Pembelian Bahan Masakan Melalui Online Meningkat 12%

sumber : Freepik

Pandemi Covid-19 berdampak pada segala aspek, termasuk adanya pembatasan aktivitas di luar rumah. Hal ini tentunya mengubah pola kehidupan di rumah , seperti aktivitas memasak.

Wahyu Soleh, Senior Analyst Qasa Strategic Consulting menyebutkan di tengah pandemc ini konsumen Indonesia menyebutkan 83% semakin sering memasak di rumah dengan frekuensi 2 kali hingga 3 kali memasak. Tidak hanya dengan aktivitas memasak tetapi juga pembelian bahan masakan juga menunjukkan peningkatan pembelian online sampai dengan 12%.

Menurutnya, sebagian konsumen Indonesia masih percaya akan pulihnya stabilitas ekonomi nasional, sehingga peningkatan. Walaupun begitu konsumen tetap berjaga-jaga dalam mengeluarkan uangnya, dimana sebagian besar lebih memilih meningkatkan pengeluarannya terhadap makanan dibandingkan dengan barang-barang seperti aksesori, baju, sepatu dan barang elektronik. Peningkatan pengeluaran terhadap makanan menunjukkan sebanyak 65% dengan setengahnya meningkatkan sebanyak 20% dari pengeluaran sebelum pandemi.

Dengan kondisi Covid-19, konsumen dipaksa untuk mengubah kebiasaan belanja secara tradisional menjadi online. Online platform yang sebagian besar digunakan oleh konsumen yaitu social media (Whatsapp / Instagram) hingga 35%, sedangkan online marketplace seperti shopee hanya 20% dan Tokopedia 11%. Platform tersebut dipilih karena kemudahan yang ditawarkan dan juga delivery yang cepat.

Barrier dari online grocery di mata konsumen Indonesia tetap pada bahan makanan fresh. Dimana shelf life bahan makanan fresh rendah dan tingkat kepercayaan terhadap distribusi belum begitu tinggi. Maka ketertarikan konsumen terhadap bahan makanan fresh seperti daging, ikan dan sayur masih rendah di angka 13%. Lain halnya dengan bumbu masakan jadi dan frozen food pada angka masing-masing 19% dan 26%.

Dari survei yang dilakukan Qasa Strategic Consulting dan ResepKoki pada juni lalu, pihknya melakukan perhitungan penggunaan juga awareness terhadap 3 segmen produk yaitu penyedap rasa, minyak goreng, dan sosis dengan jumlah responden total sebanyak 524. Responden berasal dari Jabodetabek, Surabaya, Medan, Makassar, dan Bandung. Penggunaan dapat dilihat berdasarkan merek yang saat ini digunakan. Awareness yang diukur dari merek yang pertama kali terpikir oleh responden atau top of mind ditambah dengan aided awareness sebagai total awareness. Sedangkan dari sisi segmen kita menunjukkan penggunaan dan awareness berdasarkan top 5 brand.

Berdasarkan segmen penyedap rasa, Royco menunjukkan total awareness terbesar yaitu 93% lalu diikuti oleh Sasa sebesar 91%, Masako sebesar 85%, Ajinomoto sebesar 78%, dan Miwon sebesar 72%. Sedangkan dari sisi top of mind, Royco menempati posisi pertama lalu diikuti oleh Sasa kedua dan Masako ketiga dengan nilai masing-masing sebesar 48%, 20% dan 15%. Lalu ajinomoto menempati urutan ke 4 dengan nilai sebesar 2%. Dari sisi Penggunaan, dari total responden 524 penggunaan Royco sebagai penyedap rasa menjadi yang nomor 1 yaitu sebanyak 41% diikuti oleh Sasa dan Masako dengan persentase jumlah yang sama yaitu 15%, lalu diikuti oleh Ajinomoto dan Miwon dengan nilai masing-masing sebesar 4% dan 2%. Berdasarkan segmen sosis, So good menunjukkan total awareness terbesar yaitu 74% lalu diikuti oleh So nice dan Kimbo dengan nilai sebesar 72%, Champ sebesar 69%, dan Kanzler sebesar 26%. Sedangkan dari sisi top of mind, Champ menempati urutan pertama dengan nilai sebesar 26% diikuti oleh so nice 22%, lalu So good dengan nilai 7% serta Kimbo dan Kanzler dengan nilai 6%. Begitu juga dari sisi penggunaan, Champ di urutan pertama dengan nilai penggunaan sebesar 31%, lalu diikuti oleh So Good dengan penggunaan 17% setelah itu so nice dan kanzler dengan nilai sebesar 13%, sedangkan Kimbo bernilai 11%.

Sementara berdasarkan segmen minyak goreng, Bimoli menunjukkan total awareness terbesar yaitu 91% lalu diikuti oleh Tropical sebesar 85%, Sania sebesar 83%, Filma sebesar 81%, dan Sunco sebesar 76%. Sedangkan dari sisi top of mind, Bimoli mendominasi segmen minyak goreng dengan nilai sebesar 57%, lalu diikuti oleh Tropical sebesar 17%, Sania dan Sunco sebesar 7% serta Filma sebesar 6%. Tetapi berbeda dengan top of mind, pada penggunaannya pada segmen minyak goreng posisi pertama dan kedua ada pada Bimoli dan Tropical dengan nilai masing-masing sebesar 33% dan 30%, Lalu diikuti oleh Sunco sebesar 13%, Sania sebesar 9%, dan Filma sebesar 6%.

Data berikut diolah dari sebaran lintas 3 generasi yaitu baby boomers, millenial dan gen Z dengan komposisi 41%, 48 dan 11%. Penyebaran responden berdasarkan lokasi di kota-kota besar di Indonesia serta sebaran kelas ekonomi rendah, menengah dan tinggi dengan komposisi 15%, 30%, 22% dengan jumlah 524 responden.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)