Mempersiapkan Human Capital di Era Industri 5.0

Perkembangan digital yang sangat pesat, mendorong perusahaan beradaptasi dengan lebih cepat. Kini, dunia bisnis bukan lagi berada di era Industri 4.0, bahkan sudah mulai memasuki industri 5.0. Sekarang eranya sudah menjadi emerging trend. Maka itu, perusahaan sudah mulai menjadikan hal ini sebagai bagian dari konteks perencanaan strategis, termasuk bagaimana perusahaan mempersiapkan human capital.

Ir. Priyantono Rudito, M.Bus, Ph.D, Dosen Telkom University/Vice Chairman Seal Amazon Services mengingatkan kembali meski peran kecerdasan buatan, IoT (Internet of things) dan robotik mempengaruhi dengan cepat era Industri 5.0, namun ternyata sentuhan manusia sangat penting dalam strategi korporasi. Hal ini dipaparkan Pri dalam webinar yang diselenggarakan Majalah SWA belum lama ini dengan topik 'Indonesia HR Trends and Future Readiness- Amidst Pandemic Challenges.'

“Revolusi manufaktur masa depan yang menarik justru perkembangan teknologi digital tersebut, di era industri 5.0, ujungnya kembali pada kepentingan manusia, bring back the human touch. Industri 5.0 merupakan upaya strategis bagaimana membangun kolaborasi antara keunggulan manusia dengan teknologi,” terang pria yang pernah menjabat sebagai Direktur Human Capital Telkomsel ini.

Menurutnya, di era industri 5,0, korporasi membawa otomatisasi yang dijalankan dalam perusahaan dengan kembali humanis mengikuti perkembangan mega tren masa depan. Apa yang penting dalam perkembangan ini? “Perusahaan harus merespons dengan terus relevan dengan perkembangan tersebut, termasuk menjaga relevansi kemampuan human capital-nya,” ujar eksekutif yang juga juri dalam perhelatan penjurian HR Readiness 2021 yang penghargaannya diselenggarakan bersamaan dengan webinar ini.

Dijelaskan Pri, era digital mendorong setiap industri mengalami perkembangan tatanan ekosistem bisnis yang bergerak ke masa depan secara lebih cepat atau dikenal dengan fenomena the Future Mega Trend .“Driver atau akselerator atas terjadinya the Future Mega Trend adalah: Digitalisasi,” ujarnya.  Ia menambahkan, dengan kondisi tersebut, melihat kembali para peserta yang mengikuti penjurian HR Readiness 2021 yang diselenggarakan Majalah SWA, atas terjadinya Future Mega Trend ini, ia menilai sebagian besar peserta sudah memiliki awareness yang baik dan memahami atas apa yang terjadi di industrinya masing-masing.

“Namun demikian masih terdapat sejumlah perusahaan yang belum sepenuhnya memahami implikasi masa depan atas fenomena Future Mega Trend terhadap portofolio bisnis perusahaan yang saat ini dijalankan dan juga terhadap kesiapan HR atau HR readiness. Hal ini ditunjukkan dengan belum dijalankannya sepenuhnya inisiatif strategis yang konkret untuk menjadikan perusahaannya sebagai the Future Ready Organisation sesuai dengan strategic roadmap yang ditetapkan,” terangnya.

Perusahaan juga harus menyiapkan future ready organisation untuk menghadapi the Future Forward Ecosystem, bahwa organisasi harus berupaya serius untuk membangun Digital Leadership para pimpinan perusahaan di berbagai tingkatan organisasi. Digital Leadership lanjutnya, diperlukan untuk menjadikan suatu perusahaan mau dan mampu membangun Future Ready Organisation dengan melakukan Transformasi Digital di saat yang tepat, yang diikuti dengan alokasi sumber daya yang mendukung untuk melakukan transformasi tersebut secara efektif.

“Tantangan utama untuk mewujudkan HR (human resources) Future Ready adalah Bagaimana perusahaan dapat segera membangun Collective Growh mindset, yang menjadi dimensi core dari Digital Leadership,” Pri mengingatkan. Untuk itu, pemimpin yang terus membangun human capitalnya tetap relevan dengan tren yang berkembang saat ini.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)