Okupansi Bobobox Lebih dari 83%

Antonius Bong dan Indra Gunawan, dua pendiri Bobobox

Setelah sukses mengembangkan hotel kapsul di 3 lokasi di Bandung dengan 180 pods dengan akupansi di atas 83%, Bobobox ekspansi ke Jakarta di dua tempat, yaitu daerah Pancoran dan Panglima Polim. Targetnya hingga akhir 2020, Bobobox akan ada di 100 lokasi di seluruh Indonesia.

Perusahaan rintisan lokal yang telah mendapat pendanaan dari Alpha JWC Ventures, Genesia Ventures, Agaeti Ventures, Everhaus Ventures dan Sequoia Surge makin agresif berekspansi. Menurut Indra Gunawan, CEO Bobobox yang ditemui saat pembukaan Bobobox di Panglima Polim Jakarta (21/11/2019), potensi pasar di bisnis hotel budget yang memang tinggi. Dan hotel kapsul masih kurang pemainnya.

Belum lagi potensi pariwisata di Indonesia juga sedang tumbuh pesat, ia menyebut data World Travel & Tourism Council (WTTC), Indonesia saat ini nomor satu pertumbuhan pariwisatanya di Asia Tenggara. Dan berhasil menyumbang pendapatan domestik bruto negara ini naik dua kali lipat dibanding tahun lalu. “Dalam pariwisata, dibutuhkan bukan hanya akses, infrastruktur memadai juga akomodasi, ini salah satu pendukung penting, bobobox ada di sini,” tandasnya.

Bobobox disambut antusias sejak diluncurkan pada 2017 di Bandung. Target akupansi saat buka hanya 50%, ternyata sejak awal sudah di atas 80% bahkan di saat tertentu bisa 90%. Di Bandung, Bobobox ada di tiga lokasi yaitu di Pasir Kaliki, Dago, dan Cipaganti dengan total 130 pods tersedia.

Dengan kondisi mobilitas Jakarta sangat tinggi, memenuhi minat pasar milenials dan business traveler, yang membutuhkan penginapan harga terjangkau, terstandar, strategis dan kekinian, Bobobox kemudian membuka langsung di dua lokasi strategis di Jakarta.

Dengan dibukanya dua cabang di Jakarta, startup akomodasi berbasis teknologi ini total ada 326 pod yang bisa mengakomodasi hingga hampir 10 ribu penginap setiap bulannya.

Bobobox memiliki visi memberikan pilihan tidur berkualitas terbaik bagi setiap orang, terutama wisatawan, dengan harga yang terjangkau. Dengan visi ini, Bobobox menyediakan fasilitas tidur on-demand berbentuk penginapan kapsul modular yang terintegrasi dengan aplikasi dan memberikan standardized and customized experience bagi setiap penggunanya, mulai dari jenis kasur, warna lampu, hingga fitur pada aplikasi yang terintegrasi dengan sistem IoT (Internet of Things).

“Lokasi yang prime, pengalaman terstandarisasi, dan harga yang terjangkau adalah tiga hal yang diinginkan setiap traveler, tetapi hampir mustahil ditemukan dalam satu akomodasi. Bobobox berhasil membawa ketiganya,” ujar Indra.

“Seperti di Bandung, kami ingin memfasilitasi millenials dan business travelers yang membutuhkan akomodasi nyaman, menarik, terstandarisasi, namun tetap terjangkau di Jakarta. Secara bisnis, pasar di Jakarta jauh lebih besar daripada Bandung dan tingkat mobilitas mereka pun juga sangat tinggi. Ini menjadikan Jakarta pilihan yang tepat bagi ekspansi pertama kami,” jelas Antonius Bong, Presiden Bobobox.

Tak hanya Bandung dan Jakarta, Bobobox siap untuk melanjutkan ekspansinya di Indonesia. Dengan jumlah total 326 kamar (‘pod’) di Jakarta dan Bandung, Bobobox siap melanjutkan ekspansi ke beberapa kota besar, seperti Semarang, Surabaya, Yogyakarta, dan Bali, di 2020.

Menurut Antonius, dengan pemerintah menargetkan kontribusi pariwisata menjadi 8 persen dari sebelumnya 4 persen dari total pemasukan domestik bruto, kita memiliki pekerjaan rumah besar guna menjawab target tersebut. Terutama dalam membenahi infrastruktur pendukung, termasuk di bidang akomodasi yang kini tengah diselami Bobobox.

“Kami percaya bahwa untuk memfasilitasi pasar yang besar ini, Bobobox tidak mungkin tumbuh sendirian, karena itu kami selalu mencari rekan untuk berkolaborasi,” tambahnya. Bobobox membuka kesempatan bermitra bersama pebisnis atau pengusaha lain, baik individual maupun korporasi, untuk bergabung dan membangun pariwisata Indonesia bersama Bobobox, baik itu melalui program promosi maupun kerja sama pembangunan untuk membuka lokasi baru.

Kerja sama ini dibuka menurut Indra, tentu menjadi peluang bagi pemilik properti di tengah lesunya industri ini, memaksimalkan asetnya dengan kerja sama aset. “Kami menargetkan tahun ini bisa membuka 600 pods di 9-10 lokasi di berbagai daerah. Dan sampai akhir tahun depan kami menargetkan 100 lokasi,” ungkapnya.

Antonius menjelaskan, tiap pods membutuhkan 9 m2 dengan tipe kasur king size bed atau single bed, pihaknya tidak perlu punya aset untuk mengembangkan lokasi Bobobox. “Di Kebayoran Baru ini kami menyewa, awal tahun depan kami akan buka dua yang kerja sama dengan partner. Balik modalnya cepat, yang di Bandung dalam setahun sudah profiltable,” ujarnya.

Memang menarik, mengingat empat lantai ruko di Kebayoran Baru lokasi Bobobox, bisa dijadikan 100 lebih non smoking pods, tidak perlu menyediakan TV, cukup high speed wifi karena target pasarnya milenial tidak nonton tv lagi. Ia meyakinkan, para pengguna Bobobox 80% lebih menggunakan lagi dalam kurun wkt satu bulan layanannya, sedangkan hotel budget hanya 4%. “Kami terbantu pemasaran dari para pengguna yang memposting dan memviralkab Bobobox,” kata Anton.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)