Negara Kepulauan Menjadi Tantangan Bisnis E-commerce Indonesia

Riset yang diterbitkan Google dan Temasek menyoroti Indonesia sebagai salah satu populasi pengguna internet yang semakin berkembang, yaitu 19 persen per tahun dan diproyeksikan mencapai 215 juta sebelum 2020 dari 92 juta di tahun 2015. Momentum ini menjadi berita positif bagj pebisnis lokal. Dengan peluang pasar online  dalam waktu 10 tahun akan mencapai US$81 miliar sebelum 2025, ini  menunjukkan Indonesia siap menjadi destinasi.

Jika melihat peluang digital di Asia Tenggara yang mencapai US$ 200 miliar, Indonesia menjadi salah satu penyumbang terbesar dibanding negara lainnya. "Ada 3 sektor terbesar yang menjadi sorotan, yaitu first hand e-commerce (household, makanan, dan fashion), travel( hotel, airlines), dan media (ads and game)," ujar Tony Keusgen, Managing Director Google Indonesia.

Peluang e-commerce di Indonesia mencapai 52 persen dari e-commerce di Asia Tenggara menjelang 2025, dibanding 31 persen di tahun 2015. Angka ini didorong oleh populasi kelas menengah yang besar, peningkatan akses ke internet, dan pertumbuhan tier 2 atau 3 kota, di mana akses retail masih terbatas. Besar pasar ini diperkirakan tumbuh 39 persen per tahun dari US$ 1,7 miliar di 2015 menjadi US$ 46 miliar di tahun ini.

Tai Le (Director Temasek), Nadiem Makarim (CEO dan Founder, GO-JEK Indonesia), Tony Keusgen (Managing Director Google Indonesia), Ferry Unardi (CEO dan Co-Founder, Traveloka.com), Hadi Wenas (CEO MatahariMall.com) Tai Le (Director Temasek), Nadiem Makarim (CEO dan Founder, GO-JEK Indonesia), Tony Keusgen (Managing Director Google Indonesia), Ferry Unardi (CEO dan Co-Founder, Traveloka.com), Hadi Wenas (CEO MatahariMall.com)

"Saya menemukan hasil yang unik pada nilai transaksi belanja online saat Idul Fitri lalu. Bukan Jakarta yang menjadi penyumbang terbesar. Tetapi Kota Magelang dan Kota Batu, Malang. Ini menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat untuk belanja melalui online tidak hanya di kota-kota besar," kata Hadi Wenas, CEO MatahariMall.com ketika ditemui dalam Press Conference Google-Temasek di Jakarta.

Industri travel online tidak kalah besar. Untuk hotel dan penerbangan di Asia Tenggara diperkirakan berkembang sebesar 17 persen per tahun dari US$ 5 miliar di 2015 menjadi US$ 24,5 miliar di 2016.

Ferry Unardi, Co-Founder dan CEO Traveloka.com, mengatakan, Traveloka sudah ekspansi ke Malaysia, Singapura, dan Filipina. Sinergi di travel lumayan tinggi. Dari penetrasi internet dan pertumbuhan Traveloka.com, Indonesia masih penyumbang yang terbesar. Merambah mancanegara berarti Traveloka.com harus memiliki strategi untuk menjaga kepercayaan customer.

Menurut Nadiem Makarim, Founder dan CEO Go-Jek Indonesia, Indonesia yang berbentuk kepulauan menjadi sebuah tantangan bagi e-commerce, travel online, dan transportasi online. "Dari semuanya, perpindahan terbesar aktivitas transaksi dari offline ke online adalah sektor transportasi dan makanan," tambahnya.

Jumlah populasi yang semakin besar dan kebutuhan akan transportasi yang memudahkan mereka berpindah tempat, peluang industri jasa transportasi online akan semakin besar. Besar pasar diperkirakan akan tumbuh menjadi 22 persen per tahun dari dari US$ 800 juta di 2015 menjadi US$ 5,6 miliar di 2016.

Potensi yang besar ini pun mempengaruhi belanja iklan digital yang dikeluarkan. Diproyeksikan berkembang dari US$ 300 juta atau 10 persen dari belanja total media mencapai US$ 2,7 miliar. Jumlah ini terbesar di Asia Tenggara atau 40 persen dari total belanja media.

Sebagai tambahan, riset ini juga menyoroti Indonesia menjadi tempat yang menarik untuk memulai start up. Indonesia sudah menjadi tuan rumah terbesar dengan 2.033 start up dari 7 ribu start up di Asia Tenggara. Jumlah ini lebih besar dari Singapura dengan jumlah 1.850 start up. Indonesia pun menjadi negara paling aktif utuk kegiatan venture capital yaitu sekitar 8 persen dari total transaksi yang menerima funding Series A+.

Lalu, pertanyaan besarnya adalah apa yang dibutuhkan Indonesia untuk memaksimalkan peluang itu? Indonesia harus menangani beberapa tantangan seperti logistik dan konektivitas, rumitnya pembayaran, talent, kesiapan pasar dalam hal penipuan dan cybersecurity. Dan kebutuhan paling utama adalah investasi. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)