Viro Agresif Garap Bangunan Bertema Tropikal di Dunia

Viro memperkenalkan kategori ‘eco faux’.  Merek dagang dari PT Polymindo Permata ini menyediakan solusi-solusi inovatif untuk dunia arsitektur dan interior melalui kreasi serat atau bahan baru yang terdiri atas bahan non-natural high-density polyethylene (HDPE) maupun kombinasi bahan natural dengan mineral alami.

Dengan demikian,  Viro dapat menawarkan material yang lebih ramah lingkungan, namun tetap bernilai estetika tinggi dan mampu memenuhi tuntutan rancangan masa kini.

Melalui pendekatan bahan dan desain tradisional yang mengedepankan tema tropis, Viro juga berupaya untuk melestarikan budaya anyam lokal di Indonesia melalui penerapan pengerjaan produk yang bersifat hand made atau masih menggunakan keahlian tangan para pengrajin.

Hingga kini, serat dan produk-produk jadi seperti atap alang-alang dan furnitur anyam yang dihasilkan oleh Viro telah tersebar tidak hanya di Indonesia, namun juga berbagai belahan dunia seperti Amerika,Eropa, Tiongkok, Maldives, Fiji, dan Timur Tengah.

"Klien kami itu kebanyakan taman tematik (theme park) atau resort yang mengusung konsep bangunan tropikal. Mereka selalu pakai referensi resort-resort di Bali," jelas Johan Yang, Executive Vice President Viro saat ditemui di Pameran Indo Build Tech, 2018 di ICE, Serpong (3/5/2018).

Viro juga sering berkolaborasi dengan desainer dan arsitek untuk mengerjakan berbagai proyek yang dipercakan kliennya. Salah satunya adalah membangun Paviliun Indonesia di World Expo di Milan, 2015 lalu. Kien Viro lainnya adalah Mercure Hotel di Koodo Resort, Maladewa dan Banana Island, Qatar.

Pada pameran IndoBuildTech 2018, Viro juga turut menampilkan koleksi-koleksi produk archineering yang merupakan representasi budaya khas beberapa wilayah di Indonesia, seperti tameng anyam yang terinspirasi dari tameng suku Dayak, dan warna oranamen tenun suku Badui, serta anyaman serupa alat musik Tifa khas Papua yang seluruhnya dikreasikan menggunakan serat eco faux Viro.

Adapun ornamen lain yang juga dihadirkan di dalam Gazebo adalah prototipe totem yang dipasok oleh perusahaan kepada taman hiburan Disney’s Animal Kingdom di Florida, Amerika Serikat. Selain itu, Viro menunjukkan keahlian dalam memberikan solusi lantai bambu, penutup dinding dan langit-langit  serta atap alang-alang.

Sebagai salah satu mitra yang telah berkolaborasi dengan Viro, Dani Hermawan (FormologixLab),arsitek yang banyak bergerak di bidang pengembangan desain komputasi dan fabrikasi digital di bidang artsitektur, mengatakan, konsep archineering dari Viro membawa kesegaran baru bagi para perancang bangunan.

Hal itu karena dengan material dari Viro,  bisa memadukan arsitektur, engineering, dan materialitas menjadi satu sinergi baru bagi lingkungan binaan. Teknologi material serat terbaik yang dikembangkan Viro memungkinkan kontrol yang lebih baik dan teruji dari segi properti material yang lebih konsisten, durabilitas terhadap kondisi iklim ekstrim, kualifikasi fire retardants yang baik, tidak beracun, dan tahan lama. Hal ini berpeluang menjadi daya tarik tersendiri bagi penggiat arsitektur untuk berkolaborasi dalam inovasi teknik material sejak proses mendesain arsitektur hingga aplikasinya, sehingga mencapai performa yang diharapkan.

Setelah sukses menggarap pasar B2B, kini Viro juga mulai melebarkan sayap menggarap segmen B2C, melalui brand Viroforms. Ini adalah produk perlengkapan rumah tangga seperti piring dan keranjang rotan dan furnitur. Viroform dipasarkan melalui ritel furnitur dan e-commerce. "Pasar B2C sudah kami mulai sejak dua tahun lalu dan berkembang sangat baik, tahun lalu tumbuh double digit, jadi kami akan terus besarkan," jelas Johan.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)