Pemberdayaan Desa ala Rumah Zakat

Nur Efendi, CEO RZ.Rumah Zakat (RZ) merupakan salah satu lembaga amil zakat, infak, dan sedekah (LAZIS) terkemuka di Indonesia. Namun, lembaga ini punya satu pendekatan istimewa dalam pola penyaluran dananya, yakni tidak lagi berpola karitas, tetapi sudah menggunakan pendekatan pemberdayaan masyarakat secara terintegrasi. “Sejatinya, pemberdayaan adalah pengembangan kapasitas manusia seutuhnya,” kata Nur Efendi, CEO RZ.

Nur menjelaskan bahwa program pemberdayaan terintegrasi sesungguhnya adalah proses intervensi kewilayahan dengan berbagai jenis program sesuai dengan kondisi permasalahan pada wilayah yang bersangkutan. Targetnya adalah perbaikan kondisi masyarakat dalam satu wilayah dan perbaikan perilaku masyarakat itu sendiri, dengan proses pendampingan secara berkelanjutan. Untuk melaksanakannya, RZ memang didukung tenaga relawan pendamping khusus, yang disebut Relawan Inspirasi, yang merupakan tokoh lokal di desa yang diberdayakan, misalnya kepala desa, ketua koperasi, ketua paguyuban, atau tokoh lainnya, baik formal maupun nonformal.

Menurut Nur, sebelum fokus pada program intervensi kewilayahan ini, RZ punya sejarah panjang dalam 20 tahun kiprahnya menyalurkan dana ZIS ini. Pada rentang 1998-2006, pola penyaluran RZ masih bersifat karitas. Lalu, dari 2007 hingga 2013, RZ menerapkan pola penyaluran dana berbasis kewilayahan yang disebut Integrated Community Development. Lalu, sejak 2014, RZ menggeser perhatian pemberdayaannya, tidak hanya di wilayah perkotaan, tetapi ke arah pemberdayaan desa. “Pada 2014 inilah RZ meluncurkan program dengan nama Desa Berdaya,” ujarnya.

Pihak RZ berharap program pemberdayaan desa ini bisa melibatkan sumber daya mikro di desa-desa. Selain itu, program ini juga diharapkan bisa melibatkan para donatur, baik perseorangan, komunitas, maupun korporat. Donasinya pun bisa berupa materi atau dukungan lainnya, misalnya menjadi tenaga ahli atau relawan.

Jenis program pemberdayaannya cukup lengkap, terdari dari Senyum Sehat (bidang kesehatan), Senyum Juara (bidang pendidikan), Senyum Lestari (bidang lingkungan), Senyum Mandiri (bidang ekonomi), serta Capacity Building (pembinaan manusia). Sebagai contoh, pada bidang kesehatan, ada program Siaga Posyandu, Kebun Gizi, Sanitasi Sehat, Peduli Kesehatan Remaja, dan Ramah Lansia. Indikator keberdayaannya adalah terdapat Posyandu dan Posbindu yang aktif terlibat dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Lalu, di bidang ekonomi ada program Kewirausahaan Dasar dan Lanjutan, Program Peternak & Petani Berdaya, serta Bank Sampah. Indikator keberdayaannya terdapat koperasi, arisan kelompok, atau BUMMas yang aktif.

Begitu juga ada indikator keberdayaan individual. Misalnya, pada aspek ekonomi, terjadi transformasi dari posisi mustahiq (yang menerima dana ZIS) menjadi muzakki (yang mampu mengeluarkan ZIS). Lalu, dari segi pendidikan, individu tersebut jadi memiliki keterampilan kejuruan (vocational skills), dan sebagainya.

Karena tak sesederhana program karitas, RZ menyiapkan Tim Pemberdayaan secara serius, di tingkat pusat, cabang, hingga di tingkat Desa Berdaya itu sendiri. Di tingkat pusat, anggota tim yang disiapkan harus punya kemampuan berpikir konseptual dan harus bisa menjalankan proses monitoring. Di tingkat cabang, anggota tim harus bisa mengelola program-program yang telah ditetapkan atas arahan dari kantor pusat dan masukan dari orang-orang di lapangan. Adapun di tingkat desa, SDM yang dipilih harus bisa menjalankan program-program yang telah ditetapkan. Menurut Nur, karena donasi yang dikelola RZ sebagian berasal dari akad zakat, diharapkan SDM di tingkat desa ini selain memiliki kemampuan memberdayakan juga punya kapasitas sebagai seorang mubaligh (penceramah atau pengajar).

Adapun desa yang dipilih sebagai target program adalah desa yang masuk kategori “Desa Miskin” berdasarkan klasifikasi Indeks Desa Membangun. Tentu saja, program pemberdayaan ini disesuaikan dengan program kerja dan cakupan wilayah kerja RZ. Program ini juga disesuaikan dengan kemampuan RZ dalam melakukan program intervensi ini, minimal dalam kurun dua tahun.

Cakupan program Desa Berdaya tersebut tersebar di 30 provinsi, di 207 kota/kabupaten. Dari mulai digulirkan, sudah ada sekitar 7,5 juta orang yang telah memperoleh manfaatnya. Menurut data RZ, komposisinya terdiri dari 4.457.921 penerima manfaat Senyum Sehat, 2.927.102 penerima manfaat Senyum Lestari, 140.008 penerima manfaat Senyum Juara, dan 9.341 penerima manfaat Senyum Mandiri. Adapun total dana yang telah disalurkan untuk program pemberdayaan terintegrasi ini pada 2017 mencapai Rp 213,98 miliar, meningkat dari tahun 2016 yang sebesar Rp 200,247 miliar.

Pada 2018, ditargetkan ada 1.234 desa yang bisa diberdayakan. Target ini tampaknya akan tercapai, karena hingga Juni 2018, menurut Nur, sudah ada 1.194 desa yang diberdayakan.

Nur mengklaim, setelah ada program pemberdayaan ini sudah ada sejumlah kemajuan yang dicapai. Misalnya, dari aspek ekonomi terjadi peningkatan jumlah masyarakat yang berhasil keluar dari garis kemiskinan.

Menariknya, berdasarkan infografis RZ, kaum perempuan memegang peranan signifikan dalam program pemberdayaan ini. Kontribusi rata-rata pelaku UMKM perempuan terhadap penghasilan keluarga mencapai 76%. Berkat peranan mereka pula, tujuh dari sepuluh keluarga peserta program mampu keluar dari kondisi miskin.

Namun, Nur mengakui masih ada tantangan dalam menjalankan program ini, terutama dari kalangan masyarakat sendiri, yang tidak semuanya terdorong untuk mengikuti upaya pemberdayaan ini. “Solusi kami adalah terus intens melakukan pendampingan,” ujarnya.

Pada 2023, atau lima tahun ke depan, target RZ bersama pemerintah akan lebih besar lagi, yakni bisa memberdayakan 5.323 desa, mulai dari Aceh sampai Papua. “Kami yakin, memberdayakan desa sama dengan memberdayakan Indonesia,” kata Nur. (*)

Joko Sugiarsono/Chandra Maulana

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)