Parsable, Sahabat Digital bagi Frontline Worker

Selama bertahun-tahun para pekerja frontline di pabrik dan pergudangan hanya dibantu dokumen SOP paper-based. Parsable hadir menyediakan digital tools demi meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan keselamatan mereka.

Beberapa tahun terakhir ini teknologi makin merambah pekerjaan-pekerjaan industri. Terutama, untuk peningkatan efisiensi, kecepatan, dan kualitas proses produksi lewat teknologi otomasi di lingkungan pabrik, pergudangan logistik, dan semacamnya. Bahkan, seiring dengan diintroduksinya istilah Industri 4.0, sejumlah perusahaan terkemuka di bidang industri dikabarkan mulai berinisiatif menggunakan teknologi yang lebih mutakhir, misalnya teknologi robotik, Internet of Things (IoT), hingga big data analytics.

Namun, kenyataannya, masih banyak sekali perusahaan di sektor industri yang menghadapi masalah mendasar. Salah satunya, soal keselamatan kerja karyawan frontline di pabrik atau pergudangan. Bahkan, perusahaan sekelas Amazon masih menghadapi masalah keselamatan kerja karyawan ini. Lebih tegasnya, masih relatif tingginya injury rate (tingkat cedera) akibat pekerjaan.

Seperti dilaporkan CNBC.com (29 September 2020), yang mengutip laporan dari Reveal from the Center for Investigative Reporting, angka injury rate di Amazon meningkat setiap tahunnya secara konsisten, sejak 2016, berdasarkan data internal safety report dari 150 gudang pelayanan (fulfillment centers) miliknya.

Masih dari laporan Reveal, pada 2019 Amazon mencatat 14.000 serious injury di sejumlah gudang pelayanannya, yang berarti mencapai tingkat 7,7 serious injury per 100 karyawan. Ini berarti hampir dua kali dari standar industri di Amerika Serikat, yang sebesar empat serious injury per 100 karyawan. Padahal, perusahaan terkemuka ini mengklaim sudah menginvestasikan puluhan juta dolar untuk mendongkrak tingkat keselamatan karyawan.

Data lain juga menunjukkan, faktor keselamatan kerja masih menjadi tantangan besar pelaku industri. Contohnya, US Bureau of Labor Statistics (BLS) melaporkan pada tahun lalu terjadi lebih dari 5.000 fatal injury, dari total lebih dari 3,5 juta kejadian cedera atau sakit akibat pekerjaan. Kebanyakan cedera atau sakit ini terjadi di lingkungan industri. Yang disayangkan, kondisi seperti ini selama satu dekade terakhir hampir belum ada perbaikan.

Karena itu, para pengamat industri meyakini bahwa faktor keselamatan kerja masih akan menjadi isu penting di kalangan eksekutif top (C-suite). Masalahnya, selama ini para pekerja frontline di pabrik atau pergudangan itu sebagian besar tidak dibekali dengan teknologi informasi (TI) yang memadai.

Boleh jadi, transformasi digital  --terutama lewat proses otomasi ataupun penggunaan teknologi robotik-- makin menjadi wacana modernisasi dan transformasi digital dunia industri. Namun, selama bertahun-tahun ada satu kenyataan lain yang jarang dilihat, yakni ada jutaan karyawan frontline (garis depan), baik di pabrik, gudang, maupun areal industri lainnya (yang selama ini tidak bekerja di belakang meja), yang seperti terlupakan.

Pendiri Parsable (Ki-ka): Chase Feiger, Yan-David Erlich, Ryan Junee (Foto: dmagazine)

Selama ini, banyak frontline worker yang bekerja berdasarkan SOP (standard operating procedures) berupa dokumen kertas, yang tidak simpel dan fleksibel untuk digunakan. Susah bagi mereka mendapatkan info, data, dan insight terkini. Padahal, menilik survei firma konsultan A.T. Kearney, hingga saat ini sekitar 70% pekerjaan di pabrik-pabrik masih dilakukan oleh manusia.

Untunglah, untuk permasalahan sepenting itu kini sudah ada solusinya, sebagaimana dicontohkan oleh Parsable, perusahaan rintisan yang menyediakan solusi platform teknologi untuk para pekerja frontline. Perusahaan ini didirikan oleh trio anak muda, Chase Feiger (kini 32 tahun, lulusan master dari Cambridge dan alumni program Forbes 30 Under 30), beserta dua anak muda lainnya, Ryan Junee (pembuat perusahaan video-editing yang sudah dijual ke Google) dan Yan-David Erlich.

Pada Juni 2013 perusahaan mereka berdiri dengan dukungan seed funding sebesar US$ 1,3 juta, terutama dari First Round Capital, tempat Feiger bekerja secara moonlighting sebagai konsultan portofolio. Ceritanya bermula ketika pada 2012 Feiger (saat itu 24 tahun dan masih kuliah di sekolah kedokteran) ditugaskan oleh First Round Capital untuk melakukan due diligence serta membantu Junee dan Erlich membangun business plan.

Setelah berbulan-bulan bekerja bersama mengembangkan business plan dan teknologinya, keduanya, Junee dan Erlich, meminta Feiger keluar dari sekolahnya dan bergabung sebagai co-founder. “Ini seperti mimpi saya yang jadi kenyataan --untuk memulai perusahaan,” kata Feiger. Dia pun merelakan diri keluar dari pekerjaannya di firma venture capital (VC) itu, juga dari sekolah kedokterannya. “Ayah saya waktu itu sampai tidak mau berbicara dengan saya selama enam bulan,” Feiger mengenang.

Chase Feiger, salah satu pendiri Parsable (Foto: Forbes)

Dari situ, pada Juni 2013 berdirilah perusahaan bernama Wearable Intelligence. Fokusnya adalah mengembangkan teknologi wearable untuk membantu para dokter dan petugas medis melakukan pekerjaannya, terutama dengan memanfaatkan Google Glass. Pada Agustus 2013, dilakukan pilot project bekerjasama dengan Beth Israel Deconess Medical Center di Boston, AS.

Anak-anak muda ini akhirnya dengan cepat menemukan realitas, bahwa teknologi mereka belum cukup siap pada saat itu, baterainya tidak bisa bertahan 12 jam dan cenderung overheat. Dan, ada isu yang lebih besar: kalangan rumah sakit umumnya tidak punya anggaran TI memadai untuk berinvestasi teknologi wearable canggih seperti Google Glass.

Dengan cepat mereka pun memutar haluan bisnis mereka dengan melihat peluang bisnis yang kuat dari kalangan pelaku industri. Nama perusahaan pun diubah menjadi Parsable. Waktu itu, yang dilirik pertama adalah Schlumberger, perusahaan penyedia jasa lapangan minyak terbesar di dunia.

Maka, selama tiga tahun berikutnya, mereka menghabiskan ribuan jam untuk mengamati para pekerja di fasilitas Houston tempat Schlumberger membuat peralatan pengeboran minyak. Mereka juga mengamati cara kerja karyawan frontline di 20 perusahaan industri lainnya. “Kami melakukan itu untuk bisa memahami lebih baik cara kerja dan kesulitan mereka,” kata Feiger.

Dia melihat kebanyakan perusahaan software korporat lainnya hanya fokus pada aplikasi industri, tetapi kurang memperhatikan titik pandang dan kebutuhan pekerja lapangan. Feiger memperhatikan banyak pekerja ini yang bekerja di lingkungan paling kompleks di dunia tanpa mendapatkan dukungan dari digital tools, berbeda dengan mereka yang bekerja di kantor. “Kami berusaha menangkap apa kebutuhan mereka dan mengintegrasikannya dalam satu solusi,” katanya. Dari sini lahirlah solusi yang disebut Connected Worker Platform.

Ini seperti versi modern dari pendekatan teori manajemen Frederick W. Taylor, yang mendorong efisiensi dengan melihat time and motion orang dalam melaksanakan pekerjaan. Taylor melihat faktor manusia seperti salah satu gigi dalam jalur perakitan, sedangkan Parsable menempatkan manusia bekerja sepresisi mesin.

“Kami ingin memberi para pekerja itu level otomasi yang sama dengan yang didapatkan mesin-mesin. Kami menyebutnya sebagai ‘digital twin’,” kata Lawrence Whittle, veteran industri software yang bergabung menjadi CEO Parsable sejak November 2016.

Whittle menjelaskan, tantangan besar yang dihadapi perusahaan rintisan ini adalah adanya persepsi bahwa para pekerja industri tidak perlu terkait dengan TI. Itulah mengapa, kata dia, tim Parsable perlu waktu panjang untuk membangun produk pertamanya. Alasannya, mereka ingin memberi para pekerja industri itu teknologi yang betul-betul mereka butuhkan, bukan apa yang para pengembang pikirkan akan butuhkan. Riset primernya betul-betul memakan waktu.

Lawrence Whittle, CEO Parsable (Foto: Istimewa)

Menurut Whittle, solusi Connected Worker Platform yang user-friendly itu dibuat untuk menggantikan cara kerja berbasis paper-and-pen di lingkungan industri di mana penggunaan PC ataupun laptop juga tidak praktis. Ketimbang membawa-bawa walkie-talkie dan dokumen tebal berisi prosedur, pekerja cukup mengetuk, menggeser, atau memilih fitur pada smartphone ataupun tablet, mengukur setiap aksi yang dilakukan sekaligus membuat digital record yang dapat digunakan untuk menganalisis kemacetan proses atau meningkatkan produktivitas.

Dengan menggunakan foto, audio, ataupun video, mereka juga berbagi informasi penting dengan para supervisor atau kolega di shift berbeda. Sehingga, memungkinkan adanya proses kolaborasi yang sebelumnya sulit tercipta.

Chase Feiger dengan investor Passable (Foto: Istimewa)

“Apa yang kami lakukan adalah membuang kertas-kertas pedoman itu. Gantinya, kami menyediakan pegangan digital bagaimana melakukan pekerjaan, dengan sasaran meningkatkan efisiensi, mengurangi insiden keselamatan, dan meningkatkan kualitas hasil pekerjaan,” Whittle memaparkan. Ide dasarnya sama seperti menaruh sensor di mesin. Namun, kata Whittle, pihaknya mengembangkan ide bagaimana menaruh instrumen itu pada tangan pekerja.

Dia meyakinkan bahwa solusi software dari Parsable ini mudah digunakan, sehingga menjamin para veteran pekerja lapangan atau pabrik yang sudah bekerja 20-30 tahun pun dapat menggunakannya tanpa ada kesulitan. “Kalau Anda dapat menggunakan media sosial, Anda dapat menggunakan aplikasi kami,” ujar Whittle.

Lantas, bagaimana solusi connected worker dari Parsable ini dapat menjawab masalah keselamatan kerja karyawan frontline?

Prinsipnya, teknologi ini menjamin ketersediaan informasi paling akurat buat para pekerja frontline dan di remote area. Pemeriksaan keselamatan (safety checks) diubah dari semula berupa dokumen paper-based dan statis (dan tak jarang protokolnya sudah out of date) menjadi pedoman yang digital dan interaktif. SOP digital ini bisa memuat dokumen referensi, instruksi audio dalam berbagai bahasa, hingga video tutorial.

Sebagai contoh, seorang inspektur yang ada di lapangan mungkin saja suatu ketika menemukan indikasi situasi berbahaya, tetapi dia tak punya keahlian untuk mendiagnosis atau menangani masalah itu sendiri. Ketimbang menunggu instruksi tambahan atau pengiriman tim ahli ke lokasi, kehadiran solusi Connected Worker Platform memungkinkan sang inspektur untuk menginisiasi conference call dengan satu atau beberapa anggota tim, serta menerima dukungan dan arahan segera.

Parsable memang punya diferensiasi tersendiri, terutama karena menargetkan untuk mendukung orang-orang di bagian frontline perusahaan. “Selama 20 tahun terakhir, kebanyakan perusahaan Silicon Valley membuat software untuk orang-orang (karyawan) yang duduk di belakang meja,” kata Whittle, sang CEO Parsable. “Padahal, 80% dari total karyawan tidak bekerja di belakang meja, dan sebagian besar dari mereka tidak didukung oleh software,” tambahnya.

Dengan tawaran solusi yang ciamik, Parsable bisa menggaet sejumlah pelanggan/klien dari kalangan perusahaan indusri besar. Di antaranya, raksasa migas Schlumberger (yang menjadi tempat riset awalnya), produsen kaleng aluminium Silgan, Corteva Agriscience (divisi pertanian dari DowDuPont). Menyusul pula nama-nama seperti Shell, Heineken, L’Oreal, dan Grupo Bimbo. Pelanggan Parsable secara umum berasal dari kalangan perusahaan global di bidang manufaktur dan industri energi, mencakup industri consumer packaged goods (CPG), sumber daya alam dan kimia, material bangunan, otomotif, dan aerospace.

Yang tergoda bukan hanya perusahaan industri pengguna solusinya, tetapi juga investor. Pada Mei 2018, Parsable mengumumkan mendapatkan injeksi dana tunai dari putaran pendanaan yang dipimpin oleh Future Fund, dan mendapat dukungan dari B37 Ventures, dan sejumlah existing investor seperti Lightspeed Venture Partners, Airbus Ventures, dan Aramco Ventures. Hingga Mei 2018 itu, total dana yang sudah diraih Parsable mendekati US$ 70 juta. Dengan capaian putaran pendanaan Mei 2018 itu valuasi Parsable mencapai US$ 250 juta.

Kabar yang terbaru, pada Agustus 2020, Parsable berhasil menggaet pendanaan senilai US$ 60 juta. Konsorsium pendananya dipimpin oleh Activate Capital dan Glade Brook Capital Partners. Dengan raihan pendanaan tersebut, total dana yang sudah digaet perusahaan startup yang bermarkas di San Fransisco itu mencapai US$ 133 juta. Namun, manajemen Parsable menolak mengungkap perkiraan valuasinya setelah pendanaan ini.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, minat kalangan VC terhadap perusahaan penyedia software industri meningkat. Bahkan, sebelum terjadinya pandemi Covid-19 yang mendorong penggunaannya. Apa yang dialami Parsable salah satu indikasinya.

Pada 2019, revenue-nya melampaui US$ 10 juta, atau dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Manajemen Parsable meyakini revenue perusahaan ini akan mencapai sekitar US$ 50 juta dalam beberapa tahun ke depan.

Whittle, yang berpengalaman membawa dua perusahaan software lainnya go public (yakni Model N dan Centra Software), berharap bisa membawa Parsable IPO dalam 2-3 tahun ke depan. Dia mengaku sudah ada tawaran akuisisi, tetapi tidak tertarik. “Pasarnya begitu besar,” katanya. “dan apa yang diinginkan orang-orang adalah skala bisnisnya.” Semasa pandemi Covid-19, kalangan industri manufaktur melihat makin pentingnya software dan tools seperti platform Parsable, demi menjaga keamanan dan keselamatan karyawannya.

Ada cerita menarik terkait putaran pendanaan pada Agustus 2020 itu. Di akhir tahun lalu, sebelum merebaknya virus corona, Parsable memutuskan memulai langkah fundraising dalam rangka ekspansi. Whittle baru saja melakukan kick-off langkah fundraising ini pada pertengahan Maret 2020 ketika wabah Covid-19 mulai menerpa kawasan Bay Area. “Kami sempat mundur dan bertanya, ’Haruskan kami teruskan (fundraising ini) atau menundanya?’ Namun, para board member kami mendorong untuk diteruskan saja.”

Hebatnya, meski tidak pernah sekalipun menemui para investor secara face-to-face semasa periode fundraising itu (lantaran Covid-19), putaran pendanaan ini tercatat oversubscribed dan berakhir dengan peningkatan capaiannya dari semula ditargetkan US$ 40 juta menjadi US$ 60 juta. “Apa yang kami capai ini memvalidasi bahwa dunia industri selama ini masih kurang terlayani,” kata Whittle.

Salah satu keunggulan Parsable, kata Paul Hudson, Founding Partner dari Glade Brook Capital (salah satu investor Parsable), untuk menumbuhkan bisnisnya tidak cuma tergantung pada kehadiran pelanggan baru, tetapi juga dengan existing customer-nya yang bisnisnya terus tumbuh. Misalnya, dari satu pabrik menjadi punya lebih banyak pabrik. Dengan demikian, pengguna platform Parsable juga menjadi lebih banyak. Connected Worker Platform hingga saat ini memiliki pengguna di lebih dari 130 negara dan tersedia dalam 14 bahasa.

Hasil pendanaan putaran terbaru dari para VC tadi akan digunakan Parsable untuk berekspansi secara global dan menambahkan fitur-fitur baru pada platformnya. “Pabrik-pabrik akan menjadi lebih modern dan otomatis, akan tetapi tenaga kerja manusia masih merupakan bagian yang sangat penting dari proses manufaktur perusahaan,” kata Hudson. (Riset: Armiadi Murdiansah).(*)

Sekilas Parsable

-Nama perusahaan    : Parsable (www.parsable.com)

- Bidang bisnis           : penyedia digital tools (berupa connected worker platform) untuk pekerja frontline di pabrik, pergudangan, dan remote area

- Waktu berdiri         : Juni 2013 (mulanya bernama Wearable Intelligence)

-Kantor pusat            : San Francisco, AS

- Pendiri                     : Chase Feiger, Ryan Junee, Yan-David Erlich

- Eksekutif penting    : Lawrence Whittle (CEO)

- Investor penting      : First Round Capital, Future Fund, B37 Ventures, Lightspeed Venture Partners, Activate Capital, Glade Brook Capital, Airbus Ventures, Aramco Ventures

- Total pendanaan     : US$ 133 juta (hingga Agustus 2020)

- Klien penting           : Schlumberger, Shell, Heineken, Grupo Bimbo, Halliburton, Corteva Agriscience, Georgia-Pacific, L’Oreal, dan Silgan

Sumber: dari berbagai sumber

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)