Menparekraf Ingin Indonesia Jadi Pusat Ekonomi Syariah Dunia

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno berharap Indonesia menjadi pusat ekonomi syariah dunia, terutama dalam hal wisata halal.

Ia mengungkapkan bawah pengeluaran sektor halal di Indonesia pada tahun 2019 mencapai US$ 220 miliar dan tahun 2025 angka tersebut diproyeksikan akan bertambah hingga US$ 330,5 miliar. Sehingga ini merupakan potensi yang sangat besar dalam pengembangan industri halal. “Pengembangannya harus 360 derajat, fokusnya bisa dari makanan, fesyen dan lainnya,” jelasnya.

Selain itu, menurutnya, wisata halal bisa memberikan manfaat bagi masyarakat luas seperti penciptaan lapangan pekerjaan baru. Pengembangan ekonomi syariah melalui wisata halal ini sejalan dengan pariwisata yang lebih berkualitas dan berkelanjutan. Lantaran, menuurtnya, wisata halal bukanlah wisata yang eksklusif, melainkan inklusif, karena dapat dikonsumsi oleh seluruh kalangan. Hal ini yang menjadikan wisata halal begitu diminati wisatawan di berbagai belahan dunia.

Posisi Indonesia sendiri dalam laporan Global Islamic Economi Indonesia 2020/2021, menempati urutan ke empat setelah Malaysia, Saudi Arabia, dan UAE. Oleh karenanya, Menparekraf ingin agar Indonesia yang dihuni 87 persen penduduk muslim dapat memaksimalkan potensi wisata halalnya sehingga mampu menjadi pusat ekonomi syariah terkemuka di dunia. Tentunya dengan mengimplementasikan tiga pilar utama yaitu inovasi dengan teknologi digital, adaptasi melalui protokol kesehatan dan kolaboraksi dengan berbagai stakeholders.

Kemenparekraf sendiri memilki berbagai program yang dapat mendorong peningkatan ekonomi syariah Indonesia, yaitu melalui program fasilitasi akses pembiayaan syariah seperti Modest Fashion Founders Fund, Islamic Creative Economy Competition_ (ICEC), Kelas Manajemen Keuangan Syariah, Temu Bisnis Perbankan Syariah. Selain itu, ada juga program Santri Digitalpreneur Indonesia yang baru saja diluncurkan pada 14 September 2021.

“Saya melihat peluang yang sangat besar, karena ada, 4,3 juta santri di Indonesia yang perlu kita beri pelatihan dan pendampingan. Karena para santri ini, selain memiliki dua kekuatan utama yaitu memahami islam yang rahmatan lil alamin dan memiliki akhlakul karimah, mereka juga punya kemampuan enterprenurship,” ujarnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)