Pelemahan Rupiah Berdampak Langsung pada 3 Emiten

PT Bahana Sekuritas mengungkapkan menilai pelemahan nilai tukar yang telah terjadi selama beberapa bulan terakhir ini, diperkirakan masih akan terjadi akibat tekanan global, dan berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan yang bahan bakunya masih mengandalkan impor dan memiliki utang dalam bentuk US$..

Meski intervensi telah dilakukan Bank Indonesia, pada penutupan perdagangan Jumat (27/7/) nilai tukar Rupiah masih ditutup melemah sekitar 6,0% terhadap US$. Beberapa emiten mengalami dampak signifikan di antaranya PT Indofood Sukses Makmur yang bahan baku anak usahanya seperti Bogasari dan Indofood CBP sukses Makmur masih mengandalkan impor gandum, ditambah lagi Indofood masih memiliki utang valas sebesar $587 juta dan utang Indofood CBP sebesar $57 juta.

Menurut Analis Bahana Sekuritas, Michael Setjoadi, setiap pelemahan 1% Rupiah, menggerus laba bersih Indofood CBP sebesar 1,7% dan 3.6% untuk Indofood Sukses Makmur. “Pada awal tahun, Bahana memperkirakan laba bersih Indofood Sukses Makmur (INDF) akan naik sekitar 5,5% atau mencapai Rp 4,40 triliun dari pencapaian tahun lalu sebesar Rp 4,17 triliun, ditopang oleh performa Indofood CBP yang diperkirakan akan tumbuh 10.1%,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima SWA Online (31/7/2018).

PT Mitra Adiperkasa juga akan mengalami tekanan karena sekitar 50% dari total barang yang dijual perseroan adalah impor dari Amerika, Eropa dan negara lainnya, sehingga sekitar 15-20% dari total biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh barang/jasa atau yang lebih dikenal dengan cost of goods sold (COGS) dalam denominasi US$.

Riset Bahana Sekuritas memperlihatkan setiap 1% pelemahan dolar, akan menggerus laba bersih perseroan berkode saham MAPI sebesar 2,8%. Perseroan baru akan menaikkan harga barang bila rupiah sudah menyentuh level sekitar Rp 15.000/$. Pada awal tahun Bahana memperkirakan laba bersih MAPI akan naik lebih 100% atau mencapai Rp 789 miliar pada akhir 2018, dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 335 miliar.

Produsen ayam PT Japfa Comfeed Indonesia juga masih mengandalkan impor untuk pakan ayam meski Japfa diuntungkan dengan perang dagang Amerika dan Cina yang membuat harga keledai turun. Berdasarkan riset Bahana sekitar 60% dari total COGS perseroan dalam denominasi dollar.

Perusahaan berkode saham JAPFA ini juga masih memiliki utang dalam bentuk surat hutang sebesar $250 juta meski sekitar 62,6% dari total hutang tersebut telah menggunakan hedging dikisaran Rp 13.300 - 16.600. Bahana memperkirakan setiap pelemahan 1% rupiah terhadap dolar, bakal menggerus laba bersih perseroan sebesar 6,5%.

Pada awal tahun Bahana Sekuritas memperkirakan laba bersih Japfa akan naik sekitar 87% atau mencapai Rp 1,87 triliun pada akhir 2018, dari pencapaian tahun lalu sebesar Rp 998 miliar.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)