Miracle Aesthetic Clinic Ganti Logo

dr. Lanny (kanan) dan Angkie (kiri) dr. Lanny (kanan) dan Angkie (kiri)

Tidak mudah menjaga bisnis berkelanjutan hingga dua dekade lamanya. Terlebih di bisnis yang persaingannya sangat ketat. Miracle Aesthetic Clinic adalah salah satu perusahaan yang bisa membuktikannya dengan menjaga konsistensi kualitas layanan dan terus menerus melakukan inovasi. Bisnis yang berawal dari sebuah rumah di Jalan Bengawan Nomor 39 Surabaya pada 25 Juli 1996 itu kini telah memiliki 18 cabang di 12 kota besar di Indonesia.

Untuk merayakan perjalanan 20 tahun, klinik kecantikan ini meluncurkan logo baru pada Selasa (2/8) di Ballroom Fairmont Hotel Jakarta. Klinik kecantikan yang menyasar kelas menengah atas ini didirikan oleh dr. Lanny Juniarti dengan filosofi  "The Art Behind The Science of Aesthetic" dan "Miracle Facial Harmony". Menurutnya dr. Lanny, setiap wanita terlahir cantik, hanya saja mereka tidak menyadari kecantikannya itu.  Dan, kliniknya membantu menemukan kecantikan setiap wanita sesuai kebutuhannya. Filosofi itu pula yang menjadi dasar pembuatan logo baru Miracle Aesthetic Clinic.

“Perjalanan 20 tahun ini kami menyebutnya 20 miraculous years yang memiliki makna yang sangat spesial. Logo 20 Miraculous Years didesain sangat unik dengan angka 20 yang merupakan simbol perjalanan 20 tahun klinik ini. Karakter logo tersebut melambangkan sinergi antara tiga elemen yaitu art, teknologi (science) serta nilai-nilai yang membentuk budaya Miracle Clinic. Sedangkan warna hijau melambangkan komitmen Miracle untuk terus tumbuh dan berkembang,” ia menerangkan.

Pada perayaan 20 tahun ulang tahun Miracle Aesthetic Clinic dengan Gala Dinner yang bertajuk "The Jewel of Indonesian Beauty" itu, ia juga menyampaikan pada Rabu (3/8) video kampanye #UnvielYourMasterPiece, mulai tayang melalui Youtube. Kampanye ini ingin menyampaikan bahwa tiap individu sejatinya telah memiliki potensi terbaik dalam dirinya, baik dari penampilan fisik maupun bakat dan kepribadian. Namun sayangnya tidak tiap individu menyadari dan mampu menemukannya, bahkan dengan percaya diri menampilkan versi terbaiknya.

Melalui Vlog yang merupakan cerita perjalanan hidup Angkie Yudistia, dr. Lanny berharap bisa menjadi kampanye positif bahwa tiap wanita bisa menampilkan versi terbaiknya, apapun keadaannya. “Angkie wanita tuna rungu, tapi tidak larut dan menyerah, bahkan bisa mendobrak keterbatasannya, mengeksplor diri bahkan berani menampilkan best version yang dimilikinya menjadi master piece,” imbuhnya. Kampanye ini bertujuan menginspirasi sekaligus mengajak setiap individu untuk menemukan dan menampilkan versi terbaik di dalam dirinya masing-masing, melalui sentuhan-sentuhan keajaiban bagi tiap individu sebagai sebuah karya seni terbaik.

“Orang sering tidak percaya diri, bingung mencari jati diri sebenarnya, padahal dia memiliki banyak master piece atau sisi terbaik dalam dirinya, harapan saya juga Miracle ini bisa film pendek ini menjadi inspirasi,” tutur Angkie, yang juga pendiri & CEO Thisable Enterprise ini.

entang Miracle Clinic yang sudah 20 tahun, Angkie mengaku kagum. Di tengah persaingan yang ketat, ia melihat klinik ini tetap menjaga nilai-nilai. Ia menceritakan, ketika datang pertama kali ke klinik ini, waktu itu dirinya menyampaikan ke dr. Lanny tentang keinginannya melakukan beberapa perawatan ini-itu yang, menurutnya, penting agar ia bisa terlihat lebih cantik. Tapi,  justru semua keinginannya dituruti. “Kalau mau dapat uang banyak bisa, semua yang saya minta dituruti, tapi dokter Lanny justru menyarankan saya menggunakan perawatan yang sesuai kondisi kulit saya. Saya masih muda, katanya masih 29 tahun, tidak terlalu bermasalah, facial saja cukup,” ujarnya mengenang.

Dr. Lanny menegaskan, peran  industri estetik yang terpenting adalah menemukan versi terbaik para pelanggannya. “Tentu saja ini bisnis, tapi bukan berarti harus selalu hard selling. Pada awal kami masih hard selling, tapi setelah 15 tahun klinik ini sudah beyond bisnis, perusahaan lebih mendorong inovasi dan value,” tuturnya. Perang harga bukan cara memenangkan persaingan, tapi melalui pelayanan terbaik, inovasi dan memberikan kualitas terbaiklah yang membuat pelanggan kembali. Miracle Aesthetic Clinic pertama kali membuka cabang di Bali  tahun 2000. Setelah itu, u cabang-cabangnya dibuka di Ibu Kota Jakarta, dari 18 cabang 8 di antaranya merupakan waralaba, sisanya milik sendiri. “Saya yakin selama manusia berkembang, klinik kecantikan terus dibutuhkan,” ujarnya.

Sayang ia mengelak menyebut berapa pertumbuhan bisnis dan target cabang yang akan dibuka hingga tahun depan. Menurutnya, dirinya saat ini bukan berburu angka, karena kliniknya yang menyasar segmen middle up tentu membutuhkan nilai investasi yang tidak sedikit. “Proses bisnis juga lebih kompleks, kami lebih selektif untuk waralaba, dan harus dilihat bagaimana buying power di lokasi di mana cabang akan dibuka. Standardisasi layanan penting, untuk memastikan dimanapun pelanggan datang ke cabang kami, kualitas layanannya sama,” ujar dr. Lanny.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)