Net TV Fokus Garap Pasar Middle Up, Caranya?

NET TV, terkenal dengan tagline “Televisi Masa Kini” mampu merebut perhatian masyarakat Indonesia dengan wajah baru pertelevisian di Indonesia. Era digital mau tidak mau mempengaruhi hadirnya stasiun televisi ini. Digarap dengan strategi digital, NET TV muncul ke industri pertelevisian dengan mengakomodasi selera baru masyarakat Indonesia akan tontonan berkualitas. Kualitas entertainment yang disesuaikan jamannya dibuat bersinergi dengan digital market melalui platform dan saluran distribusi baru yang memudahkan untuk menyalurkan konten buatan NET TV. “Saat NET lahir, kami sudah canangkan bahwa bukan saluran televisi biasa, tetapi juga saluran TV yang agresif di digital,” tutur Direktur Utama PT Net Mediatama Indonesia, Wishnutama Kusubandio.

Direktur Utama PT Net Mediatama Indonesia, Wishnutama Kusubandio.

Digital presence NET TV terbesar di Indonesia dengan total mencapai 17.834 video. Menurut Wishnutama, aktivitas digital NET TV juga paling “berisik” di Twitter dan social media lain dibanding media-media televisi lain. “Meski jika dilihat dari followers masih ada yang lebih banyak dari NET TV, tapi followers tidak hanya dilihat dari angka saja, tapi juga kualitas followers itu sendiri. Bagaimana mereka terlibat, punya daya beli, dan punya pengaruh. Karena followers kami adalah akun yang verified mulai dari presiden, wakil presiden, menteri dan tokoh-tokoh penting lainnya,” ungkap pria yang pernah menjadi Assistant Director On Air Promotion di WHDH-TV, Boston.

Terobosan citizen journalist yang mana masyarakat bisa berpartisipasi sebagai jurnalis NET ini awalnya muncul karena keterbatasan NET TV akan biro di daerah-daerah. Saat ini konten news NET TV 30% berasal dari citizen journalist. Menurut Wishnutama, revenue televisi free to air masih panjang umurnya dibandingkan pay TV dan ia menggabungkan kekuatan free to air dengan digital NET TV, kemudian membuat NET Connect, yaitu sebuah aplikasi yang didesain terkoneksi dengan saluran free to air NET yang sedang berlangsung. “Masyarakat bisa ikut terlibat dalam semua program dan tayangan dengan memberi feedback berupa ‘Clap’ atau ‘Boo’. ‘Clap’ apabila penonton menyukai konten kami, ‘Boo’ apabila penonton tidak suka terhadap tayangan saat itu. Ada beberapa program yang memungkinkan penonton bisa berinteraksi langsung seperti Quiz atau Q&A (Questions & Answers). Target kami tahun ini mencapai 1 juta download. Dari situlah kami bisa mendapat database penonton,” ungkapnya.

Dari situlah kami bisa mendapat database penonton yang dapat menggantikan lembaga rating Nielsen dengan real data dan real people yang kami miliki. Aplikasi NET Connect bahkan belum pernah ada sebelumnya di industri pertelevisian negara-negara lain. “Di Korea Selatan, ketika saya menunjukkan ini kepada CJ Entertainment & Media, mereka bahkan ingin meniru kami,” ujarnya bangga.  Selain itu, NET TV juga memiliki portal berita baru bernama NET.Z yang dapat diakses di netz.id. Setiap pembaca berita di NET.Z dapat mengekspresikan perasaan mereka saat membaca berita tersebut. Reaksi publik ini yang akan menjadi data sehingga dapat memahami publik menanggapi berita seperti apa.

Format digital dimanfaatkan NET TV dari segala penjuru, dengan me-manage secara baik, tanpa meninggalkan kekuatan free to air. Karena itu, aplikasi NET Connect berguna untuk embracing pasar digital dan free to air. Selain itu, konten adalah kunci utama dalam strategi digital, yang mana 98% konten NET TV adalah produksi sendiri, maka hak ciptanya dipegang sepenuhnya untuk di platform manapun. NET fokus memproduksi konten yang nantinya didistribusikan ke transmisi terestrial, digital, OTT platform, live streaming, VOD, Youtube channel semua ada. Yang penting, semua orang bisa mengakses konten yang kami buat dengan mudah dalam kualitas prima. Untuk menjalakan digitalisasi ini, NET TV memiliki unit bernama Department New Media yang telah menjadi value tersendiri yang berguna untuk mengantisipasi dunia digital karena karakter penonton televisi dan digital berbeda. “Untuk cost digital strategy, sangat jauh berbeda dibanding free-to-air. Paling hanya manpower, selebihnya tidak ada karena sistem kami sudah integrated secara digital dari awal. Sehingga tidak butuh banyak extra cost, tetapi hanya butuh extra effort dari tim,” tutur Wishnutama.

Monetisasi NET melalui saluran seperti live streaming, on-demand, OTT platform dan sebagainya terbilang lumayan, meski belum menjadi sanggahan utama memperoleh revenue seperti free to air. NET TV masih dalam tahap investasi dalam digital, baik itu dari segi infrastruktur platform hingga awareness. Di Indonesia, digital presence NET paling tinggi dengan konten yang relevan terhadap target market kami, milenial dan middle-up. Performa NET TV lewat program prime time mencapai 5%-6% karena memang revenue 70%-80% dari prime time. “Menurut data Nielsen, 45% generasi milenial menonton NET sebagai preferensi channel mereka. Untuk affluent market, NET menduduki peringkat kedua dalam hal channel yang ditonton selama 3 bulan terakhir dan yang rutin ditonton. Tetapi kami menduduki peringkat pertama dalam hal channel yang paling sering ditonton dalam 3 bulan terakhir,” jelas pria yang masuk jajaran 500 CEO berpengaruh di dunia versi The Richtopia di peringkat 149.

Target ambisius dipatok NET TV dengan menetapkan pertumbuhan 30%-40% dibandingkan pendapatan tahun lalu. Kabar baiknya, hingga saat ini mereka berhasil mencapai apa yang ditargetkan. Hal ini terwujud dari awareness NET TV yang makin lama makin besar sehingga mempengaruhi pundi-pundinya. “Banyak yang menganggap affluent market dan middle up persentasenya kecil. Padahal, segmen pasar middle up sekitar 20-30 persen jumlah penduduk, kemudian pasar middle up tumbuh dua kali lipat. Ini market yang kami tuju. Walaupun persentasenya kecil. Targetkan saja upper middle. Memang ini kecil, tapi growing dan ekonomi Indonesia 90 persen ada di kelas menengah ke atas. Mereka punya buying power, trend setter, dan decision maker,” ungkapnya. NET TV tak ingin penonton Indonesia lari keluar memilih tayangan asing. NET konsistensi dan berkomitmen untuk berikan konten yang berkualitas dan menjaga sustainability. (Reportase: Jeihan Kahfi Barlian)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)