Menanti Gebrakan Kapten Baru Adira Insurance

Julian Noor Julian Noor, Predir Adira Insurance

Persaingan bisnis yang kian ganas menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan asuransi kendaraan bermotor. Betapa tidak, makin banyak pemain top dunia hadir di Indonesia ikut merubung kue bisnis. Begitu pula puluhan pemain nasional yang agresif melahap setiap remah-remah peluang. Ini belum termasuk tantangan perubahan perilaku konsumen, dinamika SDM, serta disrupsi teknologi. Perusahaan jelas memerlukan orang yang piawai untuk berselancar di tengah situasi penuh gejolak seperti saat ini.

Karena hal itulah, pemegang saham Grup Adira tak asal comot sewaktu menahbiskan Julian Noor pada November 2017 menjadi Presiden Direktur Adira Insurance. Selain sebelumnya sudah didaulat sebagai Komisaris Independen Adira Insurance, lelaki kelahiran 20 Juli 1961 ini lama malang-melintang di industri asuransi. Tak kurang dari 30 tahun dia menekuninya. Sejak 2011, juga menjadi Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia sehingga punya wawasan dan jaringan luas di bidang asuransi.

Lantas, apa yang akan dilakukan alumni Institut Pertanian Bogor ini?

Secara bisnis, ada dua hal yang pokok. “Pertama, tentu saja, mempertahankan bisnis asuransi kendaraan bermotor. Lalu, mencoba melakukan diversifikasi produk, dengan masuk asuransi di luar kendaraan bermotor agar bisa masuk dalam top three perusahaan asuransi secara keseluruhan,” ujar Julian seraya menjelaskan, tahun lalu perusahaannya berada di urutan ke-8 dari sisi premi. Adapun langkah ke sektor asuransi non-kendaraan bermotor, selain untuk menyebar risiko, juga memperbesar porsi bisnis asuransi dari channeling di luar grup (Danamon/Adira Finance).

Sejatinya, lini asuransi non-kendaraan bermotor di Adira Insurance sudah cukup lengkap: mulai dari asuransi properti, asuransi kesehatan, travel insurance, asuransi kargo, hingga pengangkutan. “Produknya semua sudah ada. Tinggal menambah volumenya karena memang relatif belum besar,” Julian mengungkap. Selama ini, dia menambahkan, perusahaannya masih mengandalkan produk Autocilin (produk asuransi kendaraan bermotor). Sekarang, keseimbangan portofolio akan dilakukan.

Di luar dua hal di atas, ihwal proses bisnis juga menjadi fokus perhatian. Julian diminta pemegang saham mengantisipasi disrupsi teknologi. Persisnya: memanfaatkan teknologi untuk proses bisnis. “Ini tantangan yang cukup berat karena masalah disrupsi belum tentu bisa terdeteksi dengan baik. Ini seperti hantu. Namun, kami sudah membuat task force khusus untuk menangani masalah perkembangan digital ini,” katanya.

Agar proses bisnis kian lancar, Julian kini terus mengembangkan sejumlah aplikasi, baik yang langsung bersentuhan dengan konsumen maupun kepentingan internal. Mereka kini memiliki aplikasi untuk klaim, pemasaran, dan masuk di situs-situs agregator. Adira Insurance bahkan sedang menjajaki kerjasama dengan beberapa startup untuk melakukan sinergi pemasaran produk. “Mudah-mudahan tahun ini bisa launching.”

Selain aspek di atas, dia juga menyiapkan strategi khusus untuk menghadapi kalangan milenial, baik sebagai pasar maupun karyawan. Sebagai pasar, Adira Insurance menyiapkan produk travel insurance bagi milenial yang bisa dibeli secara online. Lalu, dari sisi karyawan (sekitar 60% karyawan adalah milenial), beberapa program mulai digelar dengan tujuan membuat betah dan produktif. Contohnya, proyek working from home, yang dimulai dari 70 karyawan milenial dan akan bertambah menjadi 200-an orang. Perusahaan ini pun semakin aktif menggunakan kanal digital untuk komunikasi dengan karyawan, yaitu CEO message, grup WhatsApp, YouTube, dan banyak cara lainnya.

Di antara sekian tugasnya, tak bisa ditampik bahwa konsentrasi pada persoalan bisnis sangat kuat. Maklum, tahun lalu secara umum pertumbuhan bisnis asuransi nasional di bawah 5%. Pertumbuhan Adira Insurance pun di bawah dua digit. “Tahun ini kami targetkan bisa tumbuh dua digit,” katanya. Tahun 2017, Gross Written Premium (GWP) Adira Insurance di angka Rp 2,3 triliun. Jumlah nasabah mencapai sekitar 8 juta akun, kebanyakan dari segmen ritel atau individual. Hanya saja, 60% penjualan disumbang dari “pipa” dalam grup (Adira Finance dan Danamon) dan baru 40% yang berasal dari luar grup. Komposisi inilah yang hendak dibalik oleh Julian dan timnya agar porsi bisnis nonkeluarga makin lebar.

Agar target itu tercapai, Julian berupaya meningkatkan performa pemasaran. “Lini marketing merupakan salah satu prioritas utama kami dan banyak yang harus diubah, dari sisi people, produk, dan strategi promosi. Termasuk, memikirkan alternatif digital channel. Concern saya lebih kepada bagaimana supaya kami bisa memenangi persaingan di marketing. Ketika bisa menang di marketing, di belakangnya akan jauh lebih mudah dalam melakukan konsolidasi,” Julian menjelaskan prinsipnya.

Melihat target mengejar dua digit dan melejit ke posisi tiga besar, tentu banyak sekali pekerjaan rumah yang mesti dilakukan. Itu artinya, diasumsikan akan banyak gebrakan yang dilakukan “Kapten” Julian. Mari kita tunggu! (*)

Reportase: Yosa Maulana

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)