McKinsey: PDB Akan Meningkat 9% Jika Percepat Kesetaraan Gender

Philia Wibowo, Presiden Direktur McKinsey Indonesia menyampaikan hasil riset. (Foto: Anastasia/SWA).

McKinsey Global Institute (MGI) merilis survei terbaru. Hasilnya, Indonesia dapat meningkatkan Product Domestic Brutto  tahunan sebesar US$135 miliar di tahun 2025 atau berada di angka 9% diatas kondisi normal.

Hal ini disampaikan Presiden Direktur PT McKinsey Indonesia, Philia Wibowo di Jakarta, hari ini (2/8/2018). Menurutnya, saat ini Indonesia menunjukan kinerja yang sedikit lebih baik dari rata-rata negara Asia Pasifik lainnya dalam hal kemajuan kesetaraan perempuan. Sementara dalam kesetaraan gender di tempat kerja, kemajuan Indonesia berada di atas rata-rata.

Indonesia juga diklaim telah berhasil menurunkan angka kematian ibu dan kesenjangan gender di bidang pendidikan. Meski demikian, dia menjelaskan angka ketidaksetaraan yang tinggi masih ditemukan di beberapa wilayah Indonesia.

“Skor Gender Parity Score (GPS) Indonesia dalam kesetaraan di dunia kerja berada pada angka 0,52 diatas rata-rata regional yakni 0,44. Dalam hal layanan dan pendukung ekonomi yang esensial, kita berada di angka 0,88 diatas rata-rata negara Asia Pasifik sebesar 0,85,” ujarnya.

Salah satu peluang yang signifikan untuk Indonesia adalah memperkuat perlindungan hukum yang saat ini masih lemah bagi perempuan, khususnya untuk pekerja perempuan di sektor informal yang saat ini mencapai 54% dari total pekerja perempuan. Selain itu, diperlukan juga aksi untuk meningkatkan jumlah perempuan dalam posisi kepemimpinan perusahaan yang masih dinilai rendah. Dia menambahkan, partisipasi perempuan di dunia kerja juga harus ditingkatkan. Melihat perkembangan saat ini yang berjalan secara pelan di angka 51%. “Meskipun perempuan Indonesia mewakili 38% dari keseluruhan angkatan kerja, perempuan hanya berkontribusi sebesar 29% terhadap PDB, ini merupakan kontribusi terendah di wilayah Asia Pasifik,” ujarnya menambahkan.

Laporan McKinsey pada Januari 2018 mengidentifikasi bahwa perusahaan yang berada di kuartil atas dalam hal keragaman gender pada tim eksekutif memiliki peluang sebesar 21% unggul dalam profitabilitas. Sementara 27% lebih berpeluang untuk memiliki value creation yang superior. Sementara itu, teknologi digital dinilai dapat meningkatkan produktivitas para wirausahawati di Indonesia. “UKM yang dimiliki oleh perempuan berkontribusi sebesar 9,1% terhadap PDB, yang juga merupakan salah satu kontribusi tertinggi di dunia. Sementara itu, bisnis yang dimiliki perempuan menjaring sebesar 35% dari pendapatan perdagangan online,” kata dia.

Partner Mckinsey & Company, Guillaume de Gantes, menjabarkan, Indonesia saat ini memiliki beberapa fondasi yang kuat untuk dapat ditingkatkan lebih lanjut. Misalnya wirausahawati dengan bisnisnya yang inovatif. “melibatkan prempuan sepenuhnya untuk berpartisipasi dalam dunia kerja berarti menghargai waktu yang mereka habiskan untuk pekerjaan rumah tangga dan berusaha mengurangi waktu tersebut melalui perbaikan infrastruktur,” kata dia.

Perbaikan infrastruktur yang dimaksud meliputi akses terhadap air bersih, sanitasi, bahan bakar, dan transportasi yang lebih efisien. Keempat hal tersebut diyakini dapat membantu mengurangi jumlah waktu yang dihabiskan perempuan untuk pekerjaan rumah tangga, yang dapat membatasi mereka untuk bekerja ataupun berbisnis.

Lebih jauh dia mengatakan, apabila Indonesia berkomitmen untuk meningkatkan digitalisasi ekonomi dan meningkatkan akses bagi perempuan, maka akan mengatrol prospek perekonomian Indonesia sendiri. “Akan banyak peluang baru yang terbuka bagi perempuan untuk menghasilkan pemasukan bagi keluarganya, sehingga dapat meningkatkan prospek perekonomian Indonesia,” ujarnya.

Adapun 4 prioritas yang ditawarkan McKinsey untuk meningkatkan kesetaraan perempuan adalah pertama, meluaskan akses infrastruktur untuk mempermudah kerja rumah tangga dengan peningkatan investasi di bidang tersebut dengan anggaran yang mempertimbangkan gender. Selain itu pemerintah juga dapat menggandeng LSM untuk pengembangan infrastruktur di wilayah terpencil. Serta mengenalkan produk dan layanan yang inovatif untuk membantu perempuan dalam kerja-kerja rumah tangga.

Kedua, mendorong akses digital, pengembangan keterampilan, dan pelatihan bisnis bagi para wirausahawati. “keterampilan digital bisa diajarkan pada tahun-tahun awal sekolah menengah, kemudian memperlua program keterampilan digital kepada pebisnis perempuan, dan menyesuaikan platform, produk, layanan, dan pemasaran digital."

Ketiga, Indonesia dapat menggiatkan masyarakat untuk mempelajari bagaimana mengelola karir dan keluarga, mendidik dan mengaktifkan jaringan tokoh laki-laki yang mendukung kesetaraan perempuan, dan melakukan kampanye kesadaran masyarakat untuk meningkatkan penghargaan dan pembagian kerja rumah tangga.

Keempat, mengesahkan undang-undang ketenagakerjaan untuk menegaskan pilihan paruh waktu, cuti, paternitas yan lebih panjang, dan mengatasi pelecehan seksual. "Intinya adalah melegalisasi dan menegaskan perlindungan hukum yang lebih luas bagi perempuan," ujarnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)