Menembus Pasar Internasional dengan Tenun Garut

Menghadapi persaingan global, dapat disiasati dengan berbagai cara, salah satunya memadukan kreativitas dan modernitas. Hal ini dilakukan Sari Nasution Seputra, co-founder label Major Minor Maha, dalam mengikuti kompetisi International Woolmark Prize (IWP) beberapa waktu lalu.

Sari Nasution Seputra (ketiga dari kiri) saat acara pres conference Indonesia Fashion Forward Sari Nasution Seputra (ketiga dari kiri) saat acara pres conference Indonesia Fashion Forward

Meskipun tidak meraih posisi pertama, Sari bersama dua brand asal Indonesia lainnya yaitu Toton yang dimotori desainer Toton Januar dan Haryo Balitar serta  Vinora yang dimotori Vinora Ng, merasa mendapatkan banyak manfaat dari training yang diperoleh saat proses penjurian yang berlangsung di Hong Kong tersebut.

“Para juri tidak hanya melihat desain kami, tapi juga melihat perkembangan bisnis kami di Indonesia. Mereka detail saat bertanya mengenai kondisi pasar dan industri fesyen di Indonesia serta pengembangan bisnis kami di industri ini” ujar istri dari perancang busana Ari Seputra ini.

Kompetisi ini dilaksanakan oleh The Woolmark Company sejak tahun 1950. Banyak nama besar yang ikut dalam kompetisi yang bergengsi ini, sebut saja Yves Saint Laurent dari Perancis, Karl Lagerfeld dari Jerman, Rahul Mishra dari India, dan masih banyak lagi. Tahun ini adalah tahun pertama Indonesia  ikut dalam ajang tersebut.

Sari bersama para desainer lain mengaku merasa gugup dan tidak berharap banyak mengingat Indonesia  merupakan negara tropis, sehingga penggunaan wol sebagai bahan pakaian jarang ditemui. Dalam kompetisi ini setiap kontestan wajib menggunakan wol sebagai bahan dasar rancangan pakaian mereka. Ia pun merancang pakaian ready to wear dengan bahan benang wol merino yang diproses menjadi kain tenun oleh artisan dari Garut, Jawa Barat.

Lulusan LaSalle College ini, sengaja memilih tenun Garut, melihat kesiapan para pengrajin secara kualitas dan kuantitas. Mereka sudah siap untuk komersil dan produksi massal sehingga menyiapkan bahan baku dengan jumlah besar. Para pengrajin tenun Garut mampu mempertahankan gaya tenun tradisional sekaligus mampu menciptakan berbagai inovasi baru.

Tak heran bila para pengrajin kota dodol ini terkenal inovatif, mereka juga mampi mengikuti gaya tenun daerah lain, namun dibuat lebih modern, sehingga menghasilkan sentuhan yang berbeda pada rancangan pakaiannya. Awalnya, Sari mengaku ingin menggunakan tenun Lombok.

Selain bekerja sama dengan para penenun di Garut, ia juga mbermitra dengan pabrik modern di Solo. Sebagai produsen pakaian, ia melihat bahwa idealisme perancang busana harus bisa dikolaborasikan dengan kebutuhan pasar. Penggunaan mesin merupakan salah satu upaya adaptasi dengan fleksibilitas brandnya dalam menciptakan produk dalam jumlah besar.

Idealnya sebuah idealism didukung dengan teknologi mengingat pasar yang dituju adalah pasar global, sehingga mereka harus mampu menciptakan produk secara konsisten. Selain itu, para desainer  juga berpacu dengan waktu, mengingat di setiap season harus sudah ada koleksi baru yang dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan pasar. (EVA)

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)