Pasar Modal dan Properti Masih Tujuan Utama Investasi 2018

PT Schroder Investment Management Indonesia merilis hasil survei yang dilakukan Schroder global pada 23/11/2017 lalu. Survei tersebut melibatkan lebih dari 22 ribu investor di 30 negara.

Hasilnya memperlihatkan bahwa di tahun 2018 nanti orang-orang masih memprioritaskan investasi di pasar (pasar modal, pasar uang atu pasar komoditas) daripada menabung di bank, membeli properti dan membeli kemewahan seperti liburan dan mobil baru, serta melunasi hutang.

Dari survei tersebut juga diketahui bahwa orang masih mengharapkan pengembalian investasi yang tidak realistis. “Ini menunjukkan adanya kesenjangan pengetahuan investasi,” ujar Teddy Oetomo, Head of Intermediary Schoders Indonesia. Tetapi yang menarik adalah pada saat yang sama di seluruh dunia, keinginan orang untuk belajar lebih banyak tentang investasi sangat besar.

Berikut tren investasi yang dilihat di tiga wilayah di dunia berdasarkan hasil survei tersebut. Pertama di Asia, tren terkuat di Asia dengan negar-negara seperti China (45%), Taiwan (45%), Hong Kong (39%) dan jepang (38%) menempatkan prioritas tertinggi untuk investasi. Sedangkan Korea Selatan menunjukkan tren yang berlawanan, negara tersebut memilih menempatkan dananya dalam deposito (19%) atau membeli properti (16%), hanya 12% yang memilih berinvestasi di pasar modal.

Di Eropa, hanya ada dua negara yang memprioritaskan investasi di pasar modal yakni Swedia (29%) dan Italia (26%). Sementara itu, di Prancis, Rusia dan Portugal, orang lebih memilih menyimpan uang di bank. “Ini cukup mengejutkan mengingat rendahnya suku bunga di seluruh Eropa,” ujar Teddy.

Di Amerika (Amerika Serikat, Kanada, Brasil dan Cile) pilihan terbanyak (19%) adalah berinvestasi, lalu diurutan kedua (16%) adalah menabung di bank. Namun, negara-negara di Amerika Latin cenderung ingin berinvestasi di properti dibandingkan negara-negara lain di Amerika Utara.

Di Indonesia sendiri prioritas utama dispoasable income investor untuk tahun ke depan difokuskan pada investasi seperti pada saham, obligasi, komoditas dan properti (21%). Kemudian sebanyak 12% memilih deposito dan atau menabung di bank dan 14% memilih investasi untuk pensiun.

Studi tersebut juga menyoroti bahwa investor cenderung memiliki ekspektasi imbal hasil yang tidak realistis. Selama lima tahun kdepan invevstor global umumnya berharap memperoleh pengembalian rata-rata tahunan sebesar 10,2% (di Eropa 8,7%, Asia dan Amerika sebesar 11,7%). Padahal indeks MSCI World memberi imbal hasil sebesar 7,2% per tahun elama 30 tahun terakhir.

Editor : Eva Martha Rahayu

 

www.Swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)