Menjaga Perubahan Iklim Melalui Bangunan Ramah Lingkungan

Konsumsi energi yang dibutuhkan setiap bangunan cukup besar

Bangunan perkantoran dan residensial menjadi topik penting untuk dibicarakan, khususnya bagi pemerintah, pengembang, dan pemangku kepentingan lainnya, mengingat sudah banyak bangunan yang bergantung pada konsumsi energi dari alam dengan jumlah yang tak sedikit.

Selain itu, sisa material yang dihasilkan oleh penghancuran bangunan juga menjadi hal penting, mengingat sampah material tersebut sangat sulit terurai dan masih minimnya upaya setiap pemangku kepentingan untuk mendaur ulang material bekas dari bangunan yang dirubuhkan.

Vibeke Grupe Larsen, arsitek Denmark, menyebutkan, bahwa hal paling pertama harus dilakukan adalah mengubah mindset. Sebab, keberlanjutan adalah tentang bagaimana kita bisa peduli terhadap sekitar. Baiknya, untuk tidak hanya mengedepankan aspek bisnis semata, namun juga keberlangsungan dari bumi yang juga harus diperhitungkan.

Dengan semakin banyak bertumbuhnya populasi di bumi, maka akan berdampak pula pada semakin banyaknya produksi dan konsumsi, yang nantinya akan berdampak pada keberlangsungan bumi dan perubahan iklim.

“Di Denmark, isu ini telah menjadi fokus, sehingga kami harus beralih pada solusi hybrid dengan membangun bangunan yang ramah lingkungan. Saya rasa Indonesia pun bisa menerapkannya,” ujar Vibeke dalam seminar "Sustainability Architecture, Construction, and Circular Economy", di Jakarta.

Hal tersebut tertera dalam Sustainable and Development Goals nomor 11 dan 12 yang berfokus pada kota dan masyarakat yang berkelanjutan, serta tanggung jawab pada konsumsi dan produksi. “Setiap arsitektur dan pengembang harus bisa menciptakan lingkungan yang sehat, kesejahteraan hidup, edukasi dini melalui bangunan yang dibuat, hingga kesetaraan gender,” imbuh Vibeke.

Alistair Speirs, Chairman dari MVB, pun menyoroti hal yang sama, bahwa 50% energi yang didapatkan dari alam itu akan dikonsumsi di dalam bangunan. “Di Denmark sudah banyak praktik mendaur ulang material bekas. Jika kita fokus pada bangunan yang ramah lingkungan, maka nantinya akan berdampak pada terjaganya perubahan iklim dan mendukung Paris Agreement yang sudah dicanangkan,” jelas Alistair.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)