Mondelēz Laporkan Penilaian Hasil Pencapaian Cocoa Life

Mondelēz International untuk pertama kalinya menerbitkan Laporan Penilaian Hasil Pencapaian Cocoa Life di Indonesia. Laporan mengenai dampak Cocoa Life bagi petani kakao dan masyarakat di Indonesia sebagai negara penghasil kakao terbesar ketiga di dunia.

Dalam laporannya, Mondelez menyoroti perbandingan hasil program pada tahun 2016 dan 2015, terhadap para petani yang mengikuti program tersebut. Pertama, adanya pertumbuhan produktivitas dan pendapatan kakao. Banyak petani mengadopsi praktik-praktik pertanian terbaik dan melaporkan kenaikan rata-rata pada penjualan kakao (+ 10%), dan pendapatan tahunan dari kakao (+ 37%).

Kedua, para petani mengembangkan sumber pendapatan tambahan serta mendapatkan pendapatan tiga kali lipat yang diterima dari sumber non-kakao. Mereka juga melaporkan adanya peningkatan pada majemenen keuangan melalui rekening-rekening bank (38% banding 23%), peningkatan akses terhadap pinjaman (+3%), dan mereka juga lebih mudah mendapatkan pasokan makanan (2% banding 6%)

Ketiga, adanya advokasi dan pengembangan masyarakat yang lebih luas, dilaporkan lebih banyak programprogram kemasyarakatan (+26%) dari rencana kerja komunitas yang diberlakukan melalui Cocoa Life.

Manu Anand, President of Chocolate for Asia, Middle East and Africa (AMEA) Mondelēz International, mengatakan, sejak diluncurkan pada tahun 2013, Cocoa Life memfokuskan untuk membantu para petani kakao untuk memperbaiki praktik-praktik pertanian guna meningkatkan panen dan pendapatan kakao, dan mendukung masyarakat dalam membuat rencana kerja dan implementasinya, serta memfokuskan pada pengurangan dampak lingkungan hidup terhadap pertanian kakao.

“Pengadaan kakao yang berkelanjutan dimulai dari komunitas kakao yang berkembang. Kami berinvestasi tidak hanya pada pertanian, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat kakao secara keseluruhan, menciptakan ketahanan, sehingga desa-desa pertanian kakao menjadi daerah dimana masyarakat dapat hidup dan tinggal dengan baik. Kami bangga bahwa hasil dari laporan penilaian pertama ini menunjukkan kesuksesan dari pendekatan kami yang holistik,” ujarnya.

Manu menambahkan, penelitian yang dilakukan bersama IPSOS ini bertujuan mengevaluasi dampak program Cocoa Life terhadap 10 key performance indicators (KPIs) global. Supaya Cocoa Life dapat terus meningkatkan usaha program dengan melibatkan petani dan masyarakat baru, menambahkan intervensi baru serta mengembangkan pendekatan-pendekatan baru.

Pada akhir tahun 2016, program Cocoa Life dijalankan di 132 komunitas masyarakat di Indonesia dan melatih lebih dari 16.100 petani pada pertanian dan kemampuan berwirausaha guna meningkatkan panen kakao, mempertahankan lingkungan hidup dan meningkatkan pendapatan petani. Pada tahun 2022, program Cocoa Life berencana untuk melatih lebih dari 40.000 petani di Indonesia dan pada akhirnya memberikan manfaat kepada sekitar 400 komunitas masyarakat lokal, mempromosikan pemberdayaan perempuan serta edukasi untuk anak-anak.

 

Editor : Eva Martha Rahayu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)