Mas Wigrantoro, Jago Telematika di Pucuk Raja Baja

Mas Wigrantoro Roes Setiyadi Mas Wigrantoro Roes Setiyadi, Direktut Utama PT Krakatau Steel (Persero) tbk

Benar-benar menantang tugas yang diamanatkan pemerintah ke Mas Wigrantoro Roes Setiyadi. Pada 29 Maret 2017, pria yang akrab disapa Mas Wig ini ditunjuk sebagai Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk., BUMN baja yang selama lima tahun sebelumnya selalu merugi.

Ya, rapor KS selalu merah membara. Pada 2016, rugi US$ 171,69 juta. Selama empat tahun sebelumnya, kinerjanya juga tak kece: rugi US$ 320 juta (2015), rugi US$ 147,11 juta (2014), rugi US$ 13,98 juta (2013), dan rugi US$ 20,43 juta (2012). Buruknya performa ini juga dikonfirmasi dengan kenyataan di lapangan: produk-produk KS layu dihantam produk baja China dan Korea yang makin agresif masuk Indonesia. “Memang tugas utama yang diamanatkan ke saya (adalah) bagaimana membuat BUMN ini bisa untung,” ungkap Mas Wig.

Tentu, pemerintah tak sembarang tunjuk orang. Sekalipun 10 tahun lalu sempat dikenal sebagai pakar telematika, Mas Wig sukses memimpin (sebagai CEO) Bakrie Metal Industries dan Bakrie Pipe Industries -- salah satu aset terbaik Grup Bakrie yang masih untung saat itu. Di sana dia berhasil melakukan beberapa program pembenahan untuk melejitkan kinerja.

Di KS, setelah setahun bertugas, dia sudah menemukan beberapa inti persoalan serta solusi yang sudah mulai dan akan dijalankan. “Persoalan di sini sama sekali bukan kualitas SDM karena semua jago dan mereka sarjana-sarjana terbaik. Ini masalah leadership dan manajemen,” ujar kelahiran Purbalingga, 28 Juli 1961, ini serius.

Dari sisi kerugian keuangan yang membengkak, sebut contoh, dia menganalisis, selain karena beban utang, juga kinerja anak usaha dan perusahaan afiliasi yang buruk sehingga kinerja konsolidasi morat-marit. Untuk itu, dia mengumpulkan direksi dan GM di anak-anak usaha. Mereka diberinya tantangan dan target baru agar bisa turnaround. “Kami di holding ditarget oleh pemerintah harus segera untung, maka kami juga mengatakan hal serupa ke anak-anak usaha, harus segera untung,” dia bercerita.

Di sinilah aspek kepemimpinan menjadi hal penting. Mas Wig sudah memetakan mana saja direksi di anak usaha dan perusahaan afiliasi yang bisa bisa diajak berlari dan yang sudah tak memungkinkan. Bagi yang tidak mungkin diajak meningkatkan kinerja sesuai dengan strategi baru, Pak Dirut baru ini tak segan menggantinya.

Salah satu hal penting yang dilakukan adalah memberikan target serta kepercayaan kepada direksi anak usaha untuk membuat keputusan sendiri. “Aspek leadership ini yang kami ubah. Karena rugi beruntun, direksi di anak usaha tadinya tidak percaya diri untuk membuat keputusan bisnis. Para manajer bergantung pada arahan pusat. Ini dampak karena lama nggak diberi kepercayaan,” Mas Wig menjelaskan.

Menurutnya, hanya dengan cara ini anak usaha akan berani dan kreatif mencari solui untuk meningkatkan kinerja masing-masing. “Sampai awal 2017, kontribusi profitabitas anak perusahaan ke induk hanya 15%. Sekarang kami minta mesti bisa kontribusi 60%. Jadi, profitabilitas setiap anak usaha harus naik tiga kali,” ujar lulusan S-3 Manajemen Strategis Universitas Indonesia ini.

Mas Wig juga berusaha menggenjot kinerja dengan cara kolaborasi antar-unit dan antar-anak usaha, serta efisiensi proses bisnis. Dia memberlakukan kebijakan baru di bidang pemasaran dengan apa yang disebutnya sebagai “one integrated marketing services”. Dulu setiap anak usaha jalan sendiri-sendiri. Sekarang, dibentuk tim pemasaran terintegrasi di pusat.

Strategi efisiensi juga menjadi pilar perubahan yang digulirkan. Selama ini, 84-86% dari total biaya merupakan ongkos pembelian bahan baku, plus beberapa biaya lain sehingga gross margin profit hanya di level 10-12%. Kalau seperti ini, menurut Mas Wig, kondisinya pasti akan selalu dalam ancaman laba negatif. KS harus menaikkan gross margin menjadi 20% dengan cara menekan biaya dan mencari bahan baku yang lebih kompetitif. “Paling tidak gross margin sampai 18%,” katanya. Langkah efisiensi inilah yang sekarang dalam proses dikejar oleh setiap unit di KS.

Meskipun baru setahun memimpin, Mas Wig merasakan sudah banyak perubahan. Setidaknya dia menangkap saat ini seluruh lini telah merasakan kerinduan untuk meraih kinerja bagus. Sampai akhir 2017, katanya, kalau dilihat di laba bersih yang ada di pos terbawah, memang masih negatif. Namun, itu karena warisan utang tahun-tahun sebelumnya yang harus ditanggung. Adapun laba operasional sudah positif.

Setelah pada 2016 rugi US$ 171,69 juta, di akhir 2017 turun menjadi US$ 72 juta. “Kemarin sudah enam anak usaha yang untung atau positif net profit, tinggal dua anak usaha yang rugi,” ungkapnya. Kerugian di entitas induk juga berkurang, dari US$ 50 juta menjadi tinggal US$ 9 juta. Jadi, “Ini sudah dalam track yang benar,” ujar Mas Wig yang yakin pada akhir kuartal I/2018 net profit KS sudah positif.

Kini Mas Wig dan timnya sedang menggenjot perubahan budaya perusahaan sekaligus meningkatkan kapasitas operasional bisnis. “Mau nggak mau harus ekspansi untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing. Klaster Cilegon ditargetkan bisa produksi 10 juta ton baja di 2022,” katanya. Tak mengherankan, pihaknya sedang membangun berbagai fasilitas baru seperti pabrik baja cair, hot strip mill, cold roll mill, dan peningkatan kapasitas produksi besi beton siku. Untuk peningkatan kapasitas besi beton ini, pihaknya bekerjasama dengan Osaka Steel.

Sejauh ini langkah Mas Wig memang sudah tampak positif. Namun, tentunya masih terlalu dini untuk merayakannya. Publik masih menunggu langkah terobosan berikutnya. (Reportase: A. Kemas)

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)