Optimalisasi Angkutan Multimoda untuk Dorong Industri Logistik

Sebagai negara yang terbentang sepanjang 5 ribu kilometer dengan 17 ribu pulau, Indonesia memiliki tantangan dalam sistem logistik nasional. Terkonsentrasinya sentra industri yang hanya di beberapa titik, menyebabkan distribusi dan inventory barang memerlukan biaya yang besar.

Indonesia, mau tidak mau, harus dapat merumuskan sistem logistik yang sesuai dengan karakter yang dimilikinya. Untuk merumuskan sistem tersebut, dibutuhkan identifikasi yang mendalam serta memitigasi tantangan yang akan dihadapi ke depannya dalam pelaksanaan aktivitas logistik nasional.

“Saat ini kondisi logistik di Indonesia memerlukan biaya yang tinggi. Logistic Performance Index pun mempunyai tantangan yang luar biasa ke depan,” kata Staf Ahli Menteri Bidang Logistik, Multimoda dan Keselamatan Perhubungan, Cris Kuntadi dalam diskusi webinar: Tantangan Logistik Indonesia Sebagai Negara Archipelago (09/09/2020). Lebih jauh, menurutnya, Indonesia harus lebih memaksimalkan kenaikan Ranking Global Competitivenss Index, dan Ease of Doing Business yang terjadi setiap tahunnya.

Regulasi mengenai multimoda yang dikeluarkan oleh pemerintah diharapkan dapat menjadi kemudahan bagi pebisnis untuk menjalankan usahanya. Dalam kebijakan tersebut, definisi multimoda adalah angkutan barang dengan menggunakan paling sedikit 2 moda angkutan yang berbeda atas dasar satu kontrak sebagai dokumen angkutan multimoda, dari satu tempat diterimanya barang oleh badan usaha angkutan multimoda ke suatu tempat yang ditentukan untuk penyerahan barang kepada penerima barang angkutan.

“Hingga saat ini perusahaan multimoda di Indonesia jumlahnya masih sedikit artinya tidak sebanding dengan kondisi negara archipelago yang darat, laut, udaranya sangat luas,” kata dia menambahkan.

Dia berharap ada satu perusahaan angkutan multimoda yang muncul. Sehingga, ketika mengirimkan barang tidak harus kontrak dengan 1 sampai 5 perusahaaan, tapi cukup dengan 1 perusahaan yang mencakup angkutan darat, laut, udara. Hal ini, menurutnya, akan menurunkan cost yang dikeluarkan.

Untuk diketahui, saat ini angkutan yang ada di Indonesia masih didominasi oleh angkutan jalan raya. Sedangkan, Indonesia memiliki banyak pulau dan dikelilingi oleh perairan. Kementrian perhubungan telah memiliki rencana untuk memindahkan angkutan jalan raya ke laut. Caranya dengan meningkatkan keterpaduan jaringan prasarana dengan mengurangi beban angkutan jalan raya.

Startegi ini menjadi sangat vital karena dengan mengurangi penggunaan truk yang memiliki resiko keselamatan tinggi. Selain itu, truk yang berkecepatan sangat lambat dalam membawa barang ini mengakibatkan kemacetan dan juga polusi udara dari emisi gas yang dikeluarkan.

“Penggunaan angkutan lanjutan dari pelabuhan yang bermuatan banyak dalam sekali angkut akan lebih efisien baik dari segi harga maupun waktu, misalnya dengan kereta api,” ujarnya. Dia menuturkan, ada banyak pelabuhan dan tempat strategis yang dapat diintegrasikan dengan kereta api seperti halnya di Pelabuhan Belawan dan Kuala Tanjung di Sumatera Utara.

“Kami ingin menyiapkan multimoda yang baik dari sisi project management dan juga change management,” kata dia menutup pembicaraan.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)