Nucleus Farma Berperan Aktif dalam Pengembangan Obat Tradisional Modern

CEO Nucleus Farma, Edward Basilianus

CEO Nucleus Farma, Edward Basilianus menyampaikan, biodiversitas tanaman obat yang dimiliki Indonesia sangat berpotensi untuk dikembangkan  guna memenuhi kebutuhan produk berbahan herbal yang semakin meningkat. “Jika ini bisa dilakukan dengan optimal akan berdampak positif pada perekonomian nasional dan mendukung kemandirian industri obat berbahan herbal,” jelasnya dalam  webinar PIKTI National E-seminar (Series 36)  dengan topik  “The Secret of Indonesian Herbal (Jamu) for Good Health”,

Sebagai pembicara dalam webinar itu, Edward memaparkan materi tentang ‘Peluang  Industri Herbal di Era Pandemi’.  Menurutnya,  tren penggunaan bahan alam, khususnya obat tradisional di masa pandemi Covid-19 merupakan momentum emas bagi masyarakat untuk kembali mencari dan menggunakan rempah-rempah asli Indonesia.  “Hal ini juga menjadi peluang bagi para peneliti untuk dapat mengembangkan hasil risetnya serta memacu para produsen untuk lebih fokus mengembangkan produk berbasis herbal,” kata Edward lagi.

Dalam kesempatan yang sama Ketua Umum GP Jamu, Dwi Ranny Pertiwi Zarman, mengatakan pengobatan tradisional Indonesia tidak dapat dipisahkan dengan ramuan jamu. “Jamu di Indonesia sudah ada sejak tahun 1300 dan merupakan minuman bersejarah dengan berbagai khasiat untuk menjaga kesehatan, bahkan menyembuhkan berbagai penyakit,” jelasnya.

Lebih jauh Dwi Ranny mengatakan, pengobatan tradisional sudah diakui oleh WHO, badan kesehatan PBB. WHO menunjukan kepedulian terhadap pengembangan obat tradisional dengan mengeluarkan buku panduan metodologi penelitian dan evaluasi terhadap pengobatan tradisional.

Jenis pengobatan alternatif dikelompokkan menjadi dua, yakni pengobatan berdasarkan herbal dan terapi yang berdasarkan prosedur tradisional. “Yang termasuk pengobatan alternatif herbal yaitu penggunaan bahan asli tanaman seperti bunga, buah-buahan, akar, daun dan lain-lain dan saat ini bertambah dari sumber hewani,” tutur Dwi Ranny.

Sementara itu,  Dra. Reri Indriani, Apt., M.Si dari Badan POM RI  menyoroti melimpahnya keanakaragaman hayati yang dimiliki Indonesia. Indonesia memiliki sekitar 30 ribu jenis tanaman, dimana sekitar 800 diantaranya berpotensi untuk dijadikan obat herbal.  Sejalan dengan Inpres no.6 tahun 2016 tentang Percepatan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan, Badan POM menginisasi pembentukan Satgas Percepatan Pengembangan dan Pemanfaatan Fitofarmaka. Ada 14 lembaga yang terlibat dalam Satgas ini, terdiri dari Kementerian, asosiasi pelaku usaha, organisasi profesi, dan perguruan tinggi.

“Dengan terbentuknya Satgas Percepatan Pengembangan dan Pemanfaatan Fitofarmaka diharapkan dapat meningkatkan intensifikasi hilirisasi penelitian obat berbahan alam untuk menjadi Fitofarmaka, sehingga akses dan ketersediaan obat produksi nasional akan meningkat. Ke depannya, produk Fitofarmaka juga diharapkan dapat berperan sebagai produk pengobatan dalam program Jaminan Kesehatan Nasional atau JKN,” papar Reri.

Nucleus Farma juga terbuka untuk menjalin riset kerja sama dan mewujudkan triple helix melalui sinergi antara pemerintah, akademisi, maupun praktisi. Upaya tersebut dibuktikan dengan keterlibatan Nucleus Farma dalam riset obat antikanker ovarium yang sangat bermanfaat di Indonesia.

Belum lama ini, tim Nucleus Farma dan dr. Manuel Hutapea,Sp.OG.(K) Onk. mengunjungi LIPI Kimia Serpong untuk membahas kerja sama penelitian obat kanker dari bahan alam. dr. Manuel Hutapea,Sp.OG.(K) Onk  adalah dokter spesialis kebidanan dan kandungan konsultan onkologi di RS Mitra Medika Pontianak.

Sebelumnya sudah dilakukan uji pendahuluan dan akan dilanjutkan riset yang lebih komprehensif. Nucleus Farma disambut baik oleh tim peneliti dan menjadi mitra perusahaan yang sangat mendukung inovasi, riset, dan penelitian guna pengembangan obat tradisional di Indonesia.

Edward mengklaim Nucleus Farma (PT Natura Nuswantara Nirmala) adalah leading localbio-tech company  sebagai produsen inovatif obat natural dan suplemen kesehatan, menggunakan bahan dasar alami lokal asli dari Indonesia. Dalam menjalan usahanya, perusahaan ini mengedepankan nilai-nilai luhur kearifan lokal, serta turut berkontribusi dalam dunia kesehatan dengan menyediakan obat bahan herbal alami yang aman, berkhasiat, dan bermutu.

Pada bulan Maret lalu, Nucleus Farma berpartisipasi dalam berbagai kegiatan untuk mendukung kemajuan obat natural dan suplemen kesehatan. Keikutsertaan Nucleus Farma membuktikan perusahaan ini terbuka untuk berkolaborasi dengan pemerintah, akademisi, komunitas dan media.

Kegiatan pertama webinar dengan topik “Peran Jamu sebagai Imun Booster di Era Pandemik”, Selasa 23 Maret 2021. Seminar ini diselenggarakan oleh Krista Exhibitions dan GP Jamu. Webinar ini menghadirkan narasumber: Resna Murti Wibowo, Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia dan Robert Arjuna, Pemilik Clinic Sayang Diagnostics Center.  Kegiatan kedua seminar dengan topik “Manfaat Intervensi Oral Albumin Terhadap Status Nutrisi Pasien Gagal Ginjal Kronis, pada 26 Maret 2021. Seminar menghadirkan pembicara Haerani Rasyid. Pada kesempatan tersebut antara lain dibahas tentang manfaat albumin yang terkadung dalam Onoiwa, salah satu produk dari Nucleus Farma. Kegiatan ketiga adalah PIKTI National E-Seminar (Series 36)  dengan topik  “The Secret of Indonesian Herbal (Jamu) for Good Health”, pada 28 Maret 2021.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)