Olah Raga Berpotensi Besar Menggerakkan Perekonomian Negara

Irman Jayawardhana, pengajar program studi Event Management di Universitas Prasetiya Mulya, mengatakan, saat ini pelaku industri event dan beberapa pemerintah daerah di Indonesia mulai banyak memberi perhatian pada wisata olah raga.

Olah raga sebagai industri sebenarnya bisa dipandang sebagai media untuk memperkenalkan destinasi wisata. Selama ini yang kita lihat masih menjadikan olah raga sebagai media, seperti Tour de Singkarak atau Jakarta Marathon misalnya, itu bukan olah raga budaya, tapi umum digunakan untuk memperkenalkan destinasi wisata.

“Padahal, kita punya olah raga-olah raga dari budaya lokal yang bisa menjadi daya tarik wisata tersendiri, seperti Lompat Batu Nias, Karapan Sapi di Banyuwangi”, ujarnya saat diwawancarai sebelum talkshow acara Eventnesia 2018 yang diselenggarakan oleh Program S1 Event Universitas Prasetiya Mulya, di Kampus BSD, Tangerang Selatan dalam siaran persnya (28/2/2018).

Namun, banyak pendapat yang menganggap apa yang berbau budaya artinya cenderung ke arah sosial yang kurang bernilai ekonomis. “Padahal sebenarnya banyak acara-acara budaya, misalnya seperti yang rutin dilakukan di Prambanan atau kegiatan olah raga komunitas di Bandung, yang sudah membangun bisnis dengan event itu. Intinya sebenarnya adalah sustainable dan dibangun dari bawah. Bukan top down yang tergantung dari kepala daerahnya sehingga kalau pemimpinnya ganti kegiatan itu hilang”, ujar Irman mengkritik.

Manajer Program Studi S1 Event Universitas Prasetiya Mulya, Peni Zulandari menambahkan, kegiatan yang sudah menjadi budaya justru seharusnya dikembangkan menjadi event yang bagus dan bernilai ekonomi tinggi.

“Yang sudah menjadi budaya justru harus dilakukan rutin agar tidak punah karena dijaga adat yang turun-temurun. Ini harus dikembangkan untuk menarik turis sebanyak-banyaknya,” kata Peni. Untuk ritual iasanya tahunan, seperti tradisi Perang di Sumba atau Karapan Sapi di Jawa Timur bisa diadakan seminggu dua atau tiga kali seperti Sendra Tari Ramayana-Sinta di Prambanan.

Eventnesia merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan Program Studi S1 Event Universitas Prasetiya Mulya yang bertujuan mewadahi para pemangku kepentingan di industri pariwisata dalam membangun, mengembangkan dan memajukan dunia pariwisata pada umumnya dan industri event pada khususnya.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua Tim Percepatan Wisata Olah Raga Kementerian Pariwisata, Aranyaka Dananjaya Axioma, berpendapat bahwa olah raga dapat menjadi sarana yang efektif untuk mendatangkan wisatawan di Indonesia.

Dalam acara olah raga besar seperti Asian Games, menurut Aranyaka, ada wisata alam dan wisata buatan. Wisata alam terjadi ketika pengunjung baik atlit peserta maupun penonton menikmati alam sekitar tempat diselenggarakannya berbagai pertandingan olah raga.

Sementara itu, wisata buatannya terjadi ketika berbagai kebudayaan lokal diangkat dalam peristiwa olah raga itu. Di Asian Games misalnya, dipertandingkan Pencak Silat, yang merupakan kekayaan olah raga lokal. “Semua itu dalam sudut pandang Kemenpar adalah sarana untuk mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya”, kata Aranyaka.

Di bagian lain, Staf Ahli Bidang Politik Kemenpora Yuni Poerwanti, menambahkan, olah raga dapat menjadi mesin kedua perekonomian Indonesia asal dikelola dengan sungguh-sungguh. “Olah raga itu kan aktivitas yang dilakukan oleh bangsa di seluruh dunia, tak terkecuali oleh bangsa Indonesia, dan sudah diatur dalam UU No.3 Tahun 2005 bahwa tidak ada satu manusia pun yang tidak bisa menikmati olah raga, baik layanannya, (ke)ikut(sertaan) memelihara sarana-sarananya, industri olah raganya, sampai ke sport tourism, dan sebagainya”, jelas Yuni.

Olah raga itu sendiri merupakan sarana alat promosi, tambah Yuni, antara lain dalam dunia pendidikan, kesehatan, perdamaian dan pariwisata. Dalam UU olah raga itu ada 3 lingkup yang dinyatakan. Olah raga untuk pendidikan, karena di dunia pendidikan itu bukan hanya olah pikir, tapi juga ada psikomotor, olah fisik.

Yang kedua, olah raga untuk rekreasi, penting sekali, lalu dari pembudayaan yang berasal dari rekreasi menuju prestasi. Ketiga, tentu saja olah raga untuk prestasi, untuk gengsinya sebuah negara, untuk martabat bangsa. “Kita semua tentu harus memperhitungkan, memperjuangkan sport tourism. Ini salah salatu promosi kepada bangsa lain. Dan di sini yang paling penting, bagaimana kita mengelola, mempersiapkan, mengemas keberlanjutannya olah raga sebagai wisata ini”, jelasnya.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)