Supaya Bisnis Jasa Fotografi Tetap Bertahan

Papyrus photo

Perkembangan ponsel pintar dengan dukungan kualitas foto yang bagus, tidak memberi dampak yang negatif bagi pelaku usaha jasa fotografi di Indonesia. Potensi dan peluangnya masih terbuka lebar di tengah perkembangan digital yang pesat. Salah satu Usaha Kecil Menengah (UKM) yang membuktikannya adalah Papyrus Photo. Meski tengah tren budaya swafoto dengan ponsel pintar, tetapi tidak mematikan usaha yang sudah berjalan sejak 2002 ini di Bandung.

Apalagi menurut Aprilia Kristiawan, CEO & Founder Papyrus Photo, masyarakat kota Bandung sangat komunal, berkumpul dan bersosialisasi dengan komunitas sudah menjadi budaya tersendiri. Karena itu, mengabadikan momen menjadi hal penting bagi komunitas, supaya kelak kebersamaan itu dapat dikenang.

“Bahkan ada ibu-ibu yang baru pulang dari kondangan mampir dulu di sini, mereka mengabadikan momen kebersamaan sebelum kembali ke rumah masing-masing,” jelas April kepada awak media di kantornya di Bandung.

Sebelum Papyrus Photo lahir, April mengawali kariernya di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Hobinya pada foto membawa keberuntungan tersendiri. Bersama sang suami, April mulai merintis bisnis jasa fotografi pernikahan pada tahun 1999.

Perlahan, April mengembangkan bisnisnya dan mulai menempati lahan di Jalan Bengawan, Bandung, sebagai studio dan workshopnya. Para fotografer yang diambil pun sangat beragam, rata-rata berangkat dari para fotografer pemula yang siap dididik dan dilatih supaya profesional.

Tidak hanya SDM, April juga menguatkan marketing Papyrus Photo lewat internet. Tepatnya pada tahun 2005, Papyrus Photo sudah go online dan sekarang, April terus masih mengkampanyekan bisnisnya lewat produk-produk andalan Google.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)