Menko Perekonomian Paparkan Kebijakan Utama Ekonomi 2020

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menjabarkan 6 poin utama kebijakan ekonomi nasional di tahun 2020 ini. Kebijakan tersebut mencakup pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), pembangunan infrastruktur, dan penyederhanaan regulasi melalui Omnibus Law yang diantaranya menyasar RUU Cipta Lapangan Kerja dan RUU Perpajakan.

“Pertumbuhan ekonomi diharapkan dapat mencapai 5,3%, melalui peningkatan produktivitas, investasi, perbaikan pasar tenaga kerja, peningkatan kualitas SDM dan implementasi kebijakan untuk penguatan perekonomian Indonesia,” ujar Airlangga.

Pertama, dari sisi pengembangan SDM. Pemerintah menyasar 6 sektor prioritas yakni agribisnis, manufaktur, pariwisata, pekerja migran, tenaga kesehatan, dan ekonomi digital.

“Kami akan membangun kompetensi SDM yang sejalan dengan perkembangan industri 4.0,” kata dia. Adapun strategi yang digunakan melalui pengembangan pendidikan dan pelatihan yang menyasar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Balai Latihan Kerja (BLK), dan Politeknik.

Kedua, pemerintah akan memperkenalkan kartu Prakerja. Program
ini adalah bantuan pelatihan vokasi untuk para pencari kerja, buruh aktif, buruh
yang terkena pemutusan hubungan kerja.

Ketiga, pemerintah akan mendorong jalinan dunia industri
dengan pendidikan vokasi dengan memberikan insentif pajak berupa pemotongan
pajak hingga 200% dari biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan vokasi.

Keempat, pembangunan infrastruktur untuk mendorong mobilitas perekonomian. Pemerintah berencana untuk segera menyelesaikan Proyek Strategis Nasional (PSN) dan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Lebih jauh, untuk mendorong masuknya investasi, pemerintah juga akan memberlakukan insentif fiskal. Hal ini dilakukan untuk menekan defisit CAD, sehingga dapat menumbuhkan perekonomian nasional.

Kelima, seperti tahun-tahun sebelumnya. Program jaminan dan bantuan sosial juga akan diimplementasikan pada tahun ini. Program tersebut dilakukan sebagai jalan cepat dalam menanggulangi kemiskinan dan ketimpangan pendapatan.

Keenam, mengeluarkan kebijakan yang berorientasi ekspor untuk menjadi katalisator pertumbuhan di era industri 4.0. “Kebijakan yang akan dilakukan seperti modernisasi permesinan untuk industri makanan dan TPT, serta pemberian insentif industri,” kata Airlangga menambahkan.

Lebih jauh dia mengatakan, untuk meningkatkan produk ekspor mendorong industri substitusi impor, pihaknya akan mengeluarkan kebijakan untuk memperkuat neraca perdagangan.

“Saat ini, kawasan yang paling stabil di dunia adalah ASEAN dan menjadi satu-satunya wilayah dengan pertumbuhan di atas pertumbuhan ekonomi dunia. Sehingga kita harus optimistis. Karena penggerak dari pertumbuhan ekonomi itu bukan hanya bergantung pada fundamental, tapi juga sentimental,” kata dia menutup pembicaraan.

Editor: Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)