Syoss, Tunggal Brand Beda Trik

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Peribahasa ini dipahami betul oleh perusahaan Jepang yang 'menjajah' Indonesia. Mereka masuk di pasar produk untuk rambut dengan merk Syoss. Meski demikian, bukan berarti perlakuan Syoss terhadap pasar Indonesia sama dengan yang mereka terapkan di Jepang. Rangkaian produk mereka saja jauh berbeda.

Berangkat dari perbedaan karakter rambut, Syoss Jepang dan Indonesia memiliki banyak perbedaan. Penata rambut asal Jepang, Shunsuke Sugai mengungkapkan bahwa rambut orang Indonesia lebih tebal dengan gelombang yang lebih natural. Sementara itu orang Jepang sudah sangat sering memodifikasi rambut mereka sehingga Sugai kesulitan mengatakan karakter rambut mereka yang sebenarnya. “Secara umum rambut orang Jepang tidak setebal orang Indonesia,” lanjutnya.

Manajer Pemasaran Henkel Beauty Care, Irene Notorahardjo menuturkan, meski dinaungi brand yang sama, Syoss di Indonesia jauh berbeda dengan di negara asalnya. “Konsumen Jepang lebih advance, teknologinya lebih maju,” tutur ibu satu anak ini saat ditemui SWA Online usai peluncuran Syoss, Rabu (30/1). Tidak hanya teknologi yang digunakan penata rambut Jepang, bahan yang terkandung dalam produk untuk rambut pun lebih bervariasi. “Di Indonesia, konsumen hanya mau produk dengan bahan yang sudah mereka tahu kegunaannya, seperti moisturizer.” Selain moisturizer, produk Syoss di Indonesia mengandung pro-celliom Keratin yang dikembangkan bersama oleh Henkel R&D dan penata rambut Jepang yang memberikan perawatan untuk rambut rusak secara tepat dan efektif.

Tren mewarnai rambut di rumah pun belum akrab bagi masyarakat Indonesia. Tak heran bila kontribusi pewarna di pasar produk untuk rambut pun masih sangat kecil, antara 5% sampai 10%. Nasib serupa dialami produk-produk penataan rambut, kontribusinya jarang menembus angka double-digit. “Berapa sih wanita yang pakai? Produk styling justru lebih banyak dipakai pria,” ujar Irene. Adapun produk perawatan rambut menyumbang angka penjualan yang paling besar.

Di tahun pertama kemunculannya, Syoss akan menghampiri konsumen di Jakarta, Surabaya, Medan, dan Bandung. Segmen yang dibidiknya adalah segmen menengah yang menginginkan tatanan rambut seperti penata rambut profesional namun dengan harga terjangkau dan dapat dilakukan sendiri di rumah.

Tantangan terbesar yang dihadapi Irene memasarkan Syoss adalah mengenalkan brand Syoss yang sudah bertahan 30 tahun di Negeri Sakura. “Produk ini masih baru, jadi kami harus bisa mendekati masyarakat. Kami mengadakan roadshow di kota-kota besar, membawa booth dan tim ahli supaya konsumen bisa merasakan dan memakai (produk) ini langsung.”

Syoss merupakan salah satu brand yang ditangani Henkel Beauty Care. Produknya sudah dikembangkan dan diuji penata rambut profesional sejak tahun 1977. Sekitar 4 tahun terakhir, Henkel mendorong brand ini jadi besar. Dalam satu tahun, Syoss jadi brand dengan varian produk yang lengkap mulai dari perawatan, pewarnaan, hingga penataan. Bukan itu saja, dalam dua tahun Syoss mendunia, meramaikan pasar 50 negara termasuk Indonesia. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)