Menyambut Industri 4.0, GE Indonesia Siap Luncurkan 3D Printer

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri Kemenperin Ngakan Timur Antara, Ketua Kadin Rosan Roeslani, dan CEO GE Indonesia Handry Satriago saatdiskusi panel yang membahas hasil survei Global Innovation Barometer 2018 di Hotel Fairmont, Jakarta, (7/6)

General Electric (GE) merilis hasil survei bertajuk “GE Global Innovation Barometer 2018” yang mengukur bagaimana para pemimpin bisnis menilai hambatan dan peluang untuk berinovasi dalam menghadapi revolusi industri 4.0.

Innovation Barometer menemukan bahwa banyak pasar berkembang, terutama di Asia, semakin menjadi bagian penting di tingkat global sebagai pemimpin inovasi, dan Indonesia adalah contohnya. Pertama, mengenai inovasi, eksekutif Indonesia berada di depan dalam hal mengidentifikasi nilai yang melindungi bisnis inti mereka sehingga terus menghasilkan keuntungan yang dibutuhkan untuk mendukung riset.

Kedua, para eksekutif di Indonesia lebih mengenal dan percaya terhadap potensi teknologi tertentu, seperti 3D printing dari pada para eksekutif di negara lain. Eksekutif di Indonesia juga memahami kebutuhan untuk mengatasi kesenjangan keterampilan guna bersaing sebagai pusat inovasi di tahun-tahun mendatang. Seperti sebagian besar negara-negara lain, Indonesia juga mengambil sikap yang lebih pro-proteksi, meskipun para pemimpin bisnis sepenuhnya memahami keterbatasan peraturan untuk mendorong terciptanya lingkungan yang kondusif untuk berinovasi.

Menurut CEO GE Indonesia, Handry Satriago, dalam tiga tahun terakhir GE membangun bisnis baru yakni GE Additive yang mengembangkan produk 3D printer. “Skala ekonominya belum sampai pada industri besar, namun kami ingin memulainya. Kita tidak bisa menunggu semua pasarnya siap baru masuk, lebih bagus kami mencoba memperkenalkan dan mendorong pasar untuk kemudian bisa tumbuh,” ujar Handry di Hotel Fairmont, Jakarta, (7/6).

Handry menambahkan bahwa potensi pasar penggunaan 3D printer ini bisa untuk industri otomotif dan machinery karena saat ini GE fokus pada bahan logam. “Rencananya 3D printer ini dipasarkan pada kuartal III-2018,” tambahnya.

Saat ini GE sedang mempelajari pasar di Indonesia karena menurutnya driver dari industri 4.0 mengarah ke sana termasuk Internet of Things (IoT), artificial intelligence (AI) dan 3D printing. Di Amerika Serikat dan China sudah mulai menggunakan produk 3D printer dari GE Additive.

Indonesia telah memperbaiki peringkatnya dalam Indeks Daya Saing Global dari 42 menjadi 36 dari 137 negara. Namun, masih berada di belakang negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand. “Untuk meningkatkan daya saing Indonesia perlu mendorong produktivitas dan potensi pertumbuhan ekonomi dengan memanfaatkan gelombang baru inovasi digital yang mulai berubah industri dan ekonomi secara keseluruhan. Di GE, kami menyebut gelombang inovasi baru ini sebagai future of work, yang terdiri dari tiga tren yang saling menguntungkan industrial internet, advanced manufacturing, dan global brain,” katanya.

Untuk mendorong Indonesia meningkat dalam jajaran negara-negara yang inovatif, lanjut Handry, perlu fokus pada pendidikan dan pelatihan, serta investasi dalam teknologi baru. “Yang paling penting, kepercayaan pada kemampuan untuk mengembangkan lingkungan yang kondusif untuk inovasi di dalam negeri sedang berkembang, menyediakan fondasi untuk adopsi dan integrasi teknologi baru dalam waktu dekat, yang pada gilirannya akan membantu Indonesia untuk menjadi salah satu dari sepuluh ekonomi terdepan pada tahun 2030,” tutur  Handry.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)