia. Kerja sama ini sudah dilakukan sejak 2013,” ucap Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Saut P. Hutagalung.

KKP2

Program kerja sama ini diberlakukan untuk produk non bahan baku yang sudah memiliki nilai tambah. Hal ini menyambut kebijakan dari KKP agar perusahan Indonesia di bidang karaginan dan agar untuk meningkatkan nilai tambah mereka dengan mengekspor produk semi – refined. Mengingat 55% dari total ekspor Indonesia ditujukan ke negara China dan Filipina dalam bentuk bahan baku.

“Sementara produk dari China dan Filipina sebenarnya mereka dapat bahan bakunya dari kita. Tinggal kita naikkan nilai tambahnya, agar memiliki daya saing. Di China produksi sempat turun karena perubahan iklim, tapi di Indonesia kita terus berproduksi, ini peluang kita,” tambah Saut.

Tahun depan, sebagai kegiatan lanjutan dengan SIPPO, akan diadakan International Seaweed Conference Exhibition. Kegiatan pentransferan pengetahuan mengenai teknologi, pengolahan, dan tren pasar di mana SIPPO sebagai fasilitator. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)