Nur Mardiati, Lulusan Apoteker yang Jadi Ahli Global Supply Chain

Nur MardiatiJalan hidup --termasuk pekerjaan dan profesi-- memang susah ditebak. Tengoklah perjalanan Nur Mardiati. Menekuni pendidikan farmasi (Universitas Airlangga) dan menuntaskannya dengan gelar sebagai seorang apoteker, Nur kini malah lebih dikenal sebagai seorang ahli supply chain (rantai pasok produk). Industri tempatnya berkarier saat ini pun tak ada kaitannya dengan produk kefarmasian, yakni perusahaan sepatu multinasional dengan merek Ecco.

Buat kebanyakan orang Indonesia, sepatu merek Ecco mungkin belum familier. Maklumlah, target pasar sepatu yang diposisikan sebagai comfortable shoes ini memang kelas menengah-atas. Selain itu, produsennya --yang berdiri pada 1963 dan berkantor pusat di Bredebro, Denmark-- belum terlalu fokus menggarap pasar Indonesia.

Nah, yang membanggakan, keahlian Nur di bidang supply chain itu sudah berkelas internasional. Jabatan resminya saat ini adalah Manajer Global Supply Planning Ecco, yang berkantor di Singapura. Menurut Nur yang memimpin tim beranggotakan 10 orang, sesuai dengan jabatannya ia bersama tim bertugas sebagai semacam jembatan dan translator informasi, komunikasi, dan aksi, antara kebutuhan pasar regional dan output dari unit-unit produksi. “KPI kami adalah bagaimana memenuhi kebutuhan pasar setiap bulannya, dan juga bersama-sama menjaga aspek quality, on-time delivery, dan cost sesuai dengan yang ditargetkan pihak manajemen,” kata Nur, yang melaporkan pekerjaannya kepada Direktur Global Supply Chain Ecco.

Selain itu, Nur juga bertanggung jawab mengoordinasikan perencanaan di unit-unit produksi Ecco, yang tersebar di beberapa negara, yakni di Indonesia (Sidoarjo), Thailand, Xiamen, Vietnam, Portugal, dan Slovakia. Karena itulah, ia secara berkala harus melakukan traveling ke beberapa negara tempat unit-unit produksi Ecco itu berada. “Saya harus memastikan komunikasi, alignment, sharing tren-tren dan kebutuhan baru, serta berdiskusi untuk meningkatkan kinerja unit-unit produksi bersangkutan,” kata wanita eksekutif kelahiran Tulungagung, 8 Mei 1968 ini.

Ecco Shoes saat ini menggarap enam kawasan pasar (market region), yakni Eropa, Rusia, China, Asia Pasifik, AS, dan Kanada. Sejauh ini, fokus pemasarannya yang utama masih di kawasan Eropa, sekitar 60%. “Kami juga membuka peluang pasar di Indonesia, tetapi sementara ini masih sangat kecil jika dibandingkan dengan pasar China dan Eropa,” katanya. Jenis produk sepatu Ecco cukup beragam, mulai dari sepatu bayi, sepatu kasual, sepatu formal, sepatu luar ruang, hingga sepatu golf.

Nur mengaku punya passion di bidang supply chain ini. “Saya suka menjalani profesi ini,” kata ibu dua anak ini. Kunci sukses di bidang ini, menurutnya, adalah kemauan mempelajari interaksi dan keselarasan (alignment) dengan departemen lain, berbagai region pemasaran, serta unit-unit produksi, sehingga bisa meramu permintaan pasar untuk dipenuhi dengan produk-produk yang sesuai dengan kualitas, kuantitas, dan target waktunya.

Bagi Nur, keberhasilannya dilihat dari bisakah kinerjanya lebih baik dari tahun ke tahun, dari season ke season. “Ini hal yang tidak mudah, karena tren dalam bisnis sepatu juga cepat berubah,” katanya.

Supply chain sebenarnya bukanlah bidang baru buat Nur. Meskipun sempat bekerja di perusahaan farmasi, di PT Roche Indonesia, tanggung jawabnya bukanlah di bidang kefarmasian (produksi dan kontrol mutu), melainkan di bidang supply chain dan kelogistikan. Jabatan terakhirnya ketika terpaksa berhenti dari perusahaan itu --karena harus mengikuti suami yang pindah kerja ke Surabaya-- adalah manajer logistik.

Tatkala bergabung pertama kali dengan PT Ecco Indonesia di Sidoarjo pada 1999, Nur ditempatkan sebagai leather planner. Di tahun-tahun selanjutnya, ia dipercaya menangani perencanaan produksi, kemudian sebagai manajer perencanaan senior. Hingga akhirnya ditugaskan ke Singapura pada Juni 2017 sebagai manajer global supply planning. “Ayah saya suka bercanda, beliau menyekolahkan anaknya untuk menjadi apoteker, eh sekarang malah menjadi 'tukang sepatu',” kata Nur tentang seloroh sang ayah. Dengan posisi dan pencapaian Nur sekarang, mana ada orang tua yang akan menyesalinya.

Nur mengaku kini sering mengingatkan kedua anaknya bahwa bersekolah itu penting, tetapi lebih penting lagi untuk selalu tulus, mau kerja keras, punya passion, selalu beribadah, dan membuat dirinya bermanfaat untuk banyak orang. “Insya Allah, semua sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa,” katanya. (*)

Joko Sugiarsono/Anastasia Anggoro Suksmonowati

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)