Smith Men Supply, Mulusnya Bisnis Rambut Klimis Michael Nugroho

Michael Nugroho, CEO PT Smith Indonesia Jaya, saat peluncuran BlackJack produk Smith Men Supply (foto smithmensupply.com

Boleh jadi, Michael Nugroho dan teman-teman hanya memenuhi tugas ketika menginisiasi pembuatan pomade dan menyusun strategi pemasaran enam tahun lalu (2013). Namun realitasnya, latihan bisnis yang mereka dapatkan saat kuliah semester III di Prasetiya Mulya Business School itu telah membuka mata sekaligus jalan untuk mewujudkan cita-cita menjadi pengusaha.

Mereka --tiga dari 10 orang yang tergabung dalam kelompok tugas-- sepakat melanjutkan bisnis pomade dan berkomitmen membesarkannya. “Karena, kami melihat peluang besar dari bisnis untuk membuat rambut tetap stylish dan gaya,” ujar Michael yang kemudian ditunjuk sebagai CEO PT Smith Indonesia Jaya.

Produk pomade perusahaan tersebut dinamai Smith Men Supply (Smith Pomade). Menurut Michael, pasar produk berbahan minyak kelapa, wax, lanolin, dan wewangian yang mulai dikenal pada 1990-an ini memang masih terbuka sangat lebar. Di pasaran, hampir tidak ada merek lokal yang beredar. Kebanyakan produk impor yang mahal harganya. “Jadi, sejak awal produk kami terserap sangat baik,” lanjutnya, bangga.

Diungkapkan pria yang lahir di Jakarta pada 25 Desember 1992 ini, pertimbangan yang digunakan saat meluncurkan Smith Men Supply memang murni pemasaran. Pasalnya, mereka saat itu kuliah di sekolah bisnis, bukan belajar kimia. Jadi, ketika melihat pasar pomade relatif kosong, mereka beramai-ramai mencari tahu di internet, bagaimana cara membuatnya dan di mana mencari bahan-bahannya.

“Dari sana kami mengetahui bahan-bahannya dan mulai mencari bahan-bahan tersebut. Setelah itu, kami melakukan percobaan,” kata Michael yang berkali-kali melakukan percobaan hingga menemukan formula yang pas, baik soal kepekatan, aroma, maupun penampakannya. “Percobaan ini dilakukan selama kurang-lebih lima bulan,” lanjutnya. Produk yang pertama kali diluncurkan adalah pomade oil-based.

Setelah enam tahun berjalan, kini Smith Men Supply sudah memiliki enam jenis produk, yakni oil-based pomade (Bold Hold, Premium Medium, dan Fine Shine) yang dibanderol Rp 95.000 per kaleng, water-based pomade (Dapper Spatter) dengan harga Rp 100.000 per kaleng, hair wax (Black Jack, Rp 70.000 per kaleng), dan Smithpremium (Clayton, Rp 160.000 per kaleng). “Tahun ini kami akan meluncurkan produk baru, yaitu tisu basah untuk muka dan hair powder,” ungkap Michael yang terus melakukan inovasi dan pengembangan.

Bagi Michael, perusahaannya memang tidak akan difokuskan hanya memproduksi pomade. “Sejak awal kami ingin menghilangkan image bahwa kami jualan pomade saja,” katanya tegas. Ke depan, pihaknya ingin menyediakan produk perawatan untuk laki-laki, dari ujung kaki hingga ujung rambut. Pihaknya selalu melihat tren rambut akan ke mana, itu yang jadi pedoman. Misalnya, Michael dan tim kini mulai mengonsep produk sampo dan sabun khusus pria. Lalu, hair powder, misalnya, dibuat karena tren sekarang orang seperti tidak memakai apa-apa, tetapi sebenarnya menggunakan hair powder.

“Kami juga melihat kondisi, seperti di Indonesia itu panas dan banyak pengendara motor yang membutuhkan tisu basah untuk mengelap wajah agar segar kembali,” ungkap Michael. Semua itu menjadi bahan pengembangan dan inovasi. “Kami juga sering mengikuti pameran di luar negeri, terakhir kami ikut di Hong Kong. Kami datang hanya untuk mencari informasi, seperti apa sih tren di luar negeri,” lanjutnya. Hal itu, katanya, untuk memperkaya pengalaman juga.

Lalu, bagaimana langkah pemasaran yang dijalankan? Pertama, meningkatkan brand awareness. “Kami rajin ikut pameran dan mengunjungi barberbox agar dapat meningkatkan brand awareness,” kata Michael.

Kedua, melakukan penjualan B to B, yakni menjalin kerjasama dengan barberbox agar menggunakan dan menjual produk pomade yang dibuatnya. Cara ini ditempuh agar mempercepat persebaran produk sekaligus pengenalan produk. Sebagai kekuatan dan daya saing produk, Smith Men Supply diperkenalkan sebagai pomade yang menggunakan bahan-bahan natural, tidak memakai bahan kimia sama sekali. Sampai sekarang pun masih menggunakan bahan-bahan natural.

Tentu, tidak semua murni menggunakan bahan natural. Pada produk-produk barunya, seperti hair wax dan pomade water-based, ada sedikit bahan kimia yang dicampur. “Tapi kami menjamin aman. Apalagi, produk-produk kami juga sudah lolos di BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan),” ia menerangkan.

Ketiga, memlih target pasar anak muda (termasuk eskekutif muda). Alasannya, selain pasar anak muda itu besar, juga potensi pengguna pomade adalah kalangan mereka. Itu sebabnya pula, dari segi penamaan juga mengacu pada mereka. “Kami ambil konsep dandy,” ujar Michael. Kebetulan, mitranya di bagian pemasaran menemukan ada novelis dari Inggris yang berhasil membuat karakter tokoh dandy bernama Smith. “Jadilah nama itu yang kami gunakan,” ceritanya.

Masih berkorelasi dengan anak muda, media promosi yang digunakan pun yang akrab dengan anak muda, yaitu media sosial. Itu sebabnya, Smith Pomade sering menggunakan medsos, memakai endorser, dan mengikuti bazar. “Berbagai karakter yang sesuai dengan anak muda kami ikuti,” katanya lagi.

Tak hanya melalui medsos, cara pemasaran konvensional dilakoni pula. Kini, pemasaran Smith Pomade sudah hampir ke seluruh Indonesia. Merek ini telah memiliki puluhan rekanan barbershop, ratusan reseller, dan 11 distributor resmi di 30 provinsi. Tak hanya itu, sejumlah gerai ritel, seperti Aeon, Ranch Market, Farmers Market, The Food Hall, dan Guardian, turut memasarkannya. Bahkan, Smith Pomade juga sudah diekspor ke Malaysia dan Singapura. Ekspor ke Negeri Singa sudah masuk tahun ketiga.

Luasnya pasar pomade yang dirambah Smith Men Supply membuat merek ini memimpin pasar pomade dalam negeri saat ini. Dengan didukung oleh 12 karyawan dan produksi sebesar 6.000-10.000 ribu kaleng untuk semua varian per tahun, Smith Pomade dengan mantap menggeser produk pomade impor yang sebelumnya merajai pasar Indonesia.

Ke depan, Michael akan terus meningkatkan omset dan pertumbuhan penjualan, melebihi tahun lalu. Pada 2018 omsetnya Rp 4,5 miliar dengan pertumbuhan penjualan 20 persen.(*)

Reportase: Sri Niken Handayani

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)