Pembangunan Berkelanjutan Guna Pulihkan Dampak Pandemi Covid-19

Pemulihan dampak pandemi Covid-19 perlu menjadi perhatian serius. Tak hanya di sektor kesehatan namun pemulihan perlu juga mengedepankan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

WHO menyebut pandemi Corona menyebabkan sekitar 600 ribu orang yang meninggal dari 14 juta kasus sejak awal 2020 ini. Tak hanya itu, kontraksi pertumbuhan ekonomi dunia pun sebesar 5,2%, kira-kira tiga kali lipat dari tingkat penurunan selama resesi 2009 (Bank Dunia, 2020).

Menurut BPS jumlah penduduk miskin memang meningkat 1,63 juta orang pada Maret 2020, dibandingkan dengan September 2019. Sementara, tingkat pengangguran pada April-Mei 2020 meningkat menjadi 17%, dengan 15% di-PHK tanpa pesangon dan 2% dengan pesangon (LD-LIPI, 2020), 22,74% responden tidak bekerja dan 2,52% persen responden di-PHK.

Kepala Kajian Lingkungan LPEM FEB UI, Alin Halimatussadiah menjelaskan hasil kajiannya bahwa sektor-sektor terkait dengan sumber daya alam, seperti kehutanan, pertanian, peternakan terkena dampak kemiskinan yang parah akibat pandemi.

"Hasil studi ini mulai April (2020). Intinya melihat opportunities atau peluang SGD, pemulihan ekonomi akibat Covid-19," ujar Alin dalam diskusi virtual mengenai “Sustainable Economic Recovery in Indonesia: Opportunities & Challenges” Katadata (25/08/2020).

Menurut Alin, dalam pembangunan berkelanjutan penting adanya strategi, sepertu mengoptimalkan sektor-sektor ramah lingkungan. Selain itu, penanganan bisnis yang tepat juga bisa memberikan dampak positif bagi lingkungan dan tenaga kerja. “Jangan pesimis green sektor tidak atraktif, karena bisa meningkatkan tenaga kerja," tegasnya.

Di sisi lain, konsep kolaborasi ke depan juga bisa menjadi pamungkas agar pembangunan ekonomi berkelanjutan bisa terwujud. Dalam hal ini, Ia menegaskan agar sektor prioritas ditentukan dan manajemen ramah lingkungan dijalankan efektif. “Mengolah lebih sustainable. Sawit juga punya banyak PR. Jadi sektor penting," katanya.

Stafsus Menkeu, Masyita Crystallin mengamini itu. Ia pun mengingatkan agar konsep pembangunan pasca pandemi ini mesti menyeimbangkan konsep manusia dan lingkungan. Salah satu caranya melalui alokasi dana untuk pembangunan berkelanjutan.

"Sejak 2015 pemerintah mengeluarkan climate budget untuk environment dalam menurunkan gas rumah kaca. Dari sisi desentralisasi, kita mengeluarkan dana transfer ekologi, baik provinsi maupun kabupaten. Ada pula green sukuk dan lainnya," terangnya.

Kepala Ekonom PT Sarana Multi Infrastructure, I Kadek Dian Sutrisna Artha mengatakan desain pemulihan ekonomi nasional dan daerah memang perlu. Utamanya, yang berkaitan dengan ekonomi berkelanjutan. “Untuk tetap menjalankan counter circle policy (terkait ekonomi berkelanjutan)," tegasnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.d

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)