Pembangunan Infrastruktur dan SDM dalam Menangkap Peluang Besar di Indonesia

DBS Asian Insights Conference 2019

Gejolak perekonomian dunia yang disebabkan oleh ancaman perang dagang Amerika Serikat dan China berdampak besar terhadap perekonomian dunia. Prospek melambatnya perekonomian dunia pun membuat pasar saham dunia bergejolak, indeks S&P 500 turun 17% dari level tertingginya di September 2018.

Tidak hanya itu, Indeks MSCI juga turun 15% dari level tertinggi juga di bulan yang sama. Bahkan, International Monetary Fund (IMF) menyebut gejolak ekonomi dunia mulai memunculkan tanda-tanda akan datangnya krisis finansial. Indonesia memiliki pertumbuhan yang cukup baik di tengah dinamika perekonomian dunia di tahun 2018. Indonesia mampu tumbuh di kisaran 5%.

Hal ini juga bisa dilihat dari realisasi pendapatan negara mencapai 100% dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di akhir tahun 2018. Defisit APBN dianggap sehat, hingga akhir November 2018 mencapai Rp278 triliun atau 1,89% di bawah Produk Domestik Bruto (PDB), di mana angka ini di bawah target APBN sebesar 2,19%.

Inflasi pun terkendali. Hal ini dibenarkan oleh Sri Mulyani, Menteri Keuangan Republik Indonesia, ia menyatakan pada tahun lalu, pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup kuat karena didukung oleh konsumsi, investasi, dan belanja pemerintah.

“Kami mengharapkan momentum pada akhir tahun akan tetap berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi mendekati 5,15-5,17%. Di balik indikator pertumbuhan ekonomi, banyak sekali indikator pembangunan yang truly matters to the people,” ujar Sri.

Hal ini juga menekan tingkat kemiskinan di dalam negeri sepanjang sejarah Indonesia. “For the first time, single digit poverty rate yang sekarang turun menjadi 9,66% dari 9,8% pada Maret 2018,” tambah Sri di DBS Asian Insights Conference, 31 Januari 2018.

Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesia menambahkan, selain pertumbuhan ekonomi yang meningkat dan tingkat kemiskinan yang menurun, laju inflasi Indonesia dinilai sudah cukup baik sampai akhir tahun 2018. Hal ini terbukti dari tingkat inflasi yang berada di bawah 3%.

“Kalau kita manage dengan baik, ekonomi kita akan membaik sampai 2023. Kita harus optimistis terhadap kondisi ekonomi kita saat ini, karena kita bisa menahan inflasi di bawah 3%. Tidak akan ada ancaman yang berarti dalam 10-15 tahun ke depan. Untuk itu, kita fokus untuk membangun infrastruktur dan sumber daya manusia mulai dari sekarang,” imbuhnya.

Senada dengan itu, Chief Economist DBS Bank Ltd. Taimur Baig mengungkapkan, strategi yang dapat dilakukan oleh Indonesia dalam memaksimalkan peluang di tahun 2019. “Di tengah pengaruh eksternal seperti ancaman perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok dan keputusan The Feds, serta pengaruh faktor internal di mana akan ada pemilihan umum, Indonesia harus fokus pada permintaan domestik. Apabila permintaan domestik terdapat peningkatan, maka di sinilah terdapat peluang bagi Indonesia.” tegasnya.

Taimur pun memberi catatan bahwa hal ini bukan berarti permintaan eksternal seperti ekspor, impor, manufaktur dan tambang tidak penting. Indonesia memiliki populasi yang besar yang didominasi oleh generasi muda yang dinamis. Banyaknya jumlah bisnis baru, startup, di Indonesia menjadi salah satu daya tarik Indonesia di mata dunia. Melalui permintaan domestik saja, Indonesia dapat tumbuh di angka 4-5%.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)