Pandemi Bisa Menjadi Momen untuk Industri Jamu Lebih Berkembang

dr. Wijayani Mardiana, M.Med, (paling kiri) Perry Angglishartono selaku Product Group Manager PT Jamu Iboe Jaya (kanan) sebagai pembicara webinar “Tingkatkan Daya Tahan Tubuh dengan Jamu Asli Indonesia”

Pandemi bisa dijadikan momentum untuk terus berkreasi dan berinovasi melahirkan terobosan agar keluar dari krisis. Pameran virtual pertama yang diadakan Krista Exhibitions, salah satu upaya tersebut. Dalam satu bagian pameran ini yaitu, Herbal Expo, PT Jamu Iboe Jaya membagikan pengalamannya menghadapi pandemi dalam sebuah webinar.

Jamu Iboe mengatakan webinar dengan menghadirkan dr. Wijayani Mardiana, M.Med, sebagai pakar kesehatan dan Perry Angglishartono selaku Product Group Manager PT Jamu Iboe Jaya sebagai pembicara. Webinar ini mengambil tema “Tingkatkan Daya Tahan Tubuh dengan Jamu Asli Indonesia” sebagai bagian dari Virtual Herbal Expo yang diselenggarakan oleh Krista Exhibitions pada 10 Desember.

Perry mengungkapkan dalam seminar tersebut,  dampak pandemi terutama di awal pemberlakuan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Namun setelah banyak informasi tentang khasiat temulawak, kunyit dan jahe untuk daya tahan tubuh, ia melanjutkan, pelaku industri jamu mulai bangkit, demikian juga dengan Jamu Iboe, tepatnya mulai bulan April 2020,  bahkan harga empon-empon pun melonjak.

“Walau permintaan tinggi pada produk jamu yang bisa meningkatkan daya tahan tubuh, saat awal kami kesulitan distribusi, untuk ke kota-kota kecil salesman kami sulit masuk,” kenangnya. Setelah dilonggarkan, barulah kondisinya lebih baik. Perry mengakui kalau produk jamu mengalami peningkatan permintaan selama pandemi Covid-19.

Produk jamu dengan konsep baru sejak pandemi menurut Perry, makin banyak muncul, ini berkat anak-anak muda dengan segala terobosan. “Saya pikir ini bagus, momentumnya industri jamu,” jelasnya. Walau kompetitor banyak, ia tidak menganggap sebagai kompetitor murni justru bisa bekerja sama membangun industri jamu menjadi lebih besar lagi.  

PT Jamu  Iboe Jaya sendiri merupakan produsen jamu tertua di Indonesia yang berdiri sejak 1910 di Surabaya Jawa Timur. Perusahaan dengan nama awal Djamoe Industrie en Chemicalien Handel “Iboe” Tjap 2 Njonja” ini saat ini dikelola oleh generasi keempat. Mengkombinasikan filosofi ramuan jamu tradisional Indonesia dengan perkembangan teknologi.

Demikian halnya dalam melahirkan produk, menurut Perry, perusahaan menghadirkan produk yang dibutuhkan masyarakat. “Saat pandemi ini produk Jamu Iboe yang paling dicari dan laku adalah kapsul kami yang mengandung temulawak, kunyit dan jahe yaitu produk Curmino, dari ekstrak temulawak murni. Dan yang terbaru kami ada Curmino Plus Neo yang isinya ekstrak temulawak, meniran dna sambiloto. Semuanya sangat baik untuk meningkatkan daya tahan tubuh,” paparnya.

Menurut dr Wijayani, bagi orang dengan daya tahan tubuh tinggi, walau terpapar COVID-19, mereka tidak akan memperlihatkan gejala sakit. Namun ia akan menjadi pembawa virus corona lanjutnya, sehingga ketika menularkan ke lansia atau orang dengan daya tahan rendah, ini yang akan membahayakan, terlebih jika mereka memiliki penyakit bawaan (jantung, darah tinggi, asma, jantung, paru-paru dan sebagainya). Ia membenarkan bahwa ekstrak dalam temulawak yaitu curcumin bisa meningkatkan daya tahan tubuh. Untuk itu sangat penting di tengah kondisi pandemi ini, masyarakat menjaga daya tahan tubuhnya.

Dalam sambutannya, ketika membuka Herbal Expo ini, Ketua Umum GP Jamu, Dwi Ranny Pertiwi Zarman,S, MH menyampaikan dukungannya atas terselenggaranya pameran Krista Virtual Expo diselenggarakan oleh Krista Media pada tanggal 8 - 13 Desember 2020 ini. Pameran Virtual Herbal Expo yang menampilkan produk produk dari industri Jamu dan Obat Tradisional, makanan dan minuman, hasil laut dan teknologi rantai pendingin serta lisensi. “Terlebih pameran ini diikuti oleh kurang lebih 350 perusahaan dengan target 55 ribu pengunjung secara online. Besar harapan kami bahwa dengan terselenggaranya pameran Krista Virtual Expo ini dapat menjadi salah satu solusi media promosi di saat pandemi Covid 19 untuk meningkatkan permintaan serta daya beli masyarakat terhadap Jamu dan Obat tradisoonal di Indonesia,” kata Dwi.

Chief Executive Officer Krista Exhibitions Daud D. Salim dalam sambutannya mengatakan, Eastfood Virtual Expo berlangsung secara virtual dari tanggal 8 hingga 13 Desember 2020. Pameran ini diadakan di dalam tiga hall virtual dan diikuti oleh 200 perusahaan dari dalam dan luar negeri. “Diharapkan melalui pameran virtual ini apa yang terjadi di pameran offline itu juga bisa terjadi di dalam pameran virtual di mana setiap pembeli dan pengunjung yang hadir bisa mencari produk yang mereka kehendaki, mereka bisa registrasi dan mereka akan bertemu bertatap muka karena kita ada  platform yang namanya video call dan juga disitu mereka berkomunikasi melalui live chat, juga mereka bisa melihat e-product, bisa melihat e-brosur, dan sebagainya,” papar Daud.  

Eastfood Indonesia Expo menghadirkan: Seafood Expo, Indo Licencing Expo, Herbal & Jamu Expo, Refritech Expo. Pameran ini merupakan ajang promosi untuk mempromosikan produk herbal jamu Indonesia, makanan, minuman ke dalam negeri maupun Internasional, juga hasil laut, teknologi pendingin maupun lisensi. Selama 6 hari pameran, terdapat kurang lebih 65 acara seperti webinar, live demo cooking juga ada kompetisi secara virtual, pelatihan, baking demo dan cooking demo, cupping competition, ada acara acara lainnya.

Ada sekitar 139 pembicara berbagi pengetahuan dan para chef terkemuka membagikan keahliannya tentang makanan dan minuman. Serta ditampilkan teknologi untuk pengolahan makanan termasuk juga produk hasil olahan Indonesia.  “Terdapat lebih dari 25 perusahaan UMKM yang ikut ambil bagian dan kami harapkan selama 6 gelaran acara akan terjadi banyak transaksi dan juga komunikasi,” ujar Daud.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)