Taktik Sandy Mengekspor Aksesori Game Lokal

Gara-gara hobi bermain game di komputer, Frisandy Pinardy semakin kesengsem menggeluti dunia game. Tak hanya itu, Sandy banting setir dari pengusaha aksesori komputer menjadi pengusaha aksesori game bermerek Fantech yang mengekspor produknya ke 89 negara.

Kontribusi terbesar berasal dari penjualan produknya itu di Thailand, disusul Filipina dan Indonesia. Sandy yang menggeluti dunia game sejak 2008 ini meyakini, bisnis aksesori game akan terus berkembang seiring dengan maraknya industri digital dan e-sport yang menciptakan ekosistem yang menunjang bisnis aksesori game. “Dulu, bermain game itu hanya dijadikan hobi, namun sekarang banyak gamer yang menekuninya sebagai profesi,” katanya.

Populasi penduduk Indonesia yang mencapai 250-an juta jiwa menopang pertumbuhan industri game di Tanah Air. Jumlah penduduk ini beriringan dengan tingginya daya beli konsumen dan pengguna internet. Tentu saja, hal ini menguak peluang bisnis yang menggiurkan bagi pelaku usaha. Sebagai indikator, riset Newzoo menyebutkan, 82 juta pengguna internet di Indonesia per Januari 2019 telah membelanjakan uangnya hingga total US$ 1,08 juta untuk bermain game dan menempatkan Indonesia di posisi 17 dari sisi pendapatan.

Di antara negara-negara Asia Tenggara yang mendapatkan pendapatan dari bermain game, Indonesia menduduki peringkat pertama, disusul Thailand, Malaysia, Vietnam, Filipina, dan Myanmar. Di sisi lain, Asia Tenggara, termasuk Indonesia, adalah wilayah dengan peningkatan jumlah penonton eSports paling agresif: diperkirakan sebanyak 31,9 juta di tahun 2019.

Sandy pun bergerak lincah lantaran melakukan pivot bisnis di tahun 2013. Kala itu, dia menjual aksesori komputer yang ditekuninya sejak 2008. Bisnisnya itu dikembangkan dengan mendirikan Fantech. “Kami melakukan rebranding, mendirikan Fantech sebagai brand aksesori khusus gaming. Nama Fantech diambil dari kata ‘Fun’, yang lebih berjiwa muda dan menyenangkan, serta ‘Tech’ dari kata teknologi,” tutur Sandy. Fantech, yang didirikan oleh tiga orang, ditegaskan Sandy sebagai merek aksesori game buatan lokal, kendati diproduksi di China.

Fantech menyediakan varian produk yang menyasar pemain game berusia 13-24 tahun. Harganya pun bervariasi, disesuaikan dengan daya beli konsumen. Sebagai contoh, harga mouse khusus game dibanderol Rp 50 ribu-699 ribu, keyboard Rp 99 ribu-739 ribu, headset Rp 55 ribu-399 ribu, kursi Rp 899 ribu-3,29 juta, dan meja Rp 3,5 juta-3,9 juta per unit. “Yang menjadi best seller Fantech adalah keyboard tipe MK-851 seharga Rp 739 ribu dan mouse tipe X9 seharga Rp 129 ribu,” Sandy menerangkan.

Kualitas produk dijaga dengan apik oleh Sandy dan tim agar produk berkualitas ekspor ini tak mengecewakan pembeli. Karena itu, dia menginstruksikan kepada 80 pegawai Fantech, yang sebagian besar bertugas di toko Fantech, China, untuk menjaga kualitas produk. Di China, saudaranya menangani tim riset dan pengembangan Fantech. Di negara tersebut, Fantech memiliki kantor dan toko yang memajang beragam produknya.

Untuk menggenjot penjualan, Fantech agresif berjualan di kanal digital, seperti media sosial dan website, juga bermitra dengan influencer. Strategi penjualan di ranah digital ini dikombinasikan dengan penjualan offline. Untuk itu, Sandy menginisiasi pembukaan toko Fantech di pusat perbelanjaan Mangga Dua, Jakarta. Toko di Mangga Dua itu dibuka setelah Fantech meraih reputasi dari konsumen di luar negeri. “Setelah nama Fantech besar di luar negeri, kami berani membuka store di Jakarta,” ujarnya.

Di Indonesia, Fantech kian meningkatkan citra mereknya, bekerjasama dengan agen dan toko komputer di seluruh Indonesia. Agar kian mengerek citra merek Fantech di pasar mancanegara, manajemen kerapkali berpartisipasi di ajang perlombaan game di Thailand, Filipina, dan Myanmar. “Di Indonesia, kami lebih mendekatkan diri kepada komunitas game. Pameran yang pernah kami ikuti pun ada di Indonesia, Hong Kong, dan Taiwan. Di Januari 2020 pun, kami akan mengikuti pameran di Amerika Serikat,” Sandy menuturkan.

Strategi itu menyokong pertumbuhan omset Fantech sebesar 20% di tahun 2018. “Kami berharap, peningkatan bisnis tahun ini dan ke depannya itu minimal tumbuh 30% per tahunnya. Dalam setahun, kami selalu menargetkan untuk meluncurkan 50 hingga 70 produk baru yang dipasarkan di seluruh negara,” katanya.

Perihal laju bisnis Fantech itu, Nurdin Sobari, Konsultan Senior Lembaga Management Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, mengatakan, arah bisnis Fantech sudah tepat karena mampu meningkatkan omset setiap tahun. Untuk meningkatkan pangsa pasarnya, Nurdin mengimbau Fantech melakukan inovasi produk, menambah varian produk, memperluas target konsumen baru yang berbasis psiokografis. “Lalu, membangun loyalitas konsumen yang sudah ada supaya mendukung growth bisnis Fantech,” kata Nurdin.

Agar penjualannya kian kinclong, Fantech berinovasi merilis produk yang selaras dengan perkembangan teknologi. Rencana berikutnya, Sandy akan membuka Fantech Store di berbagai kota besar di Indonesia.

Dengan konsep store yang sekarang, yaitu sebagai experience store, dipadukan dengan digital marketing, pihaknya berharap konsumen lebih yakin lagi kepada Fantech. “Di tahun ini pun, tim Fantech berencana mengembangkan produk untuk kelas menengah-atas,” ujar Nurdin. Taktik ini merupakan upaya Fantech untuk terus meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap kualitas aksesori game buatan anak negeri. (*)

Chandra Maulana & Vicky Rachman

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)