Upaya Dekarnas DKI Memajukan Batik Jakarta

Indonesia kaya akan ragam batik dan penduduknya banyak yang kreatif. Tanpa kreativitas, kain batik hanya akan mejadi kain tanpa hiasan yang menarik. ”Orang Indonesia itu kreatif, tapi butuh arahan biar karya mereka menjadi lebih bagus. Dulu di Jakarta saya banyak lihat orang-orang membatik tapi gambarnya aneh, suka asal, dan kurang menarik,” jelas Veronika Tan Basuki, Ketua Dekarnas Jakarta.

Menurutnya, di Jakarta juga banyak orang kreatif, sehingga mampu membuat kerajinan batik yang penuh warna, tidak kalah dengan pengrajin batik Jawa. Sayangnya, tema batik Jakarta kurang bervariasi. Nah, tahun ini, Dekarnas Jakarta memilih tema batik flora dan fauna agar karya batiknya  lebih kreatif.

Veronica

Namun tema saja ternyata tidak cukup, “Kita sudah melaunching tema baru, tapi sebenarnya masih ada masalah lain. Pengrajin kita itu kalau jual 1 atau 2 buah masih sanggup, tapi kalau sudah mulai banyak 100 atau 200 pieces, mereka mulai kewalahan," ungkap isteri Gubernur DKI Jakarta itu.

Baginya, masalah ini bisa disiasati dengan cara bekerja sama pihak-pihak yang memiliki kepedulian terhadap batik Indonesia, terutama batik Jakarta. “Misalnya dengan LSM atau organisasi kreatif yang concern dengan kerajinan batik. Sebenarnya tidak hanya terbatas dengan batik tetapi juga berbagai buah tangan hasil pengrajin,” ujar perempuan asal Medan ini.

Permasalahan batik ini merupakan masalah yang cukup serius,”Dekranas DKI sengaja meluncurkan tema baru biar pengrajin semakin kreatif, tapi bukan berarti setelah itu kita lepas tangan. Nanti kita akan mengadakan pelatihan, kalau misal memang ada yang merasa skill-nya kurang terasah," dia menambahkan.

Kreativitas yang mereka ciptakan pastinya akan membutuhkan tempat untuk dijual. Sejak 3 tahun yang lalu sewaktu  Irene masih menjabat sebagai Ibu Gubernur DKI Jakarta sudah dipikirkan untuk memberikan tempat bagi hasil kreativitas pengrajin.

"Harus ada tempat jualannya, dengan begitu mereka akan lebih bersemangat dalam menciptakan kreativitas. Memang waktu itu tempatnya belum ketemu,” terang ibu 3 anak ini.

Ia pun bersama tim Dekranasda sama-sama berupaya mecarikan tempat yang strategis. “Awalnya kita cari tempat yang tidak digunakan, tapi sering dilewati orang. Lalu kepikiran untuk di Balaikota saja, tapi di sebelah mana. Saat itulah ada yang mengusulkan untuk di bawah tangga,” ia bercerita sambil tertawa.

Baginya, yang penting galerinya ada. Lokasi galeri ini cukup strategis karena merupakan tempat lalu lalang. Tujuan utamanya itu orang-orang tahu bahwa kita punya galeri. Di situ juga yang banyak lewat ibu-ibu, jadi bisa sekalian habis gajian beli kain di galeri.

Upaya wanita berusia 37 tahun ini juga tidak berhenti sampai di situ, ia pun terus menjalankan berbagai strategi dalam rangka membantu para pengrajin batik. Salah satunya melalui Puskat, sehingga pengrajin anggota Deskranada bisa menyewa tempat di mal, tanpa bayar namun bukan berarti tanpa jaminan.

“Saya minta sama pihak mal kalau memang pengrajin kita ternyata tidak serius jangan dikasihani. Kalau memang kualitasnya tidak dijaga, ya keluarin, jangan manjain orang saya,” tegasnya.

Ia pun berencana untuk menata ulang para pengrajin yang ada di Deskranada. Pengrajin yang betul- betul serius akan didaftarkan pada berbagai pameran, puskat, atau karyanya di pajang di balaikota. Pelatihan pun akan diberikan, agar menaikan kualitas para pengrajin.

"Zaman sekarang itu pengrajin jangan hanya bersaing di tingkat nasional saja, tapi global juga makanya kualitas harus dijaga.” Ia pun berencana menyisati biaya produksi dengan memanfaatkan ibu-ibu umah tangga.

“Di Thailand itu, harga produksi bisa murah karena mereka menyasar ibu-ibu di rumah. Mereka dilatih untuk bisa berkreativitas. Jadinya ngga perlu bayar pabrik, ibu-ibu rumah tangga juga ada kegiatan lain dan pemasukan tetapi tetap bisa menjalankan aktivitas mereka sebagai ibu ruma tangga. Target kami adalah ibu-ibu yang tinggal di Rusunawa,” jelas ibu dari Nicholas Sean, Natania, dan Daud ini.

Ia pun tak ingin main-main karena ke depannya ia berharap bisa bekerjasama dengan berbagai pengrajin batik yang memiliki nama.”Kami ingin bekerjas ama dengan Danar Hadi atau Pak Iwet, nanti kita akan membuat proposal. Tentunya tidak terbatas pada kain batik saja tetapi berbagai souvenir," ucapnya.

Selain itu ia pun masih memiliki ambisi lain.” Nantinya akan ada Jakarta Fashion Week di kota tua dan tahun depan ASEAN Games. Jadi kita harus pintar-pintar melihat pasar, apakah mereka mau dan apakah kita siap atau tidak ini harus diperhatikan jadi tidak asal produksi lalu jadi, tapi pasar nggak ada,” tegasnya lagi. (EVA)

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)