Outlook 2018 Industri Hulu Migas

Menurut data CESRI (Center for Energy and Strategic Resources), lembaga penelitian yang fokus mengkaji perkembangan industri ekstraktif dan strategis khususnya migas di Indonesia, dalam  periode Januari hingga Desember 2017, tercatat ada 3.563 berita terkait industri migas yang memuat 2.310 berita positif dan 127 berita negatif. sementara sisanya netral.

"Hal ini bisa menjadi salah satu dasar untuk melihat sebesar apa industri hulu migas ini menjadi perhatian," ujar Prima Mulyasari Agustini, Direktur Eksekutif CESRI di sela Focus Group Discussion (FGD) Industri Hulu Migas dalam Sorotan Media yang bertema “Refleksi 2017 dan Outlook 2018: Pesimis atau Optimis?” di Jakarta (27/12/2017).

Djoko Siswanto, perwakilan SKK Migas,  dalam pemaparannya menjelaskan capaian kinerja SKK Migas 2017. SKK Migas telah mencapai penahanan laju penurunan produksi sebesar 3,4% (YTD Nov 2017) dari target rata-rata decline rate produksi minyak bumi nasional di bawah 5%. Sementara,  target lifting minyak dan gas yang sebesar 2.100 ribu boepd tercapai sebesar 93% sampai November 2017. Lalu realisasi penerimaan negara tercapai US$ 11,33 miliar dari targetnya sebesar US$ 10,91 miliar.

Untuk tahun 2018, target SKK Migas yaitu rata-rata decline rate produksi minyak bumi nasonal di bawah 5%, pencapaian reserve replacement ratio untuk migas sebesar 100% (barrel oil equivalent), pencapaian target lifting minyak dan gas 2.000 mboepd, pengendalian atas cost recovery sebesar US$ 10,09 miliar, dan target penerimaan Negara APBN 2018 sebesar US$ 11,90 miliar.

“Di sisi sinergi dengan kontraktor KKS, pada pembahasan WP&B (Work Program and Budget) telah dirumuskan kesepakatan antara SKK Migas dengan kontraktor KKS terhadap target industri hulu migas,” ujar Djoko.

Terkait hal itu, Metta Dharmaputra, Direktur Katadata.co.id, ke depan, tantangan utama di industri hulu migas adalah masalah eksplorasi. “Di tahun-tahun mendatang, tantangan paling utama adalah mengenai eksplorasi karena pastinya akan terjadi uncertainty yang menjadi PR kita,” ujarnya.

Selain itu dari faktor eksternal, Hendrajit dari Global Future Institute, menambahkan, situasi geopolitik juga perlu diperhatikan. Untuk menggapai target-target tersebut, semua narasumber menyepakati bahwa perlu adanya sinergi semua pemangku kepentingan, terutama mengenai transparansi atau keterbukaan. “Sinergi semua pemangku kepentingan industri hulu migas, baik itu perusahannya, pemerintah, anggota dewan, maupun media. Hal yang terpenting adalah semua pihak mau terbuka, menjunjung transparansi,” ungkap Hendrajit.

www.Swa.co.id

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)