Passpod Garap Pasar Traveller dengan Modem 4G Portable

 

Studi World Economic Forum menunjukkan, konektivitas merupakan salah satu kebutuhan primer generasi milenial dalam bepergian keluar negeri. Selain untuk kebutuhan dasar komunikasi, kebutuhan untuk sharing informasi lokasi dan penggunaan social media menjadi alasan mengapa konektvitas berbasis internet menjadi penting.

Salah satu cara termudah untuk mengakses internet di luar negeri adalah membeli kartu SIM di negara masing-masing atau membeli paket data roaming dari negara asal. Namun, tingginya biaya di kedua opsi ini kerap menjadi penghambat para traveller untuk tetap up-to-date dengan lingkungannya.

Melihat hal ini, CEO Passpod, Hiro Whardana, menuturkan, traveller milenial kerap mengandalkan banyak sumber untuk menentukan layanan, jasa transportasi dan lokasi-lokasi yang ingin mereka kunjungi di suatu negara. “Terlalu banyak informasi dampaknya justru akan banyak kehilangan waktu saat traveling,” kata Hiro

Maraknya bisnis travelling keluar negeri diyakini berdampak positif bagi bisnis Passpod miliknya. Passpod sendiri merupakan perusahaan berbasis teknologi yang fokus menyediakan kebutuhan traveller selama perjalanan. Salah satunya adalah rental modem portable berteknologi 4G atau travel mifi. “Semakin tech savvy dan terkoneksi seseorang, maka kebutuhan untuk berkomunikasi secara real time lewat beragam media juga menjadi penting bagi mereka," ujarnya.

Dia menambahkan,  Passpod menawarkan biaya internet yang terjangkau dengan sistem rental dengan tiga opsi pengambilan produk, yakni lewat jasa kurir antar jemput gratis, dan pengambilan mandiri di store atau di bandara yang bermitra dengan Passpod.“Kami menyediakan jaringan internet 4G di lebih dari 68 negara di dunia seperti AS, Singapura, Hongkong, Thailand, Jepang, Korea dan negara-negara Eropa dan Timur Tengah,” ujarnya menambahkan.

Sementara itu,  World Travel and Tourism Council tahun 2018 menyebutkan, Asia kini menjadi benua dengan pertumbuhan sektor Travel dan Tourism tercepat dibanding negara-negara lainnya. Riset ini juga menyebut Indonesia termasuk salah satu negara dengan pertumbuhan traveller tercepat, berada di angka 7,7%.

Beberapa faktor yang diyakini mendukung mobilitas traveller adalah semakin rendahnya hambatan saat bepergian atau travel barriers seperti proses pembuatan paspor dan perizinan visa yang semakin mudah, banyaknya pilihan penerbangan internasional dengan biaya terjangkau, dan rute-rute penerbangan langsung yang banyak di buka setiap tahunnya. Faktor lain seperti peningkatan disposable income kelas menengah dan tren sharing cost juga cukup memberikan pengaruh pada gaya travelling masyarakat khususnya generasi milenial saat ini.

Managing Partner Ideosource VC, Edward Ismawan Chamdani, mengatakan, pertumbuhan bisnis travelling memberikan angin segar bagi pengusaha startup di Indonesia. Dari perspektif investor, kondisi seperti ini berpeluang untuk menumbuhkan bisnis-bisnis pendukung trend travelling keluar negeri. Namun yang perlu diperhatikan bagi pelaku start-up adalah diperlukannya kreativitas dalam memilih segmen. Jangan sampai keliru dalam memilih segmen dan justru malah berhadapan dengan pemain horizontal (consumer apps travel) yang sudah besar,” tutur Edward.

Edward mengungkapkan, tren bisnis startup yang fokus pada kebutuhan travel sangat menjanjikan.Khususnya di kalangan milenial yang menjadikan travelling sebagai lifestyle. Bisnis yang focus pada kebutuhan travel akan membuat ceruk pasar travel makin besar. Secara kompetisi, kolaborasi juga bias menjadi pilihan bagi pelaku start up. Pemain horizontal dengan layanan paling lengkap bias berkolaborasi dengan pemain niche agar tercipta layanan one-stop transaction portal. Inisiatif yang kreatif semacam ini sangat menarik, terutama bagi para investor.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)