Terobosan Startup Aruna Bantu Para Nelayan

Farid Naufal Aslam, CEO Aruna.
Farid Naufal Aslam, CEO Aruna.

Berbeda dengan kebanyakan startup yang menyasar sektor modern dan kalangan perkotaan, startup besutan Indraka Fadhillah, Utari Octavianty, dan Farid Naufal Aslam ini menjadikan kalangan nelayan dan sektor kelautan sebagai target usaha. Tiga sekawan itu pada 2016 mendirikan Aruna sebagai startup yang fokus di bidang kelautan dan perikanan dan ingin membangunnya sebagai platform industri perikanan yang terintegrasi.

“Masalah yang ada saat ini di industri perikanan Indonesia, nelayan tidak hanya dibayar rendah, tetapi industri perikanan juga mengalami rantai pasokan yang tidak efisien, kontrol kualitas yang buruk,” kata Farid Naufal Aslam, CEO Aruna yang lulusan S-1 Telkom University.

Farid dan kedua temannya lalu termotivasi untuk mencari solusi atas masalah tersebut guna mengatasi masalah di industri perikanan dengan menggunakan inovasi dan teknologi untuk meningkatkan kesejahteraan para nelayan di Indonesia. Aruna berupaya membangun ekosistem dengan merapikan data dan sistem rantai pasok.

Dalam ekosistem yang dibangun, Aruna berperan di sisi distribusi produk-produk perikanan dan hasil laut, dengan menjamin penyerapan produk perikanan mitra nelayan dan menyalurkannya ke pasar global. Dari sisi model bisnis, Aruna mendapatkan keuntungan dari setiap penjualan produk ini ke konsumen akhir. Pihaknya bisa mengajukan harga beli yang lebih baik kepada nelayan.

Hasil laut nelayan disalurkan ke pabrik-pabrik pemrosesan yang akan mengolahnya sebelum didistribusikan ke pelanggan Aruna di pasar global. Selain menjembatani proses transaksi, Aruna juga membantu meningkatkan taraf hidup nelayan dan petambak dengan cara menyalurkan asuransi dan permodalan, bekerjasama dengan bank atau institusi keuangan lainnya.

“Kami memiliki Aruna Site, semacam tempat untuk mitra nelayan kami berkumpul dan beraktivitas sebagai mitra Aruna yang menjadi representatif dari kelompok nelayan di setiap desa pesisir,” kata Farid. Para nelayan dapat mendaftarkan diri secara perorangan ataupun berkelompok di Aruna Site tersebut, didampingi pemuda lokal yang diberi nama Local Heroes.

Di Aruna Site tidak hanya dilakukan pembinaan aktivitas Local Heroes dan nelayan. Ada juga pemberdayaan wanita atau ibu-ibu pesisir yang membantu pemrosesan ikan sehingga ada nilai tambah dari ikan hasil tangkapan.

Hingga kini sudah ada 21.300 nelayan yang terdaftar di Aruna di 40 desa nelayan yang tersebar di 13 provinsi di Indonesia. “Sebagai gambaran, tahun lalu kami menyumbang 20% dari total lobster yang diekspor dari Indonesia ke pasar Asia Timur. Lalu, 70% produk kami berorientasi ekspor dan mayoritas dikirim ke Amerika Utara, Asia Timur, Asia Tenggara, dan Timur Tengah,” Farid menjelaskan. Perusahaan rintisan ini justru berhasil mencetak pertumbuhan pendapatan 86 kali di tengah pandemi.

Karena prestasi rintisan ini yang mulai kelihatan, tak mengherankan, sudah ada beberapa pemodal ventura yang tertarik menanamkan modalnya. Baru-baru ini Aruna mendapatkan pembiayaan senilai US$ 5,5 juta dari East Ventures, AC Ventures, dan SMDV. Modal tersebut akan digunakan untuk mendukung rencananya memperkuat basis komunitas mitra nelayan dan memperluas jangkauan operasional.

Ke depan, Farid menargetkan Aruna melakukan ekspansi pasar ke lebih banyak negara. Selain itu, juga menambah jumlah komoditas untuk dipasarkan serta menjangkau lebih banyak nelayan dan petambak di Indonesia.

“Kami mempunyai mimpi jangka panjang di Aruna yang kami sebut sebagai mimpi 30 tahun, yaitu pada tahun 2045. Kami ingin menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia dan Aruna bisa menjadi perusahaan teknologi skala global yang terdepan di bidang perikanan dan kelautan,” kata Farid bersemangat. (*)

Sudarmadi & Anastasia A.S.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)