Sasa Inti, Transformasi-Digital Kunci Menang di Pasar

Adlin Noor Syarif, Eksekutif Merek Digital PT Sasa Inti.
Adlin Noor Syarif, Eksekutif Merek Digital PT Sasa Inti.

Keyakinan dan kerja keras PT Sasa Inti menjadi pemimpin pasar di industri kitchen food membuahkan hasil positif. Selama tiga tahun berturut-turut hingga 2020, perusahaan legendaris dari Sidoarjo, Jawa Timur, ini berhasil tumbuh menawan. Bahkan, pertumbuhan penjualan Sasa di 2019 mencapai yang tertinggi selama sepuluh tahun terakhir, sebesar lebih dari 20%.

Ada banyak faktor yang menunjang keberhasilan merek dagang yang hadir di Indonesia sejak 1968 ini. Salah satunya, menurut Adlin Noor Syarif, Eksekutif Merek Digital PT Sasa Inti, karena keberanian dan komitmen Sasa mengedepankan inovasi dan transformasi dengan memanfaatkan teknologi digital.

Hal itu telah terlihat sejak 2018, ketika Sasa mulai merevitalisasi strategi perusahaan, dari strategi pengembangan produk hingga strategi komunikasi pemasaran, dengan berbasis teknologi digital agar relevan dengan perkembangan zaman. “Jika sebelumnya bentuk komunikasi Sasa terlihat monoton dan sangat konservatif, kami rombak lebih kekinian dengan memanfaatkan media sosial,” ungkap Adlin mencontohkan bagaimana pemanfaatan teknologi digital dilakukan.

Jacqueline Angsono, Eksekutif Akun Digital PT Sasa Inti, membenarkan, berkat upaya mendefinisi ulang tujuan perusahaan dan memaksimalkan peranti medsos sesuai dengan target dan positioning yang baru, Sasa mulai dikenal sebagai kitchen food company dari Indonesia dengan citra yang lebih fun, modern, muda, dinamis, kredibel, menginspirasi, dan legendaris. “Tujuan kami menjadi perusahaan kredibel; dalam arti tidak hanya berorientasi pada penjualan produk, melainkan juga menjual lifestyle,” Jacqueline menandaskan.

Bagi Sasa, memang tidak ada pilihan lain. Guna menjangkau pelanggan baru, terutama dari kalangan milenial, Sasa harus mengoptimalkan medsos. “Tujuan kami, menjangkau orang-orang yang percaya bahwa happiness comes from the belly and desires to get the most of their meals,” kata Jacqueline. Inilah yang mendorong Sasa membuat komitmen dan spirit baru: “Happiness is Sasa.

Makna “Happiness is Sasa”, menurut Adlin, sangat luas dan mendalam karena melibatkan pelanggan dan karyawan. Untuk memancarkan kebahagiaan kepada pelanggan, karyawan juga harus bahagia. Maka, setiap karyawan Sasa diberi kesempatan selalu memperbarui skill dan knowledge serta mengembangkan pribadi dan kariernya, agar menjadi profesional yang tangguh dan tim yang agile, terutama untuk terus berkarya di tengah pandemi Covid-19. “Value ini membuat kami terpacu untuk shifting, baik secara kultur perusahaan maupun secara personality brand,” ungkap Adlin bangga.

Ia mengakui, setelah menggunakan teknologi digital, perubahan strategi komunikasi pemasaran Sasa terlihat paling signifikan. Contohnya, dulu Sasa hanya fokus di dua platform, yakni Instagram dan Facebook, sedamgkan kini mulai ekspansi ke platform lain, seperti LinkedIn, Twitter, Tiktok, dan YouTube.

Apalagi di masa pandemi saat ini, kampanye rata-rata dijalankan secara digital. “Kami juga punya Sasa Chatbot untuk CRM. Kami mempunyai satu hub untuk menghubungkan semua itu di Sasa.co.id sebagai mother website kami. Di media sosial tersebut, kami berbagi informasi tentang resep, komunitas, serta company value and culture,” papar Adlin.

Intinya, di dunia fast moving comsumer goods (FMCG), yang notabene produk kompetitor memiliki rentang harga serta fungsi yang serupa, maka Sasa selalu mengedepankan UATE: Uniqueness, Authentic, Talk-able, dan Entertaining dalam setiap kampanye yang dijalankan. “Ini adalah cara Sasa dalam create conversation around the product. Komunikasi tidak melulu bicara soal produk, namun fokus pada what is around us to create demand and engage in emotional bonding with consumers,” kata Adlin yakin.

Dalam hal ini, konten di medsos pun menjadi lebih segar. Kesan konservatif dan membosankan menghilang, digantikan desain yang relevan dengan milenial tanpa meninggalkan jati diri sebelumnya. Misalnya, resep-resep masakan masih ada, tetapi sekarang dibuat lebih modern dan kekinian.

Kampanye Sasa pun semakin menarik perhatian masyarakat digital. Seperti iklan Sasa Bumbu Rendang, yang menjadi viral. Bahkan, kata kunci “Sasa Bumbu Rendang”  menjadi Top 3 search di Google dan selama tiga hari menjadi topik trending topik di Google Search. Lalu, berkat iklan anime-nya, Sasa Tepung Bumbu juga berhasil mencapai penjualan tertinggi dalam sejarah selama periode kampanye. Iklan “Sasa Kebebasan Rasa” pun berhasil menjadi iklan Sasa dengan view tertinggi, dan banyak orang yang membuat meme tentang iklan ini di medsos.

Micin Swag Generation” yang menggabungkan kampanye above dan below the line dengan kampanye digital juga sempat menjadi bahan perbincangan dunia medsos. Kampanye ini bermula dari billboard yang nyeleneh yang kemudian diviralkan di medsos.

Pada Februari 2020, bertepatan dengan Hari Valentine, Sasa meluncurkan social experiment yang mencuri perhatian. Begitu pula pada saat memperingati Hari Ibu 22 Desember 2020, Sasa meluncurkan inisiatif digital #JanganPostingdiHariIbu. Untuk mengapresiasi peran ibu di Indonesia, Sasa mengajak pengguna medsos di Tanah Air untuk bersama-sama mengapresiasi dan menunjukkan kasih sayang kepada ibu mereka secara nyata, dengan tidak mem-post foto tentang ibu di medsos, melainkan menggunakan momen ini untuk menghabiskan waktu bersama ibu mereka secara langsung di hari tersebut.

Masih terkait dengan pemanfaatan kampanye digital, Sasa membuat gerakan #SasaGotYourBack Kit. Pada masa awal pandemi Covid-19, saat sejumlah orang masih harus beraktivitas di luar rumah, Sasa mengajak masyarakat untuk lebih memperhatikan dan menjaga kesehatan diri sendiri dan orang terdekat. Sasa memberikan 500 boks #SasaGotYourBack Kit, yang berisi masker, hand sanitizer, empat produk Sasa, serta resep mudah di area Jabodetabek. Tidak sekadar membagikan hampers, Sasa juga mengajak masyarakat untuk saling menjaga. Penerima hampers memperoleh tiga tambahan #SasaGotYourBack Kit untuk dapat diberikan kepada tiga orang tercinta dan dilengkapi dengan personal card.

Selain itu, kini Sasa juga berkolaborasi dengan berbagai pihak, seperti Janji Jiwa, Goods Dept, dan kosmetik Dear Me Beauty. Sasa juga punya podcast #GenerasiMikir. Ini salah satu cara untuk memberikan persepsi yang berbeda tentang Sasa ke masyarakat. Sasa pun berkolaborasi dengan influencer, baik lokal maupun internasional. “Pendeknya, dengan kolaborasi dan langkah-langkah fenomenal memanfaatkan pemasaran digital, kami berharap Sasa akan selalu relevan dengan target audiensnya,” kata Adlin. (*)

Dyah Hasto Palupi/Vina Anggita

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)