MIKTA Apresiasi IDE Hub untuk Tekan Kesenjangan Ekonomi dan Sosial

(Dok. Keminfo/AHY-Yusuf)

Inclusive Digital Economy (IDE) Hub yang digagas Pemerintah RI mendapatkan apresiasi dari perwakilan negara Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki dan Australia (MIKTA). Solusi IDE Hub ini dinilai dapat mempercepat adopsi teknologi digital umtuk mengurangi kesenjangan ekonomi dan sosial.

“Dengan berbagai kasus melalui portal IDE Hub, pemerintah atau kepala negara anggota MIKTA bisa menemukan dan mengadopsi model bisnis yang bisa menjadi rekomendasi untuk membangun ekonomi digital untuk mengurangi gini ratio di negara masing-masing,” tutur Lis Sutjiati, Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Informatika Bidang Ekonomi Digital di Jakarta.

Menurutnya, semua negara menghadapi persoalan gini ratio atau kesenjangan ekonomi, tidak hanya negara miskin saja. “Permasalahan kesenjangan ekonomi dan sosial merupakan masalah yang hampir selalu ditemui baik di kelompok negara maju maupun berkembang. Bahkan negara kaya memiliki tantangan agar bagaimana mengurangi kesenjangan ekonomi dan sosial karena persoalan akses,” jelas Lis.

IDE Hub adalah usaha Indonesia untuk membentuk portal yang berisi informasi mengenai adopsi dan penerapan berbagai model bisnis ekonomi digital yang inovatif yang bermanfaat untuk menekan kesenjangan ekonomi dan sosial. Lis menjelaskan, “Platform IDE Hub ini akan menjadi pendorong terciptanya ekonomi berbagai, digitalisasi tenaga kerja, dan inklusi keuangan yang akan sangat bermanfaat bagi masyarakat piramida sosio-ekonomi bawah, wiraswasta, dan terutama usaha kecil dan menengah.”

Usaha tersebut muncul dari gagasan akan pentingnya potensi ekonomi digital sebagai alat untuk menekan kesenjangan ekonomi dan sosial di Indonesia. “Kita melihat bagaimana unicorn di Indonesia memungkinkan setiap orang yang berada dalam kelas ekonomi bawah memiliki akses dan variasi jenis pekerjaan. Misalnya dengan Bukalapak atau Tokopedia mereka tak perlu lagi punya ruko tapi bisa dapat pelanggan. Melalui GoJek banyak yang bisa dilakukan oleh pelaku bisnis lama ojek, bisa kirim barang, antar orang atau yang lainnya,” tutur Lis.

Ke depan, ia berharap IDE Hub dapat menjadi sumber daya bagi MIKTA Innovation Group, sebuah kelompok kerja dalam MIKTA yang berfokus pada kolaborasi kewirausahaan dan UKM untuk menjajaki berbagai peluang komersialisasi ide bisnis baru dan inovatif. “IDE Hub yang dibangun ini juga berpotensi dimanfaatkan oleh anggota G20 di masa depan khususnya dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi inklusif, ekonomi berkelanjutan dan konektivitas,” tambahnya.

Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Komunikasi dan Informatika menyelenggarakan seminar untuk melakukan reviu atas inisiatif IDE Hub ini. “Kami mengundang untuk meriviu dan mengetes sistem yang akan diluncurkan. Apa saja yang perlu disesuaikan jika akan diimplementasikan di negara-negara MIKTA. Mulai dari desain, parameter, dan outcome serta bagaimana melakukan sosialisasi termasuk menyesuaikan regulasi agar bisa mengadopsi dengan cepat inisiatif digital yang ada,” tambah Lis.

Direktur Jenderal Kerjasama Multilateral, Kementerian Luar Negeri Febrian A. Ruddyard menyatakan pertemuan itu memang ditargetkan untuk memperoleh masukan guna pengembangan dan penyesuaian IDE Hub yang dikembangkan Kementerian Kominfo bersama konsultan internasional Pricewaterhouse Cooper (PwC) sebagai knowledge partner. “Melalui pertemuan ini kami mengharapkan untuk mendapatkan masukan kepada inisiatif Indonesia tentang pembangunan portal yang digunakan untuk mempromosikan adopsi model-model bisnis digital inovatif,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur Pembangunan Ekonomi dan Lingkungan Hidup Kementerian Luar Negeri, Mushin Syibab menyatakan Forum MIKTA merupakan sebuah kemitraan lintas-regional yang beranggotakan Meksiko, Indonesia, Republik Korea, Turki dan Australia, yang secara resmi didirikan pada September 2013 setelah Pertemuan Menteri Luar Negeri MIKTA ke-1 di sela-sela pertemuan ke-68 Majelis Umum PBB. “Dua pilar utama MIKTA adalah dalam hal kerjasama ekonomi kreatif dan perdamaian global. Melalui IDE Hub ini diharapkan terbangun kerjasama di pilar ekonomi kreatif,” jelasnya.

Sebagai forum konsultasi yang semua anggotanya juga merupakan anggota forum G20, MIKTA telah mengadakan sebelas pertemuan menteri luar negeri, berbagai pertemuan di tingkat pejabat dan teknis senior, dan melaksanakan program pertukaran, dan lokakarya. MIKTA bercita-cita untuk menjadi jembatan dan penentu-agenda dalam perubahan tatanan global. Informalitas, fleksibilitas dan keragaman merupakan kekuatan MIKTA selama ini. “Karena prinsip-prinsip inilah memungkinkan anggotanya untuk bertukar pikiran secara bebas dan mampu mengeksplorasi berbagai terobosan-terobosan dalam membahas isu-isu global,” tambah Muchsin.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)