Media TV Masih Akan Dominasi Periklanan 2019

Maya Watono CEO Dentsu Aegis Network (DAN) Indonesia yang baru (tengah)

Tahun depan merupakan tahun politik di mana untuk pertama kali pemilihan presiden dan wakil rakyat diadakan bersamaan. Untuk industri periklanan bisa menjadi kesempatan  membuat konten sekreatif mungkin terkait pemilu mengingat perhatian masyarakat tertuju ke sini.

Di era digital, lanskap iklan tentu masih ada pengaruh pengembangan strategi marketing digital, namun iklan TV masih mendominasi. Kuncinya pada membuat konten sekreatif mungkin. Hal ini terungkap saat diskusi tentang memahami lanskap periklanan Indonesia di 2019.

Menurut Antonius Pribadi, Managing Director DSP Media, tahun depan pelaku bisnis memang ada kondisi wait and see tapi kondisi tahun depan masih lebih baik dibanding 2014. "Pada 17 April Pemilu nanti, masyarakat sudah lebih paham dan tahu yang akan dipilih. Semula pelaku bisnis memang seperti menunda, tapi dengan situasi yang lebih mendukung industri akan terdorong lebih cepat lagi, kami yakin di 2019 lebih positif lagi," katanya saat diskusi di kantor DAN Menara Sentra Raya Jakarta (13/12/2018).

Industri periklanan sendiri, Anton menambahkan, TV masih menjadi platform iklan yang mendominasi tahun depan. Mengapa? Karena kondisi Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau, terpisah laut dengan wilayah yang sangat luas. "Lebih mudah dan jangkauan iklan bisa luas hingga ke Papua. Digital memang sedang bertumbuh pesat, tapi akses internet belum sampai ke pelosok dengan stabil," tuturnya.

Lalu dengan perilaku masyarakat yang sudah multiscreen, jadi bisa memegang gawai sambil menonton televisi, lanjut Anton, membuat masyarakat tidak betah berjam-jam di depan televisi. "Maka itu iklan TV harus sangat kreatif, membuat konsep iklan harus bagus sehingga membuat pemirsa tidak berpaling, misal dengan musik yang bagus. Ini bisa membantu menjaga atensi pemirsa ke iklan di TV. Jadi kuncinya konten harus sekreatif mungkin," tegasnya. Tahun politik justru menurut Anton harus ditunggangi dengan 'cantik' mengemas iklan Pemilu yang menarik.

"Pelaku periklanan harus sangat detail,  bukan sekadar menjangkau audience saja tapi juga harus diperhatikan seberapa engage pemirsa dengan brand yaitu dengan memahami klien dengan lebih detil," tuturnya.

Tentang tren digital di periklanan, Aloysia Dian, GM Vizeum, mengatakan, tren digital yang berubah sangat cepat, tidak bisa diprediksi ke depan akan seperti apa. "Saat ini sedang tren live-live story, seperti Facebook Story, IG Story dan sebagainya. Diketahui bahwa Indonesia adalah negara terbesar yang pengguna akun Instagramnya membagikan IG Story," katanya. Walau saat ini live story menjadi tren dengan sifat digital yang cepat berubah, belum tentu tahun depan akan menjadi tren lagi.

Menurut Aloysia, yang harus dipahami adalah di dunia digital, aplikasi atau media apapun kini bisa menjadi sosial. Terlebih orang Indonesia sangat suka membagikan apapun yang diketahui. "Orang Indonesia suka sekali share-share yang diketahui. Bagi pemilik merek, bisa saja belakangan tren menggunakan selebgram --selebriti instagram--dalam meningkatkan awareness campaign atau mereknya. Tapi belakangan yang sedang berkembang adalah menggunakan micro influencer yaitu orang biasa, bukan selebriti, tapi bisa memberikan persuasi terhadap produk atau info tertentu. Karena pada dasarnya orang lebih percaya pada orang yang dikenalnya," paparnya.

Tahun depan media kampanye digital, masih di Google, Facebook dan Instagram. Tapi Aloysia melihat ada media baru yang bisa digunakan untuk placement iklan seperti melalui aplikasi-aplikasi yang sedang tren, salah satunya aplikasi music on demand Spotify.

Maya Watono sebagai CEO baru DAN Indonesia akan menjawab kondisi tren tersebut dengan menerapkan client centric, demikian juga dalam mengelola audience. Mengingat perilaku audience berubah dengan perkembangan digital yang pesat ini, pihaknya harus mengikuti di mana audience berada.

Mana yang paling efektif sebagai medium iklan? Maya menjawab agak susah membandingkan seperti itu, melihat Indonesia sebagai negara kepulauan, tentu saja satu media yang saat ini bisa menjangkau 90% seluruh wilayah adalah televisi. "Penetrasi digital di Indonesia saat ini memang sudah sangat luas, tapi belum semaksimal negara lain di Asia. Indonesia itu unik dibanding negara Asia lainnya," tuturnya.

Tanpa menyebut persentase porsinya, medium iklan konvensional terutama TV tetap akan lebih besar di DAN Indonesia tahun depan. Ia memprediksi baru pada 3-5 tahun lagi ketika penetrasi digital benar-benar merata. Yang utama bagi DAN Indonesia, kesuksesan perusahan ini adalah menjadikan merek dan kliennya sukses dengan memastikan yang diharapkan klien sesuai dengan harapannya.

"Kunci keberhasilan bisnis saat ini adalah kolaborasi, ini sesuai dengan wisdom lokal negara ini yaitu gotong royong. Kolaborasi dengan klien, partner, serta internal di DAN. Tahun ini secara organik kami memang tumbuh hanya 2% tapi untuk bisnis baru kami tumbuh dobel digit, maka itu tahun depan kami akan fokus di new busniness," jelas Maya.

Editor:  Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)