Sahid Sahirman Memorial Hospital Hadirkan Medical Tourism

Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada tahun 2011 mencatat total kerugian devisa akibat banyaknya pasien Indonesia yang melakukan medical tourism ke luar negeri secara keseluruhan mencapai hingga Rp 110 triliun. Melihat hal tersebut Sahid Sahirman Memorial Hospital (SSMH) membuat terobosan baru dengan meluncurkan program Medical Tourism di Indonesia, yaitu suatu program yang mengawinkan layanan program kesehatan dan pariwisata.

20160329_121522_resized

Dr.Bernard Sidharta, Managing Director PT Sahid Sahirman Memorial Hospital (SSMH), menjelaskan, salah satu upaya menyiapkan diri dalam mengembangkan program tersebut adalah menghadirkan pusat layanan terbaru, yaitu SSMH Fertility Center by SMART IVF SMART IVF merupakan suatu program bayi tabung yang canggih (Sophisticated), modern, terjangkau (affordable), reproductive, dan technology.

Nantinya program ini akan dilengkapi dengan berbagai paket konsultasi yang sudah termasuk dengan penginapan di hotel/apartemen Sahid, antar jemput dari dan ke bandara dan paket wisata di Jakarta. Selain menjangkau wisatawan asing dan daerah, kehadiran center terbaru ini juga diharapkan dapat mempermudah akses layanan kesuburan bagi para pasutri yang bekerja di wilayah perkantoran di Jakarta yang juga dilengkapi dengan layanan penjemputan pasien dari rumah ataupun kantor.

“Dengan konsep Medical Tourism, Sahid Sahirman Fertility Center menjadi klinik fertilitas pertama di Indonesia yang mengusung konsep medical tourism sehingga diharapkan jumlah pasien-pasien yang berobat ke luar negeri akan bisa beralih ke dalam negeri karena SSMH telah mempersiapkan paket layanan yang komprehensif dan sangat nyaman untuk pasien.” ujarnya saat ditemui di Hotel Grand Sahid Jaya.

Lebih lanjut dr. Budi Wiweko menjelaskan bahwa Medical tourism di Indonesia tidak hanya potensial untuk mendapatkan pasien dari luar negeri, tapi yang lebih penting adalah mendapat kepercayaan pasien dalam negeri. Strategi medical tourism yang tepat harus bisa diformulasikan untuk menarik kembali pasien dan devisa negara yang hilang ke luar negeri.

Beberapa strategi yang dapat diterapkan antara lain, tarif yang kompetitif, infrastruktur fisik dan peralatan yang modern, pelayanan berkualitas yang sesuai dengan bukti ilmiah, orang-orang yang kompeten dan siap bersaing, serta meningkatkan keterjangkauan akses. Tarif atau harga pelayanan yang kompetitif dapat diciptakan dengan pengelolaan pelayanan secara efektif.

Di samping itu, kerja sama dengan pihak luar seperti produsen farmasi dan alat kesehatan juga dapat lebih banyak menekan biaya pelayanan. Kata dia, salah satu tantangan yang dihadapi saat ini adalah pembangunan infrastuktur fisik dan pengadaan peralatan yang modern. Peralatan medis yang dibutuhkan dalam tindakan pelayanan bayi tabung tidak dapat dikatakan murah. Namun hal tersebut dapat dicarikan solusinya, yaitu dengan menjalin kerja sama dengan institusi lain yang memiliki kesamaan visi.

“Dengan memanfaatkan kemajuan industri perbankan yang ada saat ini, pembiayaan pelayanan dapat dikelola agar memudahkan pasien. Hal ini akan membuka akses yang sangat luas terhadap masyarakat mendapat pelayanan bayi tabung," dia menegaskan. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)