Masa Depan Fungsi Keuangan di Era Digital dalam Pembahasan CIMA- Microsoft

Di ranah digital, fungsi keuangan bergeser dari yang didasarkan pada biaya menjadi didasarkan pada nilai organisasi. Dengan kata lain, fungsi keuangan tidak akan lagi dievaluasi semata-mata pada seberapa mahal dalam menjalankannya, dan dipandang hanya sebagai pusat biaya lainnya. Sebaliknya, fungsi keuangan akan dinilai berdasarkan nilai tambah yang dibawa ke organisasi dan komunitas yang lebih luas.

Bagi para profesional keuangan, perubahan ini menyoroti prospek karier yang menguntungkan di bidang keuangan - perubahan di mana mereka dapat menambah nilai nyata bagi organisasi dan masyarakat secara keseluruhan.

Untuk itu, The Chartered Institute of Management Accountants (CIMA) bersama dengan Microsoft Indonesia bersama-sama mengorganisir workshop “Masa Depan Keuangan, “Re-inventing Finance for a Digital World” untuk para profesional keuangan. Lokakarya ini berfokus pada diskusi tentang bergerak dari fungsi biaya ke fungsi nilai di dunia digital.

Lokakarya ini untuk berbagi tentang perubahan peran dalam fungsi keuangan, karena teknologi yang terus berkembang. Juga, untuk terjun dalam dunia analitik data dan mendapatkan pemahaman komprehensif tentang Microsoft Power BI. “Tujuan acara ini adalah CIMA memberikan standar skll yang baru di dunia finance dan akuntansi,” ujar Dwi Putra Widiyanto, Country Manager of CIMA Indonesia.

Menurut Dwi, lokakarya CIMA dan Microsoft ini untuk yang pertama kalinya dilakukan kerja sama. Namun, sebelumnya, CIMA sudah melakukan banyak kerja sama dengan perusahaan lain. “Tiap tahun, kami mengadakan lokakarya seperti ini dua kali. Agar hasil optimal, jumlah peserta dibataasi maksimal 60 orang tiap lokakarya berlangsung. Peserta biasanya dari kalangan staf finance atau accounting. Setelah mengikut lokakarya, kami harapkan peserta dapat memberikan insights kepada atasan atau bos masing-maisng,”jelasnya.

Banyak benefit yang didapat peserta lokakarya CIMA. Pasalnya, pembiacara tidak hanya dari pakar atau profesional dari dalam negeri, tapi juga mancanegara. “Speaker hari ini misalnya ari Malaysia. Sebelumnya, CIMA juga menghadirkan pembicara dari Amerika Serikat dan Inggris. Jika selama ini peserta bekerja dengan frame lokal, maka dengan ikut seminar ini akan membuka wawasan lebih luas,” ungkap Dwi.

Dwi berpendapat, ke depan, seorang akuntan atau bagian finance, makin banyak menghadapi tantangan di bidang teknologi. Jadi, tugasnya tidak sebatas mengolah data pembukuan, tapi juga memberikan masukan untuk atasannya dalam manajemen perusahaan tempat bekerja para peserta.

Adapun topik yang dibahas meliputi dalam lokakarya CIMA – Microsoft ini adalah - mengubah kinerja fungsi keuangan untuk memenuhi tantangan, kemampuan analitik data untuk profesional keuangan dan mengatasi tantangan dan meningkatkan keterampilan analisis data dengan Microsoft Power BI dan Artificial Intelligence.

Sebagian besar tim keuangan dan profesional tidak mengembangkan keterampilan mereka cukup cepat untuk memperhitungkan dampak kecerdasan buatan, otomatisasi proses robotisasi, dan teknologi lainnya menurut Re-inventing Finance for A Digital World,” sebuah studi yang dirilis CIMA.

Mayoritas (lebih dari 50 persen) pemimpin keuangan secara global mengatakan kompetensi tim mereka harus "berubah secara signifikan" selama tiga tahun ke depan karena teknologi baru mengambil alih tugas-tugas tradisional. Keuntungannya: bisnis mengharapkan fokus yang lebih kuat pada penciptaan nilai dengan otomatisasi tugas yang berulang. Keahlian dalam bidang-bidang seperti analitik data, manajemen risiko dunia maya dan model bisnis akan memfasilitasi perubahan ini. Mendukung ini, juga akan menjadi kebutuhan untuk pergeseran dalam pola pikir untuk terus belajar, melepaskan dan mempelajari kembali keterampilan baru untuk menghadapi kompleksitas dan beroperasi di lingkungan yang semakin gesit.

Penelitian ini mengungkapkan bahwa: sebanyak 61% profesional keuangan yang disurvei mengharapkan lebih dari 20% tugas keuangan akan diotomatisasi dalam 3 tahun ke depan. Lebih dari separuh (55%) telah melihat langkah menuju proses “yang nampaknya” terotomatisasi. Namun, pelaporan di belakang (hindsight reporting) , misalnya, masih mencakup 65% dari hasil laporan tim keuangan.

Penelitian ini mengacu pada wawasan dari lebih dari 5.500 profesional keuangan di 2.000 organisasi publik dan swasta dari semua skala organisasi di 150 negara. Temuan penelitian dan respons melengkapi penelitian tambahan yang diluncurkan oleh Association of International Certified Professional Accountants (The Association) - suara terpadu CIMA dan American Institute of CPAs (AICPA) - dan Oracle, yang menemukan bahwa 90% tim keuangan saat ini tidak memiliki keterampilan untuk mendukung transformasi digital dan mendukung kemampuan bisnis untuk bertumbuh dan membuat keputusan perusahaan yang lebih baik.

Lokakarya CIMA-Microsoft ini selain dihadiri DwiPutra Widiyanto, Country Manager Indonesia of The Association of International Certified Professional Accountants (The Association) dan berbagai pembicara seperti Daniel Setiawan ACMA, CGMA, Finance Director, Cargill Indonesia, Thivanka Rangala, FCMA, CGMA, CFO, Edotco Group, Adri Kwe, ACMA, CGMA, Managing Partner, KCG Consulting Group dan banyak lagi.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)