Strategi Polytron Membangun Merek (bagian 1)

Polytron lahir di Kudus, Jawa Tengah pada tahun 1975. Pemiliknya, yakni pabrik rokok PT Djarum mendirikan perusahaan khusus untuk memproduksi barang elektronik. Saat itu, tantangan terbesar Polytron adalah dari sisi teknologi. Untuk itulah, perseroan menjalin kerjasama dengan Philips dan Salora, perusahaan asal Finlandia yang terkenal dengan merek Nokia.

Yang menarik adalah strategi Polytron yang terbilang tidak masuk akal, tapi menjadi benar dalam jangka panjang. Apa itu? Masyarakat harus mengenal Polytron sebagai produk yang punya keunggulan di bidang teknologi. Michael Porter mengemukakan tiga strategi dalam berbisnis, yaitu produk yang unggul, keunggulan biaya, fokus pasar (Philip Kotler & Kevin Lane Keller, 2008). Yang terakhir, sebenarnya lebih tepat meningkatkan kualitas hubungan dengan pelanggan.

Strategi bermain di biaya produksi tidak masuk akal karena kompetitor adalah perusahaan multinasional. Produk Polytron akan sulit bersaing karena merek lokal lainnya juga masuk ke sana. Mereka beranggapan produknya akan laku jika dijual dengan harga lebih murah dari merek internasional.

Handojo Soetanto, Mobile Phone Product Manager PT Hartono Istana Teknologi. Handojo Soetanto, Mobile Phone Product Manager PT Hartono Istana Teknologi.

Kenyataannya, ini yang membuat merek-merek lokal akhirnya sulit berkembang sampai sekarang karena memang biaya produksinya jauh lebih besar. Strategi niche focus juga sulit karena negara Indonesia yang berbentuk kepulauan. Sulit untuk melayani nasabah di Papua, misalnya, sama baiknya dengan nasabah di Pulau Jawa.

Perseroan bekerja sama dengan Philips dan Salora untuk mendapatkan teknologinya. Setelah membeli produk dari mereka, kemudian mempelajarinya, Polytron lalu memodifikasi dengan fitur-fitur yang bermanfaat. Produk pertama yang lahir pada tahun 1979 adalah TV Hitam-Putih yang hanya bisa dinyalakan menggunakan aki.

“Saya sendiri belum bisa membayangkan seperti apa. Tapi, produknya masih terbatas, terutama di desa-desa. Itu salah satu fitur yang kami kembangkan,” kata Handojo Soetanto, Manajer Mobile Phone Product PT Hartono Istana Teknologi.

Saat masuk ke produk TV berwarna pun, Polytron harus siap bersaing dengan merek-merek Eropa yang saat itu tengah di atas. Disusul, merek asal Jepang dan kemudian Korea. Untuk itulah, Polytron diposisikan sebagai brand Eropa lewat bentuk kerjasama dengan Philips dan Salora. “Kita bilang ke orang-orang, teknologinya dari Finlandia. Beberapa modul dibeli dari mereka. Itu yang membuat Polytron kemudian lebih banyak dipilih,” ujarnya.

Selain itu, perseroan juga menawarkan keunggulan dari segi suara yang lebih bagus. Saat teknologi TV masih analog, sulit untuk menghasilkan gambar yang bagus karena membutuhkan komponen khusus yang harganya sangat mahal. Kalau dipaksakan, Polytron tak bisa bersaing dari segi harga. Jadi, keunggulan suara yang diprioritaskan.

Karakter suara yang dihasilkan harus berbeda dengan TV kebanyakan. Perseroan juga membuat survey untuk mengetahui preferensi suara yang diinginkan masyarakat. Hasilnya akan digunakan untuk menciptakan TV dengan kualitas suara tertentu. “Itulah kenapa saat kami masuk ke audio pada 1984, langsung menjadi market leader,” ujarnya.

Baca berikutnya... >

Strategi Polytron Membangun Merek (bagian 2)

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)