Saatnya Arsitek Indonesia Unjuk Gigi

Menemukan talenta baru di dunia arsitek dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya melalui awarding. Menurut Steve J. Manampi, Ketua Ikatan Arsitek Indonesia, banyak arsitek lokal yang tidak pernah terdengar namanya karena orang Indonesia masih malu-malu untuk unjuk gigi.

Jeremy Rowe, Managing Director AkzoNobel Decorative Paints South East & South East Asia(kedua dari kiri) dan Steve J. Manampi, Ketua Ikatan Arsitek Indonesia( kedua dari kanan) Jeremy Rowe, Managing Director AkzoNobel Decorative Paints South East & South East Asia(kedua dari kiri) dan Steve J. Manampi, Ketua Ikatan Arsitek Indonesia( kedua dari kanan)

“Di luar negrei para arsitek tidak malu-malu untuk menunjukkan karya di berbagai kesempatan. Ini menjadi salah satu upaya agar nama mereka dikenal. Sayangnya orang Indonesia masih belum mau untuk melakukan hal tersebut sehingga seolah-olah arsitek Indonesia jumlahnya sedikit,” jelas Steve.

Ia melihat bahwa banyak arsitek yang memiliki desain inovatif. Ia berharap dengan adanya kompetisi ini, para arsitek Indonesia lebih berani menunjukkan hasil karyanya. Untuk itu ia,  bekerja sama dengan AkzoNobel, yang menaungi brand cat Dulux. Kompetisi yang dilakukan pertama kali di Indonesia  ini, diakui Jeremy Rowe, Managing Director AkzoNobel Decorative Paints South East & South East Asia, menjadi upaya AkzoNobel untuk memperkenalkan arsitektur dengan desain  sustainable.

Menurut Jeremy, Indonesia masuk 3 besar negara yang memiliki kontribusi besar untuk kawasan Asia Pasifik. Indonesia berada di urutan ke-3 setelah China dan India. Pada 2015 kawasan Asia pasifik memberikan kontribusi sebesar 27% untuk keuntungan AkzoNobel secara global. Di tahun tersebut, perusahaan asal Swedia ini mampu meraup keuntungan sebesar ‎€ 14,9 milyar.

Perusahaan yang berdiri sejak tahun 1646 ini menginvestasikan ‎€346 juta untuk inovasi pengembangan dan penelitian produk ramah lingkungan dan berkelanjutan. Di luar negri, produk-produk ini sudah mulai digunakan. Misalnya untuk coating, consumer goods, bangunan serta infrastruktur, dan masih banyak lagi.

Di Indonesia cat dan coating yang berkelanjutan baik untuk B2B msupun B2C masih belum populer. Kerja sama ini diharapkan mampu melahirkan arsitektur lokal yang memiliki inovasi dan keberlanjutan. Untuk itu, ada 5 kriteria penilaian, pertama adalah desain, ramah lingkungan &berkelanjutan, inovasi, serta warna. Lomba ini ditujukan untuk kalangan professional dan prosesnya telah dimulai sejak bulan Juni tahun 2016.

Hingga saat ini sudah ada 9 peserta yang nantinya akan dipilih untuk juara 1, 2, dan 3. Untuk hadiahanya sendiri, mereka masih belum mau membocorkan, Jeremy mengaku bahwa pihaknya masih berinovasi dengan penghargaan Dulux Designer Awards 2016 ini. Sebelumnya, perusahaan yang memiliki 45.000 karyawan diseluuruh dunia ini, juga memiliki berbagai jenis lomba yang berbeda di negara-negara lain. Namun jenis dan kriteria lomba disesuaikan dengan kebutuhan dari negara tersebut.

Di Indonesia, AkzoNobel juga ikut berpartisipasi dalam kompetisi Small Space Living Interior Design Competition yang diselenggarakan Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII). Kompetisi ini membidik kalangan professional dan mahasiswa dan diminati 42 peserta. Mereka mengikutsertakan rancangan mereka untuk hunian berukuran maksimal 36 m2.

Kompetisi ini ditujukan untuk mengembangkan kemampuan dan kreatifitas para desain interior muda sekaligus meningkatkan reputasi mereka di kalangan industri. Kompetisi ini diharapkan bisa memberikan semangat dalam menciptakan tren lokal yang bisa diaplikasikan oleh konsumen.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)